Minggu, 14 Desember 2014

141. Muslim tapi setia kepada kafirin [1]



Khutbah Jum'at
Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Al Munawwarah
Jorong Sungai Lasi Nagari Pianggu
Kecamatan IX Koto Sungai Lasi
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 12 Desember  2014.M /19 Shafar 1435.H

Mengaku Muslim
tapi Setia kepada Kafirin [1]

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.
Dalam hal menjalankan perintah dan menjauhi larangan, akhir-akhir ini Ummat Islam diliputi keadaan yang menuntut kehadi-hatian yang sangat. Kalau tidak hati-hati, maka akan terjerumus sangat dalam, karena kemungkinan yang diucapkan oleh lisan, diperbuat oleh anggota badan, dan diyakini oleh hati, kemungkinan justru hal-hal yang sangat dilarang Islam. Dalam hal ini yang akan kita bicarakan adalah merajalelanya gejala setia kepada orang kafir, yang dalam Islam sangat dilarang, namun di masyarakat justru tampak semakin berkembang.
Untuk mengetahui bagaimana gejala mencintai atau setia atau loyal terhadap orang kafir, mari kita simak uraian ulama terkemuka saat ini yakni Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauszan,  dalam bab مظاهر موالاة الكفار Madhaahiru Muwaalatil Kuffaar – gejala-gejala setia kepada orang-orang kafir berikut ini.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, bentuk-bentuk kesetiaan sungguh telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, di antaranya akan diuraikan 10 gejala sebagai berikut:

1.    Menyerupai kafirin dalam berpakaian, ucapan, sikap dan lainnya. Itu menunjukkan kecintaan pada mereka, karena Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ *. (أبو داود)
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.  (-HR Abu Daud, dan At-Thabrani dalam Al-Awsath, dari Hudzaifah, berderajat hasan).

Oleh karena itu diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam hal yang menjadi ciri khusus mereka, yang berupa tradisi atau adat kebiasaan, ibadah, symbol dan akhlak mereka seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, berbicara dengan bahasa mereka kecuali ada kebutuhan yang mendesak, demikian juga dengan mode berpakaian mereka, makan, minum dan sebagainya.

2.    Tinggal di negeri kafir dan tidak pindah ke negeri Muslimin untuk menyelamatkan ad-dien.Berdiamnya di negeri kafir menunjukkan loyalitasnya terhadap orang kafir. Allah Ta’ala mengharamkan bermukimnya orang Muslim di antara orang-orang kafir apabila ia mampu untuk berhijrah.

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا(97).
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “
Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,

إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا(98).
kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),

فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا(99).
mereka itu, mudah-mudahan Allah mema`afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.( QS An-Nisaa’: 97-99).
Allah Ta’ala tidak menerima alasan setiap Muslim yang bermukim di negara orang kafir kecuali mereka yang lemah, yang tidak mampu untuk berhijrah, juga orang-orang yang bermukimnya ada kemaslahatan ad-dien, misalnya berda’wah dan menyebarkan Islam di negeri mereka.

3.      Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah bepergian ke negeri kafir dengan tujuan wisata dan rekreasi. Hal yang demikian haram hukumnya kecuali untuk hal yang sangat diperlukan, seperti berobat, berdagang, studi tentang sesuatu yang bermanfaat yang tidak dapat tercapai kecuali dengan mengadakan perjalanan ke negeri mereka, maka hal itu diperbolehkan sesuai dengan kebutuhan. Jika kebutuhannya telah terpenuhi, ia wajib kembali ke negeri kaum muslimin.
Dan disyaratkan pula untuk diperbolehkannya mengadakan perjalanan semacam ini, ia mampu menampakkan agamanya, bangga dengan keislamannya, menjauhi tempat-tempat kejahatan, waspada terhadap penyelinapan musuh-musuhnya dan tipu daya mereka. Dan diperbolehkan juga untuk bepergian atau wajib pergi ke negeri mereka apabila dimaksudkan untuk berdakwah di jalan Allah.

4.      Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah membantu kafirin untuk mengalahkan Muslimin, memuji-muji dan membela mereka. Ini merupakan bagian dari rusaknya aqidah, dan penyebab kemurtadan.

5.     Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah meminta bantuan kepada kaum kafir, mempercayakan urusan kepada mereka, memberikan kekuasaan kepada mereka agar menduduki jabatan yang di dalamnya ada banyak perkara yang menyangkut urusan kaum muslimin, serta menjadikan mereka sebagai kawan terdekat dan teman dalam bermusyawarah.Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ(118).
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ(119).
Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ(120).
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.(QS Ali Imran: 118-120).

Ayat-ayat yang mulia ini mengungkapkan hakekat kaum kafir dan apa yang mereka sembunyikan dari kaum muslimin yang berupa kebencian dan siasat untuk melawan kaum muslimin seperti tipu daya dan pengkhianatan. Dan ayat ini juga mengungkapkan tentang kesenangan mereka bila kaum muslimin mendapat musibah. Dengan berbagai cara mengganggu ummat Islam. Bahkan kaum kuffar tersebut memanfaatkan kepercayaan ummat Islam kepada mereka dengan menyusun rencana untuk memojokkan dan membahayakan ummat Islam.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, dia berkata kepada ‘Umar radhiyallahu anhu: ’Saya memiliki sekretaris yang beragama Nashrani’. ‘Umar berkata: ’Mengapa kamu berbuat demikian?Celakalah engkau. Tidakkah engkau mendengar Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ …} (51) سورة المائدة.
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain…”(QS. Al-Ma’idah: 51).

Kenapa tidak engkau ambil seorang muslim sebagai sekretarismu? Abu Musa menjawab:’Wahai amirul mukminin, saya butuhkan tulisannya dan urusan agama terserah dia’. Umar berkata:’Saya tidak akan memuliakan mereka karena Allah telah menghinakan mereka, saya tidak akan mengangkat derajat mereka karena Allah telah merendahkan mereka dan saya tidak akan mendekati mereka karena Allah telah menjauhkan mereka’.

Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan:Bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam keluar menuju Badar. Tiba-tiba seseorang dari kaum musyrikin menguntitnya dan berhasil menyusul beliau ketika sampai di Harrat alwabarah, lalu dia berkata: ’Sesungguhnya aku ingin mengikuti kamu dan aku rela berkorban untuk kamu’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Beriman kah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya?”, dia berkata:’Tidak’. Beliau bersabda:”Kembalilah, karena saya tidak akan meminta pertolongan kepada orang musyrik”. (HR Ahmad dan Muslim).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

[Hartono Ahmad Jaiz, Mengaku Muslim tapi Setia kepada Kafirin,nahimungkar,29 September 2011].

140. Indikasi Baiknya Keislaman Seseorang




Khutbah Jum'at
Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurut Taufiq
Jorong Panyalai Nagari Cupak
Kecamatan Gunung Talang
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 28  November  2014.M / 01 Shafar  1435.H

Indikasi Baiknya Keislaman Seseorang
Ialah Meninggalkan Yang Tidak Penting

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ
.
Jama’ah Jum’at  rahimani wa rahimakumullah,
Sudah menjadi keharusan, agar kita bertakwa kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya, karena takwa kepada Allah merupakan bekal terbaik bagi seseorang dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Yaitu dunia yang penuh dengan tantangan dan godaan setan. Baik yang berwujud jin ataupun manusia. Begitu pula, takwa kepada Allah merupakan bekal terbaik saat menghadap Allah pada hari kiamat kelak. Saat itu, harta dan keluarga tidak akan bisa memberikan manfaat. Firman Allah Ta’ala menyebutkan,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (QS asy-Syu’ara: 88-89)

Saat itu juga, kekuasaan seseorang sudah tidak bermanfaat lagi. Allah ta’ala ceritakan tentang kisah orang-orang yang menerima catatan amal perbuatan dengan tangan kiri mereka. Allah Ta’ala berfiman,

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيهْ. وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيهْ. يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ. مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيهْ. هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيهْ. خُذُوهُ فَغُلُّوهُ. ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ. ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعاً فَاسْلُكُوهُ
“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:"Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu, Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku". (Allah berfirman):"Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya". Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta”. (QS Al Haaqqah: 25-32).
Semoga Allah memasukkan kita termasuk orang-orang yang menerima kitab catatan amal perbuatan dengan tangan kanannya. Oleh karena itu, konsekwensinya, kita harus selalu berusaha menjaga keselamatan diri dengan menjaga dan meningkatkan keislaman kita. Antusiasme inilah yang menjadi bukti kongkrit kebaikan jiwanya, kelurusan manhajnya serta kesempurnaan hidayahnya dari Allah Ta’ala. Agama bagi seorang muslim akan menjadi pemandu yang akan bisa mengantarkannya menuju kebahagiaan di dunia, serta merealisasikan kebahagiaan dan derajat yang tinggi di akhirat. Dalam din (agama) ini terdapat penjelasan dan petunjuk yang bisa menjadi pedoman, penyelamat dari berbagai kesesatan, menjauhkan seorang muslim dari jalan kesengsaraan, kerugian maupun kebinasaan.
Rasulullah, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang yang sangat menginginkan kebaikan umatnya, yang sangat cinta kepada umatnya, telah menunjukkan satu adab peri laku terpuji; sebuah adab yang bisa mendatangkan berbagai kebaikan. Dengan adab ini, din seseorang bisa menjadai baik, dan juga bisa mengantarkan kesuksesan seseorang meraih Ridha Allah Ta’ala. Disebutkan dalam sebuah hadits, dari seorang sahabat, yaitu Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه
“Diantara bukti kebaikan Islam seseorang ialah, dia meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya”. (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi rahimahullah, Ibnu Majah Rahimahullah di dalam kitab sunan mereka, Ibnu Hibban Rahimahullah dalam kitab shahih beliau dengan sanad yang hasan).

Kaum muslimin, Rahimanillah wa iyyakum ajma’in,
Orang yang memiliki kwalitas keislaman yang baik, maka dia akan meninggalkan perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan yang tidak penting dan yang tidak mendatangkan manfaat baginya. Karena Islam menuntut pemeluknya agar melaksanakan hal-hal yang diwajibkan, serta menjauhi dan meninggalkan segala yang diharamkan, ataupun perkara yang masih belum jelas hukumnya, yang disebut dengan istilah mutasabihat. Seseorang itu juga tidak akan berlebihan dalam masalah-masalah yang mubah. Dengan demikian, ia akan senantiasa menghiasi dengan hal-hal yang bisa meluruskan dan mengokohkan aqidahnya, menyempurnakan kwalitas imannya, meluruskan amalnya.

Sebaiknya, ada juga orang-orang yang menyia-nyiakan waktu yang berharga, menghabiskannya dengan perbuatan sia-sia, menyibukkan dengan sesuatu yang bisa menyeretnya ke dalam penderitaan berkepanjangan tanpa akhir. Dengan demikian, dia telah menjauhkan dirinya dari hal-hal yang penting, yang bisa mengangkat derajatnya, akibatnya ia menjadi orang yang merugi tiada terkira.

Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan senantiasa menolong kita dalam menjalankan ketaatan, menjauhkan kita dari golongan orang-orang yang celaka.
Kaum muslimin, Rahimahillahu wa iyyakum ajma’in,
Diantara bentuk menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak penting ialah sibuk mempelajari ilmu-ilmu yang tidak penting dan melalaikan ilmu yang lebih penting, yaitu ilmu yang bisa membuat hati menjadi baik, jiwa menjadi bersih serta mendatangkan manfaat bagi saudaranya sesame muslim.
Termasuk juga dalam katagori perbuatan sia-sia, yaitu seseorang membicarakan sesuatu yang bukan bidangnya, dan dia juga tidak diminta untuk berbicara atau mengeluarkan pendapatnya. Tujuannya hanyalah Refresing, menghabiskan waktu serta menarik perhatian orang lain. Terkadang hal-hal ini bisa menyeret seseorang untuk membicarakan masalah-masalah yang tidak pantas untuk dibicarakan, seperti membicarakan perbuatan nista yang bisa membangkitkan nafsu syahwat, menceritakan aurat, melontarkan tuduhan-tuduhan keji kepada orang-orang baik.terkadang tidak cukup sampai disitu, ditambah lagi dengan perkataan dusta dan kotor. Dan masih banyak lagi, contoh-contoh perbuatan sia-sia yang dihiasi oleh setan agar menarik dilakukan oleh manusia. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari segala tipu daya setan. 

Kaum muslimin, Rahimanillahu wa iyyakum ajma’in,
Kini kita harus berusaha, agar terhindar dari perbuatan sia-sia tersebut. Di antara yang bisa membantu untuk meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat, maka hendaklah seseorang menyadari bahwa kewajiban-kewajiban yang dibebankan di pundaknya sangatlah banyak, sementara usia kita pendek. Dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang dibawakan oleh Imam Tirmidzi Rahimahullah, Ibnu Majah Rahimahullah dalam kitab sunan mereka dan al-Hakim Rahimahullah dalam kitab al-Mustadrak dengan sanad yang shahih, melalui jalan Abu Hurairah Rahimahullah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

َأعْمَارُ أُمتي مَا بَيْنَ الستيْنَ إلَى السَبْعيْنَ وَ أَقَلهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلكَ
“Usia umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh, dan sedikit sekali yang usianya lebih dari itu.
Sebagian ahlu ilmi mengatakan, usia sependek ini hampir-hampir tidak cukup untuk melaksanakan kewajiban, lalu adakah waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat? Juga kesadaran seseorang mengenai singkatnya kehidupan manusia di dunia, sementara kehidupan akhirat yang panjang dan berat menanti di depan mata. Kesadaran seperti ini juga dapat membantunya untuk meninggalkan perbuatan sia-sia. Sebab dengan kesadaran ini, dia akan memanfaatkan waktunya seoptimal mungkin, menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya, sebagai persiapan menempuh kehidupan hakiki. 

Kaum muslimin, Rahimanillahu wa iyyakum ajma’in,
Hendaklah kita juga memahami bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungan jawab mengenai usia, bagaimana usianya dihabiskan? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab Jami’nya dengan sanad yang shahih dari sahabat Abu Barzah al-Aslami Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْد يَوْمَ اْلقيَامَة حَتى يُسْأَلَ عَنْ عُمْره فيْمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ علْمه فيْمَ فَعَلَ فيه وَعَنْ مَاله منْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفيْمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جسمه فيمَ أَبْلاَهُ
“Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ia (selesai) ditanya tentang usia, untuk apa usianya dipergunakan; tentang ilmunya, apa yang diperbuat dengannya; tentang harta, darimana harta itu diperolehnya dan dipergunakan untuk apa; tentang badannya, apa yang diperbuat dengannya?
Empat hal yang dipertanyakan kelak di akherat terhadap diri manusia ini adalah;
1.      UMUR
-  Contoh Umur yang panjang tapi tidak bermanfaat; Fir’aun, Qarun
-   Imam Nawawi, usianya hanya 40 tahun tapi karyanya banyak; Riyadush Shalihin, Hadits Arbain dll.
-  Allah memberikan umur kepada manusia, jadikanlah umur itu berkah.
-   Pada bulan Ramadhan ada satu malam dinamakan lailaltul qadar, yaitu sama dengan nilai 1000 bulan, yaitu 80 tahun empat bulan.
-   Manfaatkan sisa-sisa waktu untuk beribadah kepada Allah, lalukan amal segera, jangan menunggu-nunggu dan menunda-nunda.
-  Ada orang yang bingung dan stress karena masuk waktu pensiun, tidak tahu apa yang harus dikerjakan, padahal bisa dimanfaatkan untuk membaca Al Qur’an dan beramal ibadah.
-   Banyak pahala diperoleh dari membaca Al Qur’an.

2.      ILMU
-          Ilmu yang diperoleh bila dijadikan untuk menumpuk pengetahuan tidak ada manfaatnya tanpa diamalkan.
-          Dapat ilmu tentang busana muslimah, aqidah yang benar, ilmu tentang shalat dll, hasil dipraktekkan, nanti akan dipertanggungjawabkan di akherat.
-          Orang yang berilmu harus hidupnya kokoh dengan praktek amalnya dalam kehidupan sehari-hari. Keuntungan di dunia, ilmu akan awet,  akherat, ilmu

3.      HARTA
-          Masalah Harta ketika di akherat ditanyakan” Dari mana diperoleh” dan “Kemana dibelanjakan”.
-          Kata Rasulullah, Orang fakir dan miskin lebih dahulu masuk syurga dibandingkan orang kaya, bedanya setengah hari [500 tahun].
-          Bila kita jadi orang kaya, maka persiapkan jawabannya kelak di hadapan Allah.
-          Setiap rupiah yang  diterima dipertanyakan asal usulnya, dan setiap rupiah kekayaan yang dibelanjakan dipertankan, kemana saja dibelanjakannya.
-          Rezeki yang kita terima semuanya dari Allah, maka harus dibelanjakan sesuai dengan yang dikehendaki Allah.
-           
4.      ANGGOTA BADAN
-          Untuk apa anggota badan yang kita miliki, telinga, mata, kaki, tangan dll.
-          Kaki dipertanyakan, apakah untuk menghadiri pengajian atau ke tempat maksiat.
-          Tangan, apakah digunakan untuk menulis sms berupa nasehat atau untuk maksiat.
-          Semua anggota badan dipertanyakan

Kaum muslimin, Rahimanillahu wa iyyakum ajma’in,
Perlu kita ingat juga, bahwa semua kata yang diucapkan oleh seseorang, semuanya tercatat dan akan mendapatkan balasan. Setiap kata yang terucap akan diminta pertanggungan jawab. Jika baik, maka kebaikan yang akan kita dapatkan. Sebaliknya, jika jelek, maka kejelekan pula yang akan menimpa kita. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيد.ِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ .مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qaaf: 16-18)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik Rahimahullah dalam kitab al Muwattha’, Imam Ahmad Rahimahullah dalam kitab Musnadnya, Imam Tirmidzi Rahimahullah, an Nasa’i Rahimahullah, Ibnu Majah Rahimahullah dalam kitab sunan mereka dengan sanad yang shahih dari Alqamah al Laitsi, dari Bilal bin Harits Rahimahullah, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الرجل ليتكلم بالكلمة من رضوان الله ما كان يظن أن تبلغ ما بلغت ؛ يكتب الله له بها رضوانه إلى يوم يلقاه وإن الرجل ليتكلم بالكلمة من سخط الله كان يظن أن تبلغ ما بلغت ؛ يكتب الله له بها سخطه إلى يوم يلقاه
“Sesungguhnya ada seseorang mengucapkan satu kalimat di antara kalimat yang diridhai Oleh Allah. Dia tidak mengira (bahwa) satu kata (yang diucapkan) itu akan bisa mencapai apa yang dicapai, yaitu Allah mencatat bagi orang ini keridhaanNya sampai (kedatangan) hari perjumpaan dengan Allah. Sesungguhnya ada seseorang mengucapkan satu kalimat di antara kalimat yang dimurkai oleh Allah. Dia tidak mengira (bahwa) satu kata (yang diucapkan) itu akan bisa mencapai apa yang dicapai, (yaitu) Allah mencatat bagi orang ini kemurkaanNya sampai (kedatangan) hari perjumpaan dengan Allah”.
Alqamah berkata, “Hadits (dari) Bilal ini telah mencegahku dari mengucapkan banyak kalimat.” 

Kaum muslimin, Rahimanillahu wa iyyakum ajma’in,
Oleh karenanya, marilah kita bertakwa kepada Allah, dengan selalu berbuat sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa melaksanakan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. 

“Kaum muslimin, Rahimanillahu wa iyyakum ajma’in,
Dengan memahami uraian diatas, sebagai orang yang berakal, yang mengaharapkan pertolongan Allah pada hari akhir nanti, maka hendaklah kita memperhatikan keadaan diri kita, dengan menjaga lisan serta memperhatikan waktu yang kita miliki. Hendaknya juga menghitung lalu membandingkan antara perkataan dan perbuatan yang telah kita perbuat. Barangsiapa yang menghitung perkataannya lalu membandingkan dengan amalnya, dia akan sedikit berbicara.
Mengapa demikian? Karena, sebagaimana dikatakan oleh al Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah, bahwa kebanyakan yang dimaksud dengan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah menjaga lisan dari perkataan sia-sia. Mulai saat ini, marilah kita berusaha menjaga diri masing-masing dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.
Literatur:
1.      Majalah as-Sunnah, Solo. Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M.
2.      Ustadz. Muhammad Zain, Terjebak macet di Akherat, Rodjatv
3.      Mukhlis Denros, Kumpulan Ceramah Praktis, 2009

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِي