Selasa, 05 April 2016

157. Tanggung Jawab Orangtua




 Khutbah Jum’at


Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Al Munawwarah
Sraya Atas
Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam
Provinsi Kepulauan Riau
30 Jumadil Akhir 1437. H/ 8 April  2016.M



إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah
Puji syukur kita sanjungkan kepada  Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang telah memberikan karunia dan rahmat-Nya kepada kita, nikmat sehat, nikmat rezeki, lebih-lebih nikmat iman dan islam, semoga dengan datangnya kita ke masjid ini untuk menunaikan shalat jum’at merupakan ujud syukur kita kepada-Nya.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada nabi Kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, yang kita jadikan sebagai teladan dan pimpinan dalam kehidupan ini, teladan dalam hidup pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Khatib mengajak kita semua untuk meningkatkan kualitas iman, takwa dan amal shaleh, dari satu shalat ke shalat berikutnya, dari satu jum’at ke jum’at selanjutnuya dan dari satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya.

A.Pengertian Tanggung Jawab
            Tanggung jawab menurut kamus besar Bahasa Indonesia W. J. S.Poerwadarminta adalah “keadaan wajib menanggung segala sesuatunya” artinya jika ada sesuatu hal, boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya. Tanggung jawab ini pula memiliki arti yang dilakukan, kemudian ia berani memikul segala resikonya”.
Seperti yang disampaikan oleh Al-Hadits, Shahih Bukhari – Muslim “Setiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan kamu bertanggung jawab atas kepemimpinan itu”.

Makna dari istilah tanggung jawab adalah siap menerima kewajiban atau tugas. Arti tanggung jawab di atas semestinya sangat mudah untuk dimengerti oleh setiap orang.

Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tangung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia, bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksakan tanggung jawab itu.

Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain. Dan sisi si pembuat ia harus menyadari akibat perbuatannya itu, dengan demikian ia sendiri pula yang hams memulihkan ke dalam keadaan baik. Dan sisi pihak lain, apabila si pembuat tidak mau bertanggung jawab, pihak lain yang akan memulihkan baik dengan cara individual maupun dengan cara kemasyarakatan.

B.Tanggung Jawab Orangtua
Tanggung jawab orang tua terhadap anak tidak sekadar menjaga dan merawat anak-anak mereka dari kecil hingga dewasa. Akan tetapi, lebih dari itu, bagaimana orang tua dapat menjadikan anak-anak mereka agar menjadi anak  yang cerdas urusan dunia dan akhirat? Bagaimana menjadikan mereka anak yang saleh dan salihah? Mari kita simak hal-hal yang termasuk ke dalam tanggung jawab orang tua terhadap anak.

1. Merawat Anak

Orang tua memiliki kewajiban untuk merawat anak-anak mereka. Merawat di sini memiliki banyak arti, tidak hanya sekadar menjaga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk membesarkan anak-anak mereka dengan cara yang baik, yakni dengan cara yang diajarkan Rasulullah sebagai teladan terbaik. Orang tua memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan anak-anak mereka sesuai dengan kemampuannya. Memberikan mereka makan, pakaian, pendidikan, dan kebutuhan lain. Tanggung jawab orang tua terhadap anak ini memang tidak mudah. Banyak orang tua yang harus bersusah payah dan bekerja keras agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan anak-anak mereka, misalnya berusaha memberikan makan dan pakaian, agar anak-anak mereka bisa tumbuh dengan layak dan berkecukupan.

2. Mendidik Anak

Tanggung jawab orang tua terhadap anak yang selanjutnya ialah mendidik anak. Mendidik agar cerdas dalam perihal dunia dan akhirat. Menjadikan anak-anak mereka tangguh dengan ilmu agar mampu menyikapi perihal urusan dunia dan akhirat dengan bijaksana. Tanggung jawab mendidik anak ini sekilas memang terdengar mudah, tetapi faktanya tidak. Abdullah bin Umar r.a. berkata sebagai berikut.
Didiklah anakmu karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Selain itu, dia juga akan diberi pertanyaan mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.
Dalam mendidik anak, orang tua tidak dapat melakukannya secara sembarangan atau asal-asalan. Orang tua harus memiliki ilmunya terlebih dahulu. Berilmu sebelum beramal, inilah langkah terbaiknya. Jika orang tua menginginkan anak-anak mereka tumbuh menjadi cerdas, bagaimana mungkin orang tua hanya berdiam diri tanpa mencerdaskan diri mereka terlebih dahulu? Apakah mereka hanya menyerahkan anak-anak mereka kepada tenaga pendidik profesional saja? Tidak mungkin kan? Perlu diingat bahwa orang tua adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Al-Hakim, Nabi saw. bersabda sebagai berikut.
Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik. (H.R. Al Hakim: 7679).

3. Membimbing Anak ke Jalan yang Lurus

Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman dalam sebuah ayat berikut.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (Q.S. At-Tahrim: 6)
Membimbing keluarga dan anak ke jalan yang lurus, yakni jalan yang sesuai dengan ajaran Islam, merupakan salah satu tanggung jawab orang tua terhadap anak yang patut diperhatikan. Di masa kini, seringkali orang tua hanya memfokuskan diri mereka untuk memberikan nafkah yang cukup untuk anak-anak mereka. Padahal, tanggung jawab orang tua terhadap anaknya tidak hanya sekadar itu.

Orang tua wajib mengajarkan ilmu agama yang sesuai dengan Alquran dan sunnah kepada anak mereka. Membimbing mereka agar senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Orang tua wajib menjaga keluarganya dari api neraka sebagaimana ayat dalam surat At-Tahrim di atas. Ajarkanlah kepada mereka tentang tauhid, akidah, Alquran, serta ajaran-ajaran Islam dengan sabar dan penuh kasih sayang karena kelak di tangan mereka akan lahir generasi-generasi pejuang Islam.

C. Ayat-Ayat Tentang Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Pendidikan ditinjau dari  Al-Qur’an.
Al-Qur’an tidak secara langsung mengemukakan tentang tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan, namun perintah atau statemen tersebut tersirat dalam beberapa ayat yang mengisyaratkan tentang hal itu. Dalam makalah ini,penulis hanya mengambil beberapa sampel saja, karena tidak mungkin penulis membahas secara detail semua ayat tarbiyah. Berikut ini ayat yang menunjukkan tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan:

Q.S.at-Tahrim/66:6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”( Q.S.at-Tahrim/66:6).

Q.S.Luqman/31:12-14

وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

D.Hadits Tentang Tanggung Jawab Orangtua Terhadap Pendidikan
            Banyak hadits yang mengisyaratkan tentang tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya, walaupun tidak secara langsung. Hadits tersebut dapat berupa hadits tentang pengajaran orang tua kepada anaknya tentang tauhid, tentang shalat dan lain sebagainya.
Dalam rangka menanamkan aqidah kepada anak, pertama kali yang dilakukan oleh orang tua mengajarkan kalimat syahadat kepada anak, dengan memperdengarkan kalimat tersebut kepada anak. Maka sebagai orang tua yang bijaksana dan mempunyai pengetahuan yang tinggi harus mengerti hal tersebut selain mampu mengajari anaknya untuk berpikir dan memberikan ilmu kepada anaknya tersebut. Hal itu sesuai dengan hadits Nabi sebagai berikut:Dari Abu Rafi’ dari ayahnya,ia berkata;aku pernah melihat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adzan sebagaimana adzan sholat,di telinga Hasan bin Ali pada saat Fatimah melahirkannya.” (HR.Abu Dawud)
               Hal itu dapat dikuatkan oleh adanya  hadist di bawah ini yang ”Setiap anak yang dilahirkan,adalah fitrah.Tinggal kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai seorang Yahudi,Nasrani,ataupun Majusi.”(HR.Bukhari).
               Tentang tanggung jawab ini disebutkan juga dalam hadist yang lain ”Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan tiap-tiap kamu akan ditanya tentang kepemimpinannya,seorang laki-laki adalah pemimpin didalam keluarganya dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin,dia akan ditanya tentang kepemimpinannya,seorang pelayan adalah pemimpin didalam harta majikannya,dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang laki-laki adalah pemimpin dalam harta ayahnya,dia akan ditanya tentang kepemimpinannya,maka tiap-tiap dari kamu adalah pemimpin dan tiap-tiap kamu akan ditanya tentang kepemimpinannya. (HR.Al-Bukhari  dan Muslim).
               Begitu juga dalam hadist yang lain disebutkan:”Dari Samurah,bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda; Setiap anak yang lahir terpelihara dengan aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ketujuh kelahirannya.Rambutnya dicukur dan si bayi diberi nama.” (HR.Ibnu Majah)

               Hadist-hadist diatas menerangkan tentang kewajiban orangtua terhadap anak sebagai tanggung jawabnya yang harus dilakukan menurut konsep Islam.

E.Kewajiban Orangtua adalah Hak Anak
 Islam telah mengatur hak-hak anak dari orang tuanya. Hak-hak anak dari orang tua berarti kewajiban yang harus dipenuhi orangtua terhadap anak-anaknya. Berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an ,hadits Rasullullah SAW,maupun atsar sahabat ,di antara hak-hak anak yang harus dipenuhi orang tuanya adalah sebagai berikut:
1. Hak untuk hidup.(Q.S Al-An’am :151)
2. Pemberian nama yang baik.
3.  Hak disembelihkan Aqiqahnya.
4.  Hak menerima ASI Dua Tahun(Q.S Al-Baqarah:233 dan Lukman:14)
5. Hak makan dan minum yang baik.(Q.S Al-Baqarah:233)
6.  Hak diberi rizqi yang ‘thayyib’.(Q.S Al-Maidah 88)
7. Hak mendapatkan pendidikan agama yang baik.
8.  Hak mendapat pendidikan shalat.
9. Hak mendapat tempat tidur terpisah antara laki-laki dan perempuan.
10. Hak mendapat pendidikan dengan pendidikan adab yang baik.
11. Hak mendapat pengajaran dengan pelajaran yang baik.
12. Hak mendapat pengajaran al-Qur’an.
13. Hak mendapat pendidikan dan pengajaran baca tulis.

14. Hak mendapat perawatan dan pendidikan kesehatan.
15. Hak mendapat pengajaran keterampilan.
16.  Hak mendapat tempat yang baik dalam hati orang tua.
17. Hak mendapat kasih sayang.

F.Orang Tua Shalih, Anak pun Shalih!

“Hazm mengatakan, “Saya mendengar al-Hasan al-Bashri ditanya oleh Katsir bin Ziyad mengenai firman Allah ta’ala, “
 “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan: 74).
Katsir bin Ziyad bertanya kepada al-Hasan, “Wahai Abu Sa’id, apakah yang dimaksud qurrata a’yun (penyenang hati) dalam ayat ini terjadi di dunia ataukah di akhirat? Maka al-Hasan pun menjawab, “Tidak, bahkan hal itu terjadi di dunia.” Katsir pun bertanya kembali, “Bagaimana bisa?” al-Hasan menjawab, “Demi Allah, Allah akan memperlihatkan kepada seorang hamba, istri, saudara dan kolega yang taat kepada Allah dan demi Allah tidak ada yang menyenangkan hati seorang muslim selain dirinya melihat anak, orang tua, kolega dan saudara yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.” 

Betapa indahnya, jika kita memandang anak-anak kita menjadi anak yang shalih, karena hal itu salah satu penyejuk pandangan kita. Namun yang patut kita perhatikan adalah faktor yang juga mengambil peran penting dalam pembentukan keshalehan anak adalah keshalihan orang tua itu sendiri.
Jika kita menginginkan anak-anak shalih, maka kita juga harus menjadi orang yang shalih. Ada pepatah Arab yang bagus mengenai hal ini,
كيف استقم الظل و عوده أعوج
“Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok?”

Kita selaku orang tua adalah bendanya sedangkan anak-anak kita adalah bayangannya. Jika diri kita bengkok, maka anak pun akan bengkok dan rusak. Dan sebaliknya, jika diri kita lurus, maka insya Allah anak-anak akan lurus.
Allah ta’ala berfirman,

“Keturunan itu sebagiannya merupakan (turunan) dari yang lain.” (Ali Imran: 34).

Maksud dari ayat di atas adalah orang tua yang baik, sumber yang baik, insya Allah akan menghasilkan keturunan yang baik pula.

Keshalihan orang tua juga akan memberikan manfaat positif, karena Allah akan menjaga sang anak. Allah berfirman dalam surat al-Kahfi ayat 82,
“Adapun dinding rumah itu  adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (Al Kahfi: 82).

Dalam ayat ini diberitakan bahwa dikarenakan keshalihan orang tua, Allah menjaga dan memelihara sang anak, serta tidak mengecewakan orang tua. Oleh karenanya, keshalihan orang tua itu akan berpengaruh pada sang anak, bahkan manfaat itu tidak terbatas pada sang anak semata, tapi juga berdampak kepada cucu-cucunya sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsirrahimahullah bahwa yang dimaksud ” وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا ” dalam ayat tersebut adalah kakek ketujuh dari dua anak tadi.

Kelak di surga, Allah ta’ala pun akan mengumpulkan sang anak bersama orang tua mereka yang shalih, meskipun amalan sang anak tidak dibanding amalan orang tua.
“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath Thuur: 21).

          Maka disini, Allah ta’ala memasukkan anak-anak orang mukmin ke dalam surga dengan syarat mereka juga beriman. Maka, betapa menyenangkannya, jika kita berkumpul bersama keluarga kita di surga sebagaimana kita berkumpul di dunia ini. Meskipun amal ibadah sang anak tidak sepadan dengan kedua orang tuanya, amalnya kurang daripada orang tuanya, namun Allah tetap memasukkan keturunannya ke dalam surga. Karena apa? Karena keshalehan kedua orang tuanya.

Betapa pentingnya hal ini, yaitu menjadikan pribadi kita, yaitu orang tua, menjadi pribadi yang shalih, sampai-sampai salah seorang yang shalih pernah mengatakan,
يا بني إني لأستكثر من الصلاة لأجلك
“Wahai anakku, sesungguhnya aku memperbanyak shalat karenamu (dengan harapan Allah akan menjagamu).”

Ada seorang tabi’in yang bernama Sa’id ibn al-Musayyib rahimahullah juga pernah berkata,
Maka, mari kita menjadikan diri kita sebagai pribadi yang baik, taat kepada Allah dan shalih, kita jalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan harapan nantinya Allah ta’ala menjaga dan memelihara anak-anak kita. [dari berbagai sumber internet].

 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُم



Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ.
 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدُ الْأَمِيْنُ.
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
 عِبَادَ اللهِ ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Jumat, 01 April 2016

156. Berita Kematian Selalu Datang



Khutbah Jum’at Mukhlis Denros
di Masjid Darul Hikmah


Sraya Atas, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam


Tanggal 23 Jumadil Akhir 1437.H/ 1 April 2016.M


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
 Hadairin, sidang jumat yang dirahmati Allah
Khususnya manusia dan umumnya makhluk hidup di dunia ini, tidak ada yang abadi hidup di dunia ini, semuanya akan camat [calon mati] karena memang hidup di dunia ini hanya sementara sedangkan kita semua akan memasuki alam akherat setelah mengalami kematian. Betapa banyaknya jenazah atau mayat manusia, sejak dari zaman Nabi Adam hingga kini, sungguh tidak terhitung jumlahnya, selama dunia ini terkembang selama itu pula manusia silih berganti lahir dan meninggal dan begitulah seterusnya hingga berakhirnya kehidupan itu.


Banyak berita kematian yang sampai kepada kita, berita itu sungguh mengejutkan, tanpa diduga sebelumnya seperti adanya mobil yang tabrakan menewaskan sekian orang, pesawat jatuh tak satupun penumpangnya yang selamat, kereta api terjungkil, tanah longsor, gunung meletus. Ada yang meninggal setelah sekian lama mengalami sakit, ada yang mati mendadak dan ada pula yang hilang tidak tentu rimbanya, intinya semua kejadian  itu mengakhiri kehidupan manusia, artinya ada yang menjemput ke alam lain setelah kehidupan di dunia ini.

            Kematian sudah lama berlansung yaitu sejak adanya kehidupan, karena memang Allah menentukan bahwa ada kehidupan maka pasti ada kematian, Allah yang menghidupkan dan yang mematikan.
 

“Allah menghidupkan dan mematikan “( Ali Imran 3: 156).

Kelansungan hidup makhluk itu ditentukan oleh kehendak Allah, hingga sangat mendetail sekali kejadian itu, sejak dari biji-bijian sampai menjadi buah, kekuasaan Allah itu sampai menjadikan hidup berlansung lalu menjadikan mati semuanya berlaku bagi makhluk-Nya, 

 sebagaimana firman Allah menyebutkan;
 ”Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” [Al An’am 6;95].
Allah telah menetapkan ajal bagi tiap-tiap umat maupun individu.Kematian, yaitu datangnya ajal, telah ditentukan waktunya sebagai suatu ketetapan dari Allah yang tidak bisa dimajukan maupun dimundurkan. Allah berfirman:
  “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. “(Ali Imran 3 : 145).
Bagaimanapun shalehnya pribadi seseorang sehingga dianggap orang yang dekat dengan Allah, tapi hal yang satu ini yaitu tentang yang ghaib seperti kematian tidak ada orang yang tahu, walaupun sebelumnya ada firasat sebagai tanda-tanda kematian. Karena kematian itu hal priogratif Allah untuk menentukannya maka tak satupun usaha dan daya manusia untuk bisa mengundur atau mendahului kematian itu, sebagai mana firman Allah menyatakan,

“Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat memundurkannya( al-Hijr 15: 5)
Kematian yang dialami makhlukpun bukanlah terlepas begitu saja tapi merupakan ketentuan Allah, ketentuan Allah itu pasti terjadi, manusia atau makhlukNya hanya menerima kejadian yang akan dialaminya;

“ sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” [Ali Imran 3;145].

                Apapun bentuk kematian itu semuanya izin dan ketentuan Allah, Allah menentukan kematian manusia sejak dari alam rahim, kapan kejadiannya, hari, jam dan detiknya, sedangkan kejadian yang berlansung tergantung dari usaha manusia. Yang pasti kematian itu terjadi sesuai dengan ketentuannya, tapi apakah kematian itu karena kecelakaaan, karena bunuh diri, mati mendadak, sakit yang diderita atau karena santet dan lain-lainnya, itu hanya jalannya saja yang dilalui manusia. Samalah dengan ketika Allah hari ini menentukan kita memperoleh uang seratus ribu rupiah, ini ketentuan yang pasti, tapi cara memperolehnya tergantung jalan hidup yang kita jalani, apakah uang seratus ribu itu kita peroleh di suatu tempat, karena berjualan, dapat hadiah, diberi teman atau karena kita mencuri.Semua kejadian itu atas izin Allah tapi tidak semua kejadian itu diridhai-Nya.
 
Karena kematian adalah pasti datangnya maka manusia tidak akan bisa lari menghindar darinya. Allah SWT menegaskan: 


“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya tetap akan menemui kalian.” (QS. al-Jumu’ah [62]: 8).
Kematian akan menemui semua orang, apakah janin yang masih berada dalam kandungan seorang ibu, anak-anak yang masih muda sekali, remaja yang baru menginjak  dewasa, pemuda dan pemudi yang masih menaruh harapan besar dalam hidupnya dengan cita-cita mulia, apakah orangtua yang punya sekian tanggungjawab terhadap anak-anaknya atau orang yang sudah tua renta, semuanya menanti datangnya kematia, ketika datang masanya tidak ada yang sanggup untuk menghalanginya. Di tahun 1965 ada seorang anggota dewan yang akan pulang kampung ke Surabaya, setiap bulan dia harus pulang menemui keluarganya, ketika tiket sudah dia terima dan menanti pesawat sebentar lagi mengantarkannya ke Surabaya, tiba-tiba ada seorang wanita muda yang gelisah karena tidak memperoleh tiket menuju Surabaya padahal nanti malam dia akan melansungkan pernikahan. Wanita muda itu memohon kepada sang bapak agar mau menyerahkan tiketnya, dibayar dengan harga berapapun asal dia dapat terbang menuju Surabaya menemui hari pernikahannya.
Agak berat sang bapak menyerahkan tiket pesawat itu kepada wanita muda yang akan melansungkan pernikahan nanti malam, sehingga sang bapak harus mengurungkan kepergiannya hari ini, dia menanti jadwal penerbangan berikutnya. Sekitar lima belas menit pesawat terbang, sang bapak mendapat kabar bahwa pesawat yang ditumpangi wanita muda yang akan melansungkan pernikahan malam ini 

mengalami kecelakaan. Satu sisi sang bapak trenyuh dengan kejadian itu karena dia telah memberikan tiket kematian kepada wanita muda, pada sisi lain dia bersyukur karena kematiannya belum lagi saatnya. 
Betapa terkejutnya kita ketika dikabari seseorang meninggal dunia, padahal sekian jam yang lalu orang tersebut dalam keadaan segar bugar, dan betapa lamanya seseorang menderita sakit, terbaring dalam keadaan sakit parah, tak mampu berbuat apa-apa lagi untuk mengurus dirinya tapi masih dalam keadaan hidup. Karena memang kematian itu karena ajal bukan karena sakit, walaupun biasanya sebelum meninggal dunia seseorang itu ditandai dengan sakit yang dideritanya.
Kematian itu memang ditakuti oleh semua orang tapi tidak bisa menghindari darinya dikala sudah ada utusan Allah untuk mengakhiri kehidupan itu, di dunia ini tidak ada tempat yang bisa kita lari dari kematian, dimana saja kematian itu pasti datang sebagaimana Allah SWT menegaskan: 

“Di mana saja kalian berada, kematian akan menjumpai kalian kendati kalian berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (QS. an-Nisa’ [4]: 78).




بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ.

 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدُ الْأَمِيْنُ.
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
 عِبَادَ اللهِ ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ