Selasa, 22 Juli 2014

127. Beberapa kesalahan orang yang puasa





 
Khutbah Jum'at
Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurut Taufiq
Jorong Panyalai Nagari Cupak
Kecamatan Gunung Talang
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 25 Juli  2014.M / 27 Ramadhan 1435.H


BEBERAPA KESALAHAN ORANG YANG PUASA


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَحْمُوْدِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، اَلْمَوْصُوْفِ بِصِفَاتِ الْجَلاَلِ وَالْكَمَالِ، الْمَعْرُوْفِ بِمَزِيْدِ اْلإِنْعَامِ وَاْلإِفْضَالِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَاَنَهُ وَهُوَ الْمَحْمُوْدُ عَلَى كُلِّ حَالٍ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
أَمَّابَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Ma'asyirolMusliminrahimakumullah ...

Pertama sekali kita sanjungkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang telah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepada kita semua sehingga kita masih dapat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan tahun ini, semoga ibadah puasa yang kita lakukan sekian hari akan dibalas pahala disisi-Nya, dan kita juga diberi kemampuan untuk menyelesaikan ibadah puasa selanjutnya. Semoga kita dapat menjadikan Ramadhan ini manjadi tahun terakhir bagi kita agar kita memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yang telah mengorbankan segala potensi hidupnya untuk menyelamatkan ummat manusia di dunia ini, kita dituntut untuk meneladani beliau dalam seluruh asfek kehidupan karena beliaulah teladan abadi sepanjang sejarah kehidupan ini.  Suatu kewajiban bagi kita untuk meningkatkan iman hingga mencapai derajat taqwa dan menambah ibadah sehari-hari  sehingga aktivitas yang dilakukan selalu berorientasi mencari ridha Allah.

Ma'asyirolMusliminrahimakumullah ...


            Kewajiban untuk melakukan ibadah puasa digambarkan Allah dalam surat Al Baqarah 2;183

”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Allah berfirman yang ditujukankepada orang-orang berimandariumatini, serayamenyuruhmereka agar berpuasa.Yaitumenahandarimakan, minumdanbersenggamadenganniatikhlaskarena Allah Ta'ala.Karena di dalamnyaterdapatpenyuciandanpembersihanjiwa, jugamenjernihkannyadaripikiran-pikiran yang burukdanakhlak yang rendah.
Allah menyebutkan, di sampingmewajibkanatasumatini, hai yang samajugatelahdiwajibkanatas orang-orang terdahulusebelummereka. Dari sanalahmerekamendapatteladan.Maka, hendaknyamerekaberusahamenjalankankewajibaninisecaralebihsempurnadibandingdenganapa yang telahmerekakerjakan.
Lalu, Diamemberikanalasandiwajibkannyapuasatersebutdenganmenjelaskanmanfaatnya yang besardanhikmahnya yang tinggi.Yaitu agar orang yang berpuasamempersiapkandiriuntukbertaqwakepada Allah, Yaknidenganmeninggalkannafsudankesenangan yang dibolehkan, semata-matauntukmentaatiperintah Allah danmengharapkanpahala di sisi-Nya.Agar orang berimantermasukmereka yang bertaqwakepada Allah, taatkepadasemuaperintah-Nya sertamenjauhilarangan-larangandansegala yang diharamkan-Nya. (TafsirAyaatulAhkaam, oleh Ash Shabuni, I/192.) 

Ma'asyirolMusliminrahimakumullah ...
Shaumataupuasasecarabahasabermaknaal-imsakataumenahandiridarisesuatusepertimenahandiridarimakanatauberbicara.Maknashaumsepertiinidipakaidalamayat ke-26 surat Maryam.
“Makamakan, minumdanbersenanghatilahkamu.jikakamumelihatseorangmanusia, MakaKatakanlah: "SesungguhnyaakutelahbernazarberpuasauntukTuhanyang Mahapemurah, Makaakutidakakanberbicaradenganseorangmanusiapunpadahariini".

Ma'asyirolMusliminrahimakumullah ...

Sedangkansecaraistilah, shaumadalahmenahandaridariduajalansyahwat, mulutdankemaluan, danhal-hal lain yang dapatmembatalkanpahalapuasamulaidariterbitfajarsampaiterbenammatahari.

KeutamaanBulanRamadhan
Dari IbnuMas’ud, Rasulullah saw. bersabda, “PenghulunyabulanadalahbulanRamadhandanpenghulunyahariadalahhariJum’at.” (Thabrani)

Rasulullah saw. bersabda, ” Kalausajamanusiatahuapa yang terdapatpadabulanRamadhan, pastilahmerekaberharapRamadhanituselamasatutahun.” (Thabrani, IbnuKhuzaimah, danBaihaqi)

Dari Abu Hurairahr.a., Rasulullah saw. bersabda, “Apabiladatangbulanpuasa, dibukapintu-pintusurgadanditutuppintu-pintuneraka.” (Bukharidan Muslim)

Rasulullah saw. jugabersabda, “ApabiladatangmalampertamabulanRamadhan, para setandanjinkafirakandibelenggu. Semuapintunerakaditutupsehinggatidakadasatupintu pun yang terbuka; dandibukapintu-pintusurgasehinggatidakadasatu pun yang tertutup.Laluterdengarasuaraseruan, “Wahaipencarikebaikan, datanglah!Wahaipencarikejahatan, kurangkanlah.Padamalamituada orang-orang yang dibebaskandarineraka.Dan yang demikianituterjadipadasetiapmalam.” (TirmidzidanIbnuMajah)

Ma'asyirolMusliminrahimakumullah ...

DalammenjalankanibadahRamadhanadabeberapakekeliruandankesalahan yang harusdihindari agar ibadahpuasakitaitu optimal danberbuahpahala di sisi Allah, diantaranya;

Pertama; keseriusan ibadah hanya di bulan Ramadhan.
Seorang mukmin dalam beribadah sebenarnya tidak kenal musim, bulan atau hari apapun dia harus beribadah, tapi dalam bulan ini Allah hanya memberi ransangan yang luar biasa dan pahala yang berbeda dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain, seperti memberi makan orang yang berbuka sama pahalanya dengan orang yang puasa, ibadah sunnah yang dikerjakan sama nilainya dengan ibadah wajib, bagi yang mendapat malam qadar akan bernilai ibadahnya 1000 bulan, sehingga wajar bila Rasulullah menyatakan dalam sabdanya,”Kalau sekiranya ummatku mengetahui kebaikan di bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar supaya tahun semuanya menjadi Ramadhan, karena semua kebaikan berkumpul padanya, ketaatan bisa diterima, do’a dikabulkan, dosa diampuni dan syurga rindu kepada mereka”.

            Ibadah harus dilakukan setiap waktu, bukan hanya dalam bulan Ramadhan saja;
1.      Kalau shalat subuh di Ramadhan ramai maka ramai pula hendaknya di luar Ramadhan.
2.      Bila shalat taraweh dan witir  dikerjakan dalam bulan Ramadhan, maka kerjakan pula diluar bulan Ramadhan.
3.      Bila membaca Al Qur’an dilakukan dalam bulan Ramadhan, maka lakukan pula di luar bulan Ramadhan.
4.      Kalau infaq dan shadaqah ditunaikan dalam bulan Ramadhan maka keluarkan pula infaq selain bulan Ramadhan.
5.      Kalau puasa pada bulan Ramadhan maka lakukan pula puasa pada bulan yang lainnya
6.      Bersungguh-sungguhlah beribadah dalam kondisi apapun dan pada bulan apapun.

Kedua; melakukan perbuatan haram.
Di luar Ramadhan saja kita tidak boleh berbuat haram apalagi dalam bulan Ramadhan, seperti ghibah, adu domba, berbohong, saksi palsu dan lain-lainnya. Rasulullah bersabda,”Lima perkara yang dapat menghapuskan pahala ibadah puasa yaitu;
1.       dusta,
2.      ghibah,
3.      adu domba,
4.      sumpah palsu dan
5.      memandang dengan syahwat”.
Ma'asyirolMusliminrahimakumullah ...

Ketiga; bersikap malas.
Orang yang beranggapan   bahwa Ramadhan adalah bulan untuk bermalas-malasan, karena mendengar  hadits dhaif yang menyatakan bahwa tidurnya orang yang puasa itu adalah ibadah. Bahkan Ramadhan disebut juga dengan syahrul jihad, artinya bulan untuk berjuang, tidak ada istilah bagi seorang muslim untuk berhenti bekerja karena Ramadhan, justru dengan puasa kita bekerja maka pahalanya akan berlipat ganda, Rasulullah selalu berdo’a kepada Allah, ”Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kedukaan, dari lemah dan malas, dari pengecut dan bakhil, dari belenggu hutang dan dipengaruhi orang”.

Banyak sekali kisah-kisah yang memberikan motivasi kepada kita untuk bekerja diantaranya; Umar bin Khattab pernah mengusir seorang lelaki di dalam masjid padahal hari sudah siang, dia sibuk ibadah saja dan lalai untuk mencari nafkah.
Seorang pengemis datang kepada Rasulullah minta sesuatu, Rasul memberinya kapak lalu dkisuruh mencari kayu ke hutan, sabda beliau,”Itu  lebih baik bagimu dari pada kamu meminta-minta”.

Ada pula orang yang sibuk dengan ibadah saja sementara hidupnya ditanggung oleh kakaknya, Rasul menyatakan, ”Kakakmu lebih baik darimu”.

Keempat; boros dalam makanan dan minuman.
 Orang yang  beranggapan Ramadhan adalah ajang untuk melampiaskan nafsu perut sehingga dana untuk itu disediakan, padahal makna Ramadhan adalah agar hidup hemat dan sederhana. Pemborosan itu nampak pada; makanan dan minuman dengan menyediakan seluruh jenis makanan dan minuman untuk menyambut datangnya waktu berbuka, padahal semua itu tidak akan habis bahkan lebih banyak yang mendarat ke tong sampah.

Rasulullah ketika berbuka hanya memakan 3 butir kurma yang kualitasnya baik dan minum dua teguk air setelah itu beliah shalat maghrib, kemudian baru makan sebatas yang beliau ajarkan; tidak terlalu kenyang, karena perut manusia itu harus diisi oleh air, udara dan makanan masing-masing sepertiga bagian.

Siti Fatimah suatu kali berpuasa nazar untuk tiga hari; hari pertama dia persiapkan makanan untuk berbuka satu potong roti dengan segelas air, rupanya datang seorang pengemis yang sudah sekian hari tidak makan, maka dia berikan roti itu kepada pengemis itu, hari kedua datanglah anak yatim dan hari ketiga

datang pula orang yang baru keluar dari penjara, sehingga tiga hari lamanya Fatimah tidak menikmati makanan untuk berbuka selain segelas air, kita tentu tidak mampu sebagaimana anak kesayangan Rasulullah ini, tapi janganlah boros saat berbuka sehingga mubazir,
”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros, sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya syaithan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya” [Al Isra’ 17;26-27].

Ma'asyirolMusliminrahimakumullah ...



Dalam ayat lainpun ditegaskan Allah,
”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[535]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. [Al A’raf 7;31].



بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ








Rabu, 16 Juli 2014

126. Tauhid menyingkirkan syirik




Khutbah Jum'at
Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurul Yakin
Jorong Cubadak Nagari Pianggu
Kecamatan  IX Koto Sungai Lasi
Kabupaten Solok Sumatera Barat
 Tanggal 4  Juli   2014.M / 6 Ramadhan 1435.H 



إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
أَمَّابَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...
          Segala puji bagi Allah, Rabb dan sesembahan sekalian alam, yang telah mencurahkan kenikmatan dan karuniaNya yang tak terhingga dan tak pernah putus sepanjang zaman kepada makhluk-Nya. Baik yang berupa kesehatan, kesempatan sehingga pada kali ini kita dapat menunaikan kewajiban shalat Jum’at.
          Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada pemimpin dan uswah kita Nabi Muhammad, yang melalui perjuangannyalah, cahaya Islam ini sampai kepada kita, sehingga kita terbebas dari kejahiliyahan, dan kehinaan. Dan semoga shalawat serta salam juga tercurahkan kepada keluarganya, para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
          Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada jama’ah semuanya, agar kita selalu meningkatkan kwalitas iman dan taqwa kita, karena iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menuju kehidupan di akhirat kelak.
Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...
          Sesungguhnya tauhid tercermin dalam kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Maknanya, tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan tidak ada ibadah yang benar kecuali ibadah yang sesuai dengan tuntunan rasul yaitu As-Sunnah. Orang yang mengikrarkannya akan masuk Surga selama tidak dirusak syirik atau kufur akbar.
 Sebagaimana firman Allah:
          “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang, mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82)
          Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, “Ketika ayat ini turun, para sahabat merasa sedih dan berat. Mereka berkata siapa di antara kita yang tidak berlaku dzalim kepada diri sendiri lalu Rasul menjawab:
لَيْسَ ذَلِكَ، إِنَّمَا هُوَ الشِّرْكُ، أَلَمْ تَسْمَعُوْا قَوْلَ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ: {يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ}. (متفق عليه).
          “Yang dimaksud bukan (kedzaliman) itu, tetapi syirik. Tidak-kah kalian mendengar nasihat Luqman kepada puteranya,
 ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar suatu kedzaliman yang besar.” (Luqman: 13) (Muttafaqun alaih).
          Maksudnya, segenap persaksian yang dilakukan oleh seorang Muslim sebagaimana yang terkandung dalam hadist tadi berhak memasukkan dirinya ke Surga. Sekalipun dalam sebagian amal perbuatannya terdapat dosa dan maksiat. Hal ini sebagaimana ditegaskan di dalam hadist qudsi, Allah berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتني بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً. (حسن، رواه الترمذي والضياء).
          “Hai anak Adam, seandainya kamu datang kepadaKu dengan membawa dosa sepenuh bumi, sedangkan engkau ketika menemuiKu dalam keadaan tidak menyekutukanKu sedikitpun, niscaya aku berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi dan Adh-Dhiya’, hadist hasan).
          Hadist tersebut menegaskan tentang keutamaan tauhid. Tauhid merupakan faktor terpenting bagi kebahagiaan seorang hamba. Tauhid merupakan sarana paling agung untuk melebur dosa-dosa dan maksiat.
Tauhid Menyingkirkan Syirik
Sujud kepada berhala bukanlah satu-satunya syirik, apabila kita kembali kepada Al Qur’an kita akan tahu bahwa sujud kepada berhala adalah salah satu dari sekian banyak bentuk syirik,  diantara bentuk-bentuk syirik itu adalah

Pertama, mendekatkan diri  kepada selain Allah, yaitu mendekatkan diri kepada suatu benda dengan berkeyakinan bahwa benda tersebut dapat mendekatkan diri dipelakunya kepada Allah. Sebagaimana orang-orang Quraisy tetap mengakui Allah sebagai Tuhan tapi untuk mendekatkan dirinya kepada Allah, menurut mereka manusia tidak bisa secara lansung kepada Allah karena manusia adalah makhluk yang lemah dan kotor maka harus pakai wasilah atau perantara, maka dijadikanlah patung sebagai perantaranya [Az Zumar 39;3]

”Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”

Kedua, memohon pertolongan atau syafaat selain kepada Allah juga termasuk sifat dan sikap syirik sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Yunus 10;18

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?"Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu)”

Baik permohonan syafaat tadi ditujukan kepada orang-orang shaleh atau kepada kuburan mereka yang dianggap keramat.

Ketiga, cinta dan wala’ [loyalitas] yang ditujukan bukan kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman juga termasuk kategori syirik [5;55-57] apalagi cinta dan wala’ tadi mengakibatkan penghambaan. Seorang mukmin tidak boleh memberikan cinta dan wala’nya kepada Yahudi dan Nasrani [5;51], orang-orang kafir lainnya [9;23], orang-orang yang menentang syariat allah [58;22], orang-orang yang mengejek agama Allah [5;57]. Seorang mukmin tidak boleh mencintai sesuatu atau seseorang melebihi cintanya kepada Allah, Rasul dan berjuang menegakkan agama Allah [2;165, 9;24], bila hal ini terjadi berarti mereka telah menyekutukan Allah.

”Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Keempat, termasuk syirik adalah dalam ketaatan dan ikutan yang berkaitan dengan hukum dan undang-undang. Mengikuti undang-undang selain yang diturunkan Allah telah menodai aqidah tauhid [7;3]. Segala hukum yang dibuat manusia yang tidak bersumber dari syari’at yang diturunkan Allah walaupun benar, maka pengikutnya telah menjadikan hukum Allah sebagai pelecehan [2;170] atau memutar baikkan fakta kebenaran, yang halal diharamkan dan sebaliknya [9;13].

”Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

Kelima, riya’ yaitu berbuat karena mengharapkan pujian manusia bukan mencari ridha Allah, kata Rasulullah ini adalah syrik tapi dalam katagori syirik kecil, Allah berfirman dalam surat Al Kahfi 18;110]
“Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Riya’ yang hinggap dalam hati manusia, walaupun dalam bentuk syirik kecil tapi dapat merusak ibadah sehingga ibadahnya tidak bernilai disisi Allah kecuali letihnya sujud dan rukuk dikala shalat, lapar dan haus yang terasa dikala puasa bahkan jihadpun tidak mendapat balasan pahala dari Allah [Al Baiyinah 98;5].

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”[Mukhiis Denros, Syirik dan bentuknya].

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أََنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
. أَمَّا بَعْدُ؛
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.