Rabu, 11 Juli 2012

47. Tiga Dimensi Kurban


Khutbah Idul Adha Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurul Huda
Jorong Balai Pandan Nagari Cupak
Kecamatan Gunung Talang
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 06 Nopember 2011

Allahu Akbar ...............9 x Allahu Akbar Walillahilham

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،:

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilham
Hadirin jama'ah Idul Adha yang dirahmati Allah

Puji syukur kita sanjungkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan Taufiq dan Hidayah-Nya kepada kita sehingga kita masih dapat menikmati kehidupan dalam iman dan islam, shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw, sebagai nabi dan Rasul yang diamanatkan untuk membimbing ummat manusia agar selamat hidupnya di dunia hingga akherat, beliau sebagai teladan dan pimpinan kita dalam menapaki kehidupan ini. Kemudian marilah kita meningkatkan kualitas iman dan taqwa kepada Allah SWT sebagai bekal terbaik memasuki kehidupan akherat kelak, banyak sarana yang dapat menaikkan poltase iman kita diantaranya dari satu shalat ke shalat berikutnya, dari satu Ramadhan ke Ramadhan yang lain, dari satu ibadah kurban kepada ibadah kurban selanjutnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilham
Hadirin jama'ah Idul Adha yang dirahmati Allah

Contoh puncak kebahagiaan seorang manusia tauhid, yang bersedia berkurban untuk mencapai derajat taqwa adalah Nabi Ibrahim As, beliau bersedia dengan rasa tulus ikhlas mengurbankan Ismail As putra yang dicintainya, jika memang hal itu merupakan perintah Allah, tetapi Allah yang Maha Bijaksana hanya menguji kepasrahan, ketaatan dan ketaqwaan Ibrahim. Dan Nabi Ismailpun diuji ketaatan dan kesabarannya.

Di bawah ini akan diinformasikan dialog Nabi Ibrahim AS dengan anak sulungnya, yaitu dalam Ash Shaffaat 37;102):
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu.
Maka fikirkanlah apa pendapatmu
ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Inilah kampanye dialogis yang menghasilkan kesepakatan kesediaan melaksanakan perintah Allah dengan sikap disiplin berasaskan keikhlasan. Kalaulah Ibrahim melakukan penyembelihan itu tanpa mengabarkan terlebih dahulu kepada Ismail maka selesailah tugas yang diamanatkan Allah kepadanya, tapi dia tidak mau peristiwa itu tanpa keterlibatan Ismail, diapun memberikan didikan kepada anaknya bahwa tugas besar itu harus juga diikuti oleh sang anak, disini tergambar bahwa orangtua tidak boleh melakukan semua peran kehidupan ini walaupun dia mampu, peran kehidupan itu juga harus dibagikan kepada anak-anak muda sebagai generasi yang akan datang.
Peran untuk anak muda dari orangtua diantaranya; menggembalakan kambing, membawa berdagang, mengajak anak ke sawah atau ke ladang atau tugas-tugas lainnya.

Jawaban Ismail adalah jawaban seorang anak yang patuh kepada ketentuan Allah, dia tidak memastikan dirinya bisa berlaku sabar, tapi semuanya itu dengan izin Allah. Karena kesabaran itu sikap pribadi seseorang yang diberi hidayah oleh Allah, manusia hanya makhluk yang segala sesuatunya dibawah kekuasaan-Nya, itulah jawaban yang tepat dari Ismail dengan kalimat "Insya Allah". Lalu buat apa Allah menggantikan Ismail dengan bi dzibhin 'atzhiem seekor binatang sembelihan yang besar.
Bagi Allah tidak ada masalah, Dia Maha Kuasa, Bagi Nabi Ibrahim AS sudah ilkhlas menyembelih dan Ismail juga sudah ikhlas disembelih. Yaitu untuk memberikan penekanan, penggaris bawahan, perbedaan antara agama-agama kebudayaan penyembah berhala dan dewa-dewa dengan agama wahyu, tidak boleh menyembelih, membunuh manusia. Upacara kurban bukanlah suatu yang sakral (sacrifice), bukanlah suatu sesajen (offering].

Apakah daging kurban itu dapat meredakan murka Tuhan? Apakah Tuhan berhajat kepada daging kurban itu?
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilham
Hadirin jama'ah Idul Adha yang dirahmati Allah
Apakah darah kurban yang mengalir itu sesuatu yang sakral, dapat mensucikan kembali manusia dari dosa? Apakah binatang kurban itu untuk kendaraan yang berkurban di hari kemudian kelak? Untuk itu marilah kita baca firman Allah dalam S. Al Hajj 22; 36, 37, yang artinya:

" Dan Telah kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya
Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan Telah terikat).
Kemudian apabila Telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.
Demikianlah kami Telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah,
tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.
Demikianlah Allah Telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu
dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Jadi menurut Al Quran, daging dan darah tidak ada relevansinya dengan upacara kurban. Ajaran Islam menolak pemahaman kurban sebagai persembahan atau sesajen (offering), dan juga menolak pemahaman kurban sebagai pembasuh dan penebus dosa yang sakral sifatnya (sacrifice), tegasnya ajaran Islam menolak pengertian kurban sebagai persembahan yang sakral. Juga tidak benar bahwa binatang kurban akan menjadi kendaraan di hari kemudian.

Kurban harus diresapkan artinya menurut rasa bahasa asalnya yaitu bahasa Al Quran, yang dibentuk oleh 3 huruf Qaf, Ra, Ba, qarraba, artinya mendekatkan diri (kepada Allah SWT). Dalam S. Al Maidah 27 terdapat ungkapan Qarraba Qurba-nan, yang artinya mendekatkan diri dengan berkurban. Jadi upacara kurban adalah menyembelih binatang, dagingnya untuk dimakan sendiri dan dimakan oleh fakir miskin sebagai fungsi sosial, darahnya dibuang, tidak boleh dimakan karena najis, jadi sangat jauh dari sakral. Dan arti spiritualnya adalah mendekatkan diri, taqarrub kepada Allah SWT sebagai tanda berbakti kepadaNya, melaksanakan perintahnya dengan semangat taqwa. Demikianlah, menurut bahasa asalnya, yaitu bahasa Al Quran, berkurban bermakna mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memberikan yang berkwalitas kepada orang lain sebagai realisasi taqwa. [ Makassar, 14 Juni 1992 'H.Muh.Nur Abdurrahman].
Al Maidah 5; 27

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban,
Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).
ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".

Agama Islam adalah agama yang menganjurkan dengan tegas agar pemeluknya suka berqurban dalam arti yang seluas-luasnya. Al Qur’an mendorong ummat islam untuk menanamkan watak kesediaan untuk senantiasa mengurbankan sebagian kepentingan kita, sebagian rezeki kita, sebagian kelonggaran kita untuk sesama manusia.

Hadis riwayat Jundab bin Sufyan ra., ia berkata:
Aku pernah berhari raya kurban bersama Rasulullah saw. Beliau sejenak sebelum menyelesaikan salat. Dan ketika beliau telah menyelesaikan salat, beliau mengucapkan salam. Tiba-tiba beliau melihat hewan kurban sudah disembelih sebelum beliau menyelesaikan salatnya. Lalu beliau bersabda: Barang siapa telah menyembelih hewan kurbannya sebelum salat (salat Idul Adha), maka hendaklah ia menyembelih hewan lain sebagai gantinya. Dan barang siapa belum menyembelih, hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah. (Shahih Muslim ]

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Nabi saw. berkurban dengan dua ekor kibas berwarna putih agak kehitam-hitaman yang bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, seraya menyebut asma Allah dan bertakbir (bismillahi Allahu akbar). Beliau meletakkan kaki beliau di atas belikat kedua kambing itu (ketika hendak menyembelih). (Shahih Muslim )

Kurban selain ujud ketaatan kepada Allah, dia juga merupakan ujud syukur seorang hamba atas nikmat yang sudah diterima dari Allah, diantara realisasinya adalah shalat dan kurban;
"Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. [Al Kautsar 108;1-2]

Kurban merupakan implikasi dari nikmat-nikmat Allah yang sudah diterima seorang hamba, artinya pahalanya ada dua dimensi, sebelum berkurban sudah lebih dahulu menerima pahala berupa kenikmatan dunia , hanya manusia penerima nikmat itu yang mengerti sudah berapa banyak nikmat dunia dia terima, sehingga dari itu semua dia juga ujudkan dengan kurban untuk mengejar pahala yang lebih besar lagi yang berdimensi akherat, ukuran pahalanya kata Rasulullah sebanyak bulu domba yang disembelih itu.

Keshalihan Sosial
Boleh bergabung dalam melaksanakan kurban. Karena Nabi saw ketika menyembelih kurban mengucapkan: "Bismillah, Wallahu Akbar, Ya Allah terimalah (qurban) ini dari Muhammad, dan dari keluarga Muhammad, dan dari ummat Muhammad" (HR. Muslim). Yang dilakukan para sahabat Nabi saw adalah sapi satu untuk tujuh orang (HR. Muslim).

Islam adalah rahmat bagi semesta. Banyak di antara umat Islam yang ingin berkurban tapi terbentur dengan harga hewan yang mahal. Karena itu dibolehkan untuk berpatungan. Selain itu akan terasa nilai ukhuwahnya. Rasulullah saw bersabda, "Sayangilah oleh kamu sekalian sesama manusia yang ada di muka bumi ini, maka pasti yang diatas langit akan menyayangi kamu."
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Hamzah Yaqkub mengatakan bahwa kurban itu mempunyai tiga dimensi yaitu;
1. Dimensi Aqidah, semua hewan yang ada di dunia ini tidak ada yang disucikan, semuanya sesuai dengan syariat dapat disembelih dan dimakan dagingnya.
2. Dimensi Ibadah, kurban dalam rangka beribadah kepada Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
3. Dimensi Sosial, pada pelaksanaan kurban terdapat dimensi social yaitu memperhatikan masyarakat sekitarnya.

Termasuk dalam hal ibadah haji, andaikata Rasulullah masih hidup detik ini maka dia sangat marah kepada ummat islam yang menunaikan ibadah haji bekali-kali, wajibnya menunaikan ibadah haji bagi yang mampu hanya sekali seumur hidup, yang memperoleh haji mabrur pahalanya besar yaitu syurga, sedangkan ibadah haji yang dilakukan kedua dan ketiga pahalanya sangat kecil karena masih banyak kepentingan ummat islam secara social yang perlu dibiayai.

Rasulullah adalah murabbi atau dosen yang mengajar ratusan para pemuda dan pemuka masyarakat, menuntut ilmu di Madinah bersama Nabi, mereka tinggal di Masjid, pakaian mereka diletakkan di suffah sehingga mereka disebut dengan ahlus suffah. Rasulullah menyatakan kepada sahabatnya, barangsiapa yang pula harta lebih, ambillah dua atau tiga penuntut ilmu ini beri mereka bea siswa, bahkan Rasulullah setiap tahun memberikan bea siswa kepada 70 orang ahli suffah itu.[TV One, Sabtu 5 November 2011, jam 18.30].

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilham
Hadirin jama'ah Idul Adha yang dirahmati Allah

Waktu Penyembelihan Hewan Kurban
Waktu menyembelih Qurban ialah hari Nahar, dimulai sesudah salat Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah). Firman Allah SWT, "Supaya mereka menyaksikan berbagai perkara yang mendatangkan faedah kepada mereka dan menyebut nama Allah, pada hari-hari yang tertentu, karena rizkiNya kepada mereka dengan binatang-binatang ternak (untuk dijadikan qurban)," (QS. Al-Hajj: 28).

Dari Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa yang menyembelih sebelum salat 'Id maka sesungguhnya dia telah menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang menyembelih sesudah shalat maka dia telah menyempurnakan ibadah (qurban)-nya dan telah melaksanakan sunnah kaum muslimin" (HR al-Bukhari).

Dari Jubair bin Muth'im dari Nabi saw bersabda: "Semua hari tasyriq (tanggal 11 sampai 13 Dzulhijjah) adalah waktu menyembelih qurban" (HR Ahmad).

Ketentuan Binatang Kurba
Umat Islam selalu berusaha memberi yang terbaik untuk agamanya. Rasulullah saw bersabda: "Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan kurban: 1. Yang rusak matanya 2. Yang sakit 3. Yang pincang 4. Yang kurus tidak berlemak" (HR. Ahmad).

Umur ternak Kurban diusahakan: Kambing/domba yang telah berumur satu tahun atau sudah berganti giginya. Sapi/kerbau yang berumur dua tahun lebih.

Rasulullah saw bersabda: "Janganlah kamu menyembelih qurban kecuali yang musinnah (telah berganti gigi). Jika sukar didapati, maka boleh jadza'ah (yang baru berumur satu tahun lebih) dari biri-biri" (HR Muslim)

Pembagian Daging Kurban
Pembagian daging kurban: sebagian dimakan untuk keluarga yang berqurban, sebagian disedekahkan dan sebagian diberikan kepada teman, sahabat dan orang-orang yang tidak minta. Firman Allah SWT, "Makanlah sebahagian daripadanya, dan berilah (bahagian yang lain) kepada orang-orang yang tidak meminta dan yang meminta," (QS al-Hajj:36).
Dari 'Aisyah ra berkata: Rasulullah saw bersabda tentang makan daging qurban: "...Maka makanlah, simpanlah dan sedekahkanlah" (HR Al-Bukhari dan Muslim). Rela Berqurban Ciri Insan Bertakwa Sabtu, republika online,16 Oktober 2010 01:18]

Menjual kulit binatang kurban
Mengumpulkan dan menjual kulit hewan kurban untuk kepentingan madrasah dan mushala biasanya kerap dilakukan panitia kurban. Secara sengaja, kulit hewan kurban tak dibagikan kepada mustahik (orang yang berhak atas kulit tersebut), namun dikelola panitia kurban untuk dijual dan uangnya digunakan bagi kepentingan umat.Kebiasaan itu pun sering mengundang pertanyaan, bolehkah hal itu dilakukan?

Masalah itu telah disampaikan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa'id, "Bahwa Qatadah Ibnu Nu'man memberitakan bahwa Nabi SAW berdiri seraya bersabda, 'Dulu saya memerintahkan kepada kamu sekalian agar kamu tidak makan daging kurban lebih dari tiga hari, untuk memberi kelonggaran kepadamu'."

"Dan sekarang saya membolehkan kepada kamu sekalian, maka makanlah sekehendakmu; jangan kalian jualdaging dam dan daging kurban. Makanlah dan sedekahkanlah serta gunakanlah kulitnya dan jangan kalian menjualnya. Sekalipun sebagian daging itu kamu berikan untuk dimakan orang lain, namun makanlah apa yang kalian sukai." [HR Ahmad].
Para ulama Muhammadiyah memutuskan, hasil penjualan kulit hewan kurban pun dapat digunakan untuk kepentingan umat, namun hal seperti ini dapat dilakukan setelah hak-hak fakir-miskin telah terpenuhi.

Berbeda dengan Muhammadiyah, ulama NU dengan tegas menyatakan, menjual kulit hewan kurban tidak boleh dilakukan, kecuali oleh mustahiknya yang fakir miskin. Sedangkan bagi mustahik yang kaya, menurut pendapat yang mu'tamad tak boleh. Ulama NU menyandarkan keputusan itu dari kitab Al-Mauhibah, jilid IV, halaman 697. "Tak boleh menjual bagian apa pun dari binatang kurban sunah, walaupun hanya kulitnya, sesuai hadis: 'Barang siapa yang menjual kulit binatang kurban, maka ia tak memperoleh kurban apa pun'." (HR Bukhari).[Menjual Kulit Hewan Kurban, Apa Hukumnya?,Republika,co.id,Sabtu, 13 November 2010, 01:56 WIB].

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ ِليْ وَ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA
Allahu Akbar ...............7 x Allahu Akbar Walillahilham
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. أَمَّا بَعْدُ؛
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar