Selasa, 10 Juli 2012

40. Mengisi Momentum Ramadhan


Khutbah Jum'at Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurul Yakin
Jorong Cubadak Nagari Pianggu
Kecamatan IX Koto Sungai Lasi
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 22 Juli 2011


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.


Khutbah yang PeRtama

Ma’asyiROl Muslimin yang diRahmati Allah
Pada kesempatan khutbah kali ini, khatib tidak peRnah bOsan-bOsannya untuk menghimbau diRi khatib secaRa pRibadi dan paRa jama’ah sekalian untuk senantiasa beRtaqwa kepada Allah di mana saja kita beRada dengan beRupaya semaksimal mungkin mengeRjakan peRintah-peRintahNya dan menjauhi laRanga-laRanganNya. KaRena tidak ada bekal teRbaik di haRi kiamat kelak yang membuat kita Mulia di sisiNya melainkan dengan taqwa. KaRena tidak ada yang mampu menjadi tameng kita daRi adzab dan api neRakaNya melainkan adalah taqwa yang kita miliki.
Allah Ta’ala beRfiRman,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى (البقرة:197)
“BeRbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan beRtaqwalah kepada-Ku hai ORang-ORang yang beRakal.” (QS. al-BaqaRah:197)
Dan Rasulullah beRsabda,

اِتَّقِ اللهَ حَيْثمُاَ كُنْتَ وَأَتبِْعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلقٍُ حَسَنٍ (رَوَاهُ التِّرْمِذِي)
“BeRtakwalah kamu di mana saja kamu beRada, dan seRtakanlah Olehmu kejahatan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskannya (kejahatan teRsebut), seRta peRgaulilah manusia dengan akhlak yang baik”. (HR. at-TiRmidzi, dengan sanad hasan shahih).

Ma’asyiROl Muslimin yang diRahmati Allah
Ada sebuah Ungkapan atau kalau bOleh ia disebut mOttO hidup yang cukup sedeRhana, “Tidak akan PeRnah Kembali HaRi-haRi yang Telah BeRlalu”. Kenapa kita katakan sedeRhana?? sebab ungkapan ini cukup familiaR di telinga kita, bahkan ia teRkadang bagaikan angin yang lalu begitu saja, atau ungkapan picisan kunO yang tak ada aRti bagi sebagian ORang, bahkan anak-anak kecil saja tahu dan mengeRti kalau haRi-haRi yang telah dilewatinya tidak akan peRnah teRulang dan kembali lagi. Tentunya tidak bagi paRa pemeRhati kehidupan atau ORang-ORang yang selalu meRenungi dan menghayati hidup yang dijalani, juga tidak bagi ORang yang selalu mengevaluasi diRi dan ingin haRi-haRinya yang sekaRang dan yang nanti lebih baik daRi haRi-haRinya yang telah lalu. KaRena baginya haRi-haRi yang telah lalu adalah sejaRah sekaligus pelajaRan untuk menatap dan manata hidup di masa depan yang lebih gemilang, pelajaRan mahal yang tak bisa di haRgai dengan lembaRan-lembaRan keRtas yang kini telah beRubah menjadi sembahan, haRi-haRi yang telah beRlalu teRus akan menyisakan kenangan dan kenikmatan bagi siapa saja yang menghabiskannya untuk sesuatu yang indah dan penuh makna.. dan selalu akan meninggalkan penyesalan dan kesedihan yang mungkin tak teRlupakan bagi siapa saja yang menjalaninya untuk sesuatu yang sia-sia dan penuh dOsa.

Ma’asyiROl Muslimin yang diRahmati Allah
Tentunya bagi seORang mukmin haRi-haRi adalah sebuah kesempatan yang beRhaRga untuk beRamal dan beRinvestasi sebanyak-banyaknya yang tidak akan peRnah ia sia-siakan begitu saja. Sehingga ia selalu beRupaya untuk mengisi lembaRan-lembaRan hidupnya dengan sesuatu yang mendatangkan keRidhaan dan kecintaan Allah Ta’ala. Sebagaimana dia tahu Rasulullah beRsabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ اْلمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ (رواه الترمذي)
“DiantaRa kesempuRnaan (kebaikan) Islam seseORang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak beRguna bagi diRinya.” (HR. at-Timidzi, dishahihkan Oleh al-Albany)
Ma’asyiROl Muslimin yang diRahmati Allah
Kalau haRi-haRi yang biasa dijalani Oleh seORang mukmin begitu ia manfaatkan sebaik mungkin, apalagi jika ia beRada di haRi-haRi yang di dalamnya teRdapat bOnus-bOnus dan ‘seabRek’ keistimewaan yang disediakan dan begitu menjanjikan, tentunya betul-betul tidak sedikitpun ia akan sisakan haRi dan waktunya kecuali untuk mengejaR dan meRaih semua bOnus-bOnus dan keistimewaan nan menggiuRkan. Dia akan tampak agResif dan kOmpetitif dan siap beRsaing seRta beRupaya mengungguli Rival-Rivalnya demi sebuah pRestasi yang akan diRaih. Allah Ta’ala beRfiRman,

فَاسْتبَقُِوا اْلخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونوُا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيعًا إِنَّ اللهَ عَلىَ كُلِّ شَئٍ قَدِيرٌ (البقرة: 148)
“…Maka beRlOmba-lOmbalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu beRada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada haRi kiamat). Seungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-BaqaRah:148)

Ma’asyiROl Muslimin yang diRahmati Allah
HaRi-haRi yang indah dan didambakan itu kini hampiR datang kepada kita, haRi-haRi yang teRdapat pada bulan yang sangat istimewa di mata Sang Pemiliknya dan bagi siapapun yang mengetahui keistimewaannya, tamu nan agung yang selalu dinanti-nanti Oleh semua ORang yang meRindukannya, dia adalah bulan Ramadhan bulan Rahmah, bulan maghfiRah, bulan beRkah, bulan sabaR, bulan QuR’an, bulan shadaqah, bulan pendidikan dan madRasah ORang-ORang yang beRiman, bulan dilipat-gandakan pahala daRi setiap amalan yang dikeRjakan di dalamnya dan masih banyak lagi nama-nama yang indah untuknya yang belum disebutkan, sesuai dengan banyaknya kebaikan dan keutamaan di dalamnya.

Allah Ta’ala beRfiRman,

شَهْرُ رَمَضَانَ اَّلذِي أُنْزِلَ فِيهِ اْلقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ اْلهُدَى وَاْلفُرْقَانِ (البقرة: 185)
“(BebeRapa haRi yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya dituRunkan (peRmulaan) al-QuR'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antaRa yang hak dan yang bathil).” (QS. 2: 185)
Dan diRiwayatkan daRi Abu HuRaiRah ia beRkata, Rasulullah beRsabda,

كَانَ رَسُولُ اللهِ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ يَقُولُ: قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ, شَهْرٌ مُبَارَكٌ, كَتَبَ اللهُ عَليَْكُمْ صِيَامَهُ, فِيهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ اْلجَنَّةِ, وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ اْلجَحِيمِ, وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ, فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ, مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ (رواه أحمد والنسائي)
“Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam biasanya membeRi kabaR gembiRa kepada paRa shahabatnya dengan beRsabda,'Telah datang kepada kalian bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh beRkah, Allah telah mewajibkan kalian beRpuasa Ramadhan, Pada bulan ini pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu jahannam ditutup, tangan-tangan syetan dibelunggu, dan di dalamnya teRdapat satu malam yang lebih baik daRipada seRibu bulan, maka baRangsiapa yang dijauhkan (dihaRamkan) daRi kebaikannya, maka benaR-benaR telah dijauhkan.” (HR. an-Nasa’i)

Ma’asyiROl Muslimin yang diRahmati Allah
Dan wahai hamba-hamba Allah yang haus akan pengabdian dan ketaatan kepadaNya, jangan biaRkan ia beRlalu dan lewat begitu saja di depan mata, cukuplah Ramadhan yang lalu menjadi pelajaRan dan sekaligus penyesalan yang nyata, kaRena telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada, yang telah Allah anugeRahkan kepada kita, dengan hanya membawa sedikit daRi sekian banyak dan beRlimpah Ruahnya kebaikan-kebaikanNya yang teRsedia. Atau bOleh jadi tidak sedikitpun pahala yang teRbawa, kaRena banyak amalan utama yang tak teRjaga, dan hilang dengan sia-sia. Allah Ta’ala beRfiRman,

ياأيهاالَّذِينَ ءَامَنُوااتَّقُوااللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوااللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوااللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (الحشر: 18-19)
“Hai ORang-ORang yang beRiman, beRtaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diRi mempeRhatikan apa yang telah dipeRbuatnya untuk haRi esOk (akhiRat), dan beRtaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu keRjakan.Dan janganlah kamu sepeRti ORang-ORang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan meReka lupa kepada diRi meReka sendiRi.MeReka itulah ORang-ORang yang fasik.” (QS. Al-HasyR:18-19)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

sumber: Abu Nabiel Muhammad Ruliyandi:: Compiled by oRiDo™ ::

39. Kriteria Akal Yang Sehat


Khutbah Jum'at Drs. St. Mukhlis Denros
Masjid Nurul Huda
Jorong Balai Pandan Nagari Cupak
Kecamatan Gunung Talang
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 8 Juli 2011

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ، اَلنَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.”[Ali Imran 3;190-191]

Hadirin, sidang jum’at yang mulia,
Kembali kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya sebagai bekal hidup kita mengarungi dunia ini agar selamat di dunia dan di akherat, semoga kita mampu mengujudkan syukur itu dengan selalu mendekatkan diri kepada-Nya.
Shalawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, sebagai nabi dan rasul penutup risalah ini.

Kemudian marilah kita selalu meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah dengan melaksanakan ibadah rutin dari shalat satu ke shalat berikutnya, dari jum’at satu ke jum’at berikutnya dari ramadhan tahun lalu menuju ramadhan berikutnya, yang semua itu sebagai bekal hidup dan sebaik-baik bekal hidup di dunia ini adalah taqwa.

Hadirin, sidang jum’at yang mulia,
Ada dua kata yang hampir sama tapi berbeda hakekatnya yaitu kata “pintar” dan “cerdas”, begitu pula lain substansialnya antara “fikiran” dan “akal”.
Yang dimaksud dengan pintar adalah kemampuan rasio seseorang untuk menganalisa permasalahan melalui pembelajaran sedangkan cerdas adalah kemampuan rasio tanpa melalui pembelajaran tapi anugerah dari Allah yang disebut dengan fithrah atau bawaan dari lahir.
Fikiran adalah rasio sedangkan akal adalah jalinan antara rasio dan rasa, setiap orang yang berakal pasti dia berfikir dan berasa, tapi orang yang berfikir belum tentu punya rasa.

Itulah makanya terlalu banyak kata-kata yang muncul dalam Al Qur’an menyebutkan “akal” dari pada fikir serta membingkai kecerdasan akal itu dengan nilai-nilai Ilahiyyah agar tidak disalahgunakan bagi kepentingan hawa nafsu dan bisikan syaitan.

Akal yang cerdas memiliki kriteria dengan acuan Al Qur’an serta Hadits Rasulullah yaitu;

Pertama, akal dikatakan cerdas bila digunakan untuk mentadabbur, merenungi kandungan Al Qur’an untuk kepentingan kualitas iman dan pengabdian kepada-Nya, Allah menjelaskan;
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”[An Nisa’ 4;82]

Kecerdasan akal harus tunduk kepada kebenaran yang didatangkan Allah berupa wahyu-Nya. Akal yang tunduk menjauhkan dirinya dari sombong atas kemampuan yang dimiliki, padahal akal tersebut harus dimanfaatkan sesuai kepentingan Allah yang menjadikannya.

Tidak sedikit hasil akal yang cerdas yang tanpa dibingkai oleh nilai-nilai Ilahi dapat menghancurkan manusia serta merusak tatanan alam ini. Akal yang tidak memperhatikan wahyu Allah walaupun menghasilkan karya-karya gemilang berarti hati orang yang punya akal tersebut telah terkunci sehingga tidak mau menerima kebenaran apalagi untuk memperjuangkannya, Allah berfirman dalam surat Muhammad 47;24
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”

Hadirin, sidang jum’at yang mulia,
Kedua, akal yang cerdas tersebut adalah akal yang digunakan untuk tafakkur yaitu memikirkan alam ini sebagai kajian yang hasilnya membuat akal tersebut semakin kagum dengan kekuasaan Allah bukan malah merendahkannya. Banyak orang yang punya akal yang digunakan untuk mempelajari alam raya ini akhirnya tunduk dan patuh kepada kebenaran sehingga merubah posisinya dari non muslim siap menyerahkan diri sebagai seorang muslim, dari muslim yang maksiat menjadi orang yang taat [Ali Imran 3;190-191]
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

Ketiga, akal yang cerdas adalah akal yang senantiasa zikrul maut yaitu mengingat kematian, suatu hari kepastian untuk menghisab manusia dan mempertanggungjawabkan segala kerjanya di dunia ini.

Ada beberapa hadits yang menjelaskan keutamaan mengingat perihal kematian itu, diantaranya adalah;
“Perbanyaklah mengingat-ngingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan [kematian]” [HR.Turmuzi].
“Perbanyaklah mengingat kematian, sebab yang sedemikian itu akan menghapuskan dosa dan menyebabkan timbulnya kezuhudan di dunia”.
“Secerdik-cerdik manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baqa dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akherat”[HR.Ibnu Majah].

Bila orang hanya memikirkan dunia dan kehidupannya saja tanpa memikirkan apa setelah kehidupan ini tidak layak dikatakan berakal sebab dunia ini hanya sementara, ibarat perjalanan dia hanya sebagai tempat singgah bagi seorang musafir. Bagaimanapun juga untuk lari dari kematian itu maka pasti akan ditemui juga sebagaimana firman Allah dalam surat Al Jumu’ah 62 ;8
“’Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan".

Hadirin, sidang jum’at yang mulia,
Keempat , orang yang memiliki akal yang cerdas adalah orang yang disamping zikrul maut juga memikirkan akibat dari maut tersebut, Rasulullah bersabda,”Orang-orang yang cerdas itu adalah yang beramal untuk setelah mati”.

Bahkan jiwa raganya akan bangkit untuk melakukan amal-amal shaleh guna mempersiapkan bekal untuk hari yang dijanjikan [kiamat]. Ia akan diberi karunia oleh Allah bersama para nabi, para siddiqin, para syuhada’ dan para shalihin, dan mereka itulah sebaik-baik teman;
“Saya mendengar Rasulullah bersabda,”Di hari kiamat nanti matahari akan mendekati manusia, sehingga jaraknya hanya satu mil. Manusia akan berada dalam keringatnya masing-masing sesuai dengan amal perbuatannya. Ada yang keringatnya sampai mata kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai setengah badan dan ada yang tenggelam sampai mulutnya…”

Demikianlah situasi hidup sesudah mati dan kampung akherat bagi orang yang tidak takut kepada Allah, tempat mereka tidaklah menyenangkan, kecuali orang-orang yang menggunakan waktunya di dunia dengan baik untuk beribadah, beramal shaleh dan meningkatkan kualitas iman sebagai bekal dia di akherat maka bagi mereka adalah syurga.

Akal yang cerdas adalah akal yang terbimbing oleh wahyu dan terbingkai dengan nilai-nilai Ilahiyyah yaitu dienul islam, fikiran dan perasaannya jauh dari kontaminasi dan dominasi fikiran sekuer dan orientalis yang dikenal dengan “Salamatul Fikrah” adalah fikiran dan perasaan yang selamat.

Seorang Profesor di Thailan meneliti Al Qur’an, dia menemukan ayat yang mengabarkan bahwa setiap manusia yang masuk neraka akan dibakar sampai hangus lalu diganti dengan kulit baru dan demikian selanjutnya, dia berfikir, kenapa kulit dan tidak daging yang dibakar sampai hangus. Dalam penelitiannya dia menemukan bahwa manusia merasakan sakit bila dicubit atau dibakar lantaran adanya syaraf kulit bagian luar, ini yang merasakan sakit, bila saraf kulit bagian luar ini diangkat,walaupun manusia tadi dihantam dan dicincang maka tidak akan merasakan sakit. Sehubungan dengan ayat Allah dan pengetahuannya akhirnya dia menyatakan diri masuk islam.

Hadirin, sidang jum’at yang mulia,
Kita sebagai muslim sering disebut dengan cendikiawan muslim atau ulul albab yaitu orang yang mampu mempotensikan fikiran dan perasaannya untuk pengembangan dirinya sehingga perangkat fikir tersebut jadi akal yang cerdas, demikian pula halnya ada organisasi yang menampung orang-orang yang cerdas akalnya. Bila tidak sesuai dengan kriteria diatas, layaklah dikatakan memiliki akal yang cerdas, cendikiawan atau ulul albab ?, wallahu a’lam.[Mdr, 2009]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ




38. Akhlak Pergaulan Muslim


Khutbah Jum'at Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurul Yakin
Jorong Cubadak Nagari Pianggu
Kecamatan IX Koto Sungai Lasi
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 24 Juni 2011

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،:

, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat”. [An Nur 24; 27]

Hadirin, sidang jum’at yang mulia,
Kembali kita hadir di rumah Allah ini untuk menyampaikan puji syukur kepada-Nya atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita sebagai bekal hidup dengan segala fasilitasnya, syukur tersebut dibuktikan dengan amaliah ibadah sehari-hari, salah satunya adalah melaksanakan shalat jum'at pada hari ini, yang kemudian diiringi dengan ibadah-ibadah lainnya sepanjang hari.

Shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw, beliaulah pejuang kehidupan dan hak-hak azasi di dunia ini hingga kebenarannya diikuti oleh pengikutnya hingga akhir zaman.

Suatu kewajiban bagi kita untuk meningkatkan iman hingga mencapai derajat taqwa dan menambah ibadah sehari-hari sehingga aktivitas yang dilakukan selalu berorientasi mencari ridha Allah Swt.

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah,
Islam telah mengatur agar setiap muslim mampu dan mau menjalankan batas-batas tertentu dalam pergaulan, tidak bebas dan liar sebagaimana pergaulan orang-orang kafir. Adapun rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam pergaulan yaitu;

1.Ghadhul Bashar
Ghadhul bashar artinya menundukkan pandangan ketika melihat lawan jenis yang bukan muhrimnya sebagaimana firman Allah dalam surat An Nur 24;30-31
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.

Lelaki dan wanita yang baik, ketika berkomunikasi dengan lawan jenis dalam urusan yang penting sekalipun dia tetap menundukkan pandangan, tidak liar apalagi menatap mata orang yang diajak bicara, karena ketika terjadi saling pandang kesannya mudah dimasuki syaitan, Rasulullah bersabda,"Pandangan adalah salah satu anak panah iblis"

Yang dimaksud dengan ”menahan pandangan” artinya memelihara pandangan, mengalihkan pandangan dan tidak tertuju pada satu pandangan saja. Rasulullah bersabda, ”Dua mata itu dapat berzina, dan zinanya adalah memandang”. Pandangan syahwat dilarang karena dalam memandang itu ada kesenangan seksual. Dari memandang dengan syahwat menunjukkan kerendahan akhlak. Dengan memandang dapat merusak kestabilan berfikir dan dari pandangan syahwat dapat mengganggu ketentraman berfikir. Rasulullah menegur Ali yang ketika itu masih muda remaja, ”Hai Ali, janganlah sampai pandangan yang pertama diikuti pandangan yang lain. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama dan tidak ada pandangan berikutnya”. [HR. Ahmad]

Rasulullah bersabda,"Semua mata kelak akan menangis dihari kiamat, kecuali mata yang ditundukkan dari pandangan yang haram, mata yang terjaga ketika jihad fi sabilillah dan mata yang darinya menetes air mata sekalipun sebesar kepala lalat karena takut kepada Allah" [Ibnu Abi Dunia]

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah,
2.Melarang Tabarruj
Islam melarang tabarruj yaitu memamerkan kecantikan di hadapan lawan jenis yang bukan mahramnya, Allah berfirman dalam surat Al Ahzab 33;33
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya''

Memakai hiasan dibolehkan asal tidak berlebih-lebihan sehingga terkesan menor. Parfum untuk wanita dinyatakan oleh Rasulullah adalah warnanya yang pekat tapi harumnya sederhana sedangkan untuk lelaki warnanya kalem tapi wanginya semerbak. Ini semua juga untuk menjaga harga diri wanita, bahkan berdandan dan berhias merupakan sunnah Rasulullah, namun sudah disalah artikan oleh kaum ibu kita. Dia akan berdandan sebaik-baiknya, semenarik mungkin ketika akan pergi ke pesta. Jadi dandanannya untuk lelaki lain, dikala di rumah hanya memakai daster saja, bedak beras yang tebal dan rambut dikerol, bau bajupun belum hilang bekas bawang dan asap di dapur.

Dalam Hadit yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah Rasulullah bersabda,"Perempuan mana saja yang pakai parfum kemudian ia keluar rumah dan melewati kelompok manusia agar mencium keharumannya, maka ia adalah pezina dan setiap mata yang memandang juga pezina".

3.Minta izin ketika masuk rumah orang lain
Allah memberikan peringatan dalam surat An Nur 24; 27;
, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat”.

Apa pentingnya meminta izin masuk ke rumah orang lain walaupun tetangga kita ataupun rumah sahabat kita ? Hal ini untuk menjaga kesopanan, apalagi bila orang rumah ketika itu belum siap menerima tamu dengan pakaian yang rapi sesuai syar’i. Bila ada sinyal izin dan salam sebelum bertamu tentu yang di dalam rumah membereskan segala bentuk yang tidak layak pandang. Untuk itulah dalam rumah tangga harus ada hijab yaitu pembatas antara satu dengan lainnya, ada ruang tamu dan ruang keluarga yang tidak boleh dilihat oleh orang lain apalagi kamar pribadi. Rasulullah bersabda,''Hanyasanya disyariatkan minta izin, tujuannya adalah untuk menjaga pandangan" [HR. Bukhari Muslim]

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah,
4.Memisahkan tempat tidur anak
Anak-anak yang sudah baligh tidak boleh tidur bersama orangtuanya dan juga harus dipisahkan tidurnya dengan saudara-saudara yang perempuan sebagaimana sabda Rasulullah;"Perintahkan anak-anak kalian dengan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah kalau mereka tidak mau mengerjakan shalat pada usia sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidurnya" [HR. Abu Daud]

Anjuran Rasul ini sangat disikapi bagi ahli pendidikan zaman sekarang karena begitu anak memasuki masa baligh maka keinginan biologisnya sudah berfungsi normal sehingga mudah sekali teransang apalagi pengaruh gambar-gambar dan film-film yang tidak layak ditonton.

5.Minta Izin Masuk Kamar Orangtua
Anak-anak tidak boleh sembarangan keluar masuk kamar orangtua tanpa izin terlebih dahulu, dan dibolehkan masuk ke kamar orangtua setelah minta izin juga ada waktu-waktunya sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat An Nur 24;58,;
”Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak lelaki dan wanita yang kamu miliki dan orang-orang yang belum baligh diantara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali dalam satu hari, sebelum subuh, setelah zhuhur dan sesudah shalat Isya. Itulah tiga aurat bagi kamu, tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari tiga waktu itu...”

Tiga waktu yang harus kita perhatikan dalam rumah tangga, perlu dengan kamar orangtua jangan slonong boy tapi minta izin terlebih dahulu walaupun pintu tidak dikunci. Waktu sebelum subuh karena orangtua sedang tidur, orang tidur biasanya dalam posisi yang tidak menentu, apalagi suami isteri, walaupun orangtua kita, tapi tidak layak melihat pemandangan demikian. Dikala siang hari setelah shalat zhuhur, biasanya di Arab siang hari itu suami isteri istirahat di kamarnya, karena gerah dan letih sehingga masing-masingnya melepas pakaian luarnya. Inipun tidak layak disaksikan walaupun oleh orang yang paling dekat yaitu anak atau pembantu. Demikian pula setelah shalat isya, orangtua berangkat tidur.

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah,

6.Larangan berkhalwat
Khalwat artinya menyendiri dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya. Cara ini lebih ampuh untuk mencegah timbulnya fitnah maupun syahwat. Kita boleh percaya dengan kemampuan diri sendiri dalam masalah khalwat, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah sekali-kali bersendirian dengan seorang wanita yang tidak bersama mahramnya karena yang ketiganya adalah syaitan”.

Dalam hadits lainpun Rasulullah memberi peringatan; hindarilah keluar masuk rumah seorang wanita, seorang lelaki Anshor bertanya, ”Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang ipar ? Jawab Rasul, ”Bersepi-sepia dengan iparnya sama dengan maut”.

Dalam zaman yang serba modern ini bukankah terlalu banyak perbuatan bersunyi diri dengan lawan jenis dilegalkan sehingga tempat-tempat hiburan dan wisata laku pesat oleh anak-anak muda untuk melampiaskan nafsu birahinya sementara orang lain menerima keuntungan. Demikian pula setiap film, sinetron dan drama ditayangkan memberikan gambaran bahwa pacaran, bergandengan tangan, berpelukan, berciuman dan kumpul kebo seolah-olah dibolehkan dan seolah-olah itu adalah gaya hidup yang harus ditiru. Bagi remaja yang tidak punya pacar dan menjaga kesuciannya dianggap kuno dan ketinggalan zaman.

Tapi akibatnya terlalu banyak nikah yang dipaksakan karena hamil terlebih dahulu, sekolah atau kuliah terbengkalai karena harus menggendong anak hasil perbuatan zina yang diawali dari berkhalwat. Bahkan banyak anak-anak yang tidak tahu kepada siapa dia harus memanggil ”Ayah” sebab sejak dia lahir sang ayah tak pernah ada disampingnya.

7.Larangan bercengkrama
Cengkrama adalah medan syahwat yang sangat efektif untuk menundukkan manusia. Dari cengkrama berkembang menjadi janji, kencan dan perbuatan maksiat lainnya.
Bukan berarti Islam tidak membolehkan kita bercengkrama. Tetapi terlalu banyak bercengkrama tadi yang hanya menjurus kepada kata-kata kotor dan keji yang mengandung maksiat ini yang tidak boleh. Apalagi cengkrama dengan wanita yang bukan muhrimnya. Tidak sedikit perbuatan zina terjadi yang diawali dari canda dan cengkrama yang saling meresfon, apalagi canda yang sudah mengarah kepada saling pukul, saling cubit, saling pegang maka akan terjadilah saling-saling yang lain

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah,
8.Larangan bersentuhan
Asy Syarbani mengatakan, ”Kalau memandang saja diharamkan, maka bersentuhan juga diharamkan, karena ia lebih sampai pada kenikmatan yang lebih besar pengaruhnya terhadap syahwat”, ulama fiqih sepakat mengatakan bahwa Rasulullah tidak pernah bersentuhan dengan wanita yang bukan muhrimnya, apapun alasannya bahkan ketika terjadi perjanjian Bai’ah yaitu janji setia orang-orang Madinah dengan Rasulullah yang diikuti oleh kaum wanitanya, Rasul menjabat tangan kaum lelakinya dan tidak berjabat tangan dengan kaum wanita, hanya dengan ucapan saja dibalik tabir sebagaimana yang diungkapkan oleh Siti Aisyah, ”Tidak, demi Allah, tidak pernah sekali-kali tangan Rasulullah menyentuh tangan wanita lain. Beliau mengambil Bai’ah mereka hanya dengan perkataan”.[ HR.Bukhari dan Muslim].

Fenomena sentuhan ini dizaman modern ini tidaklah tabu lagi. Bahkan peluk, dekapan dan gandengan tangan dengan yang bukan muhrim sudah dianggap wajar. Semua ini akibat program modernisme yang disalah artikan. Lihatlah bagaimana wajarnya bagi mereka tentang sentuhan ini ketika kita menyaksikan adegan televisi sebangsanya kuis atau temu ramah para remaja bahkan orang-orang yang sudah dewasa, semua adegan tidak lepas dari sentuhan.

9.Larangan ikhtilat
Yang dimaksud dengan ikhtilat ialah campur baur antara lelaki dan wanita seperti di jalan raya, di kendaraan, menghadiri tontonan seperti di bioskop, show artis, tempat bekerja dan tempat menuntut ilmu sampai di tempat-tempat rekreasi semua itu merupakan ladang-ladang subur terjadinya proses perbuatan zina.

Siti Maryam adalah wanita yang shalehah. Hidupnya diabdikan di mihrab Masjidil Aqsha. Dia tidak pernah bergaul dengan lelaki lain sehingga kedatangan Jibril yang menyerupai manusia ganteng itu untuk menyampaikan kabar gembira kalau Maryam dengan izin Allah akan punya anak walaupun tanpa suami. Ia hardik malaikat itu dengan kata-kata santunnya dalam surat Maryam 19;16-19
"Dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus roh Kami kepadanya, Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: "Sesungguhnya Aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa". Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya Aku Ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci".

Bayangkan, orang yang bertaqwa saja tidak boleh berkhalwat apalagi orang yang imannya tanggung dan tidak punya pengetahuan islam yang memadai.

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah,
10.Wajib menutup aurat
Aurat adalah bagian tubuh yang sensiitif. Tingkat kesensitifannya mahram dan bukan mahram berbeda sehingga batas yang harus ditutuppun berbeda. Rasulullah bersabda, ”Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki lainnya dan begitu juga wanita tidak boleh melihat aurat wanita lainnya” [HR. Bukhari].

Di tengah masyarakat Islam masih terdapat bahkan terlalu banyak wanita yang tidak menutup auratnya dengan baik. Mereka lebih suka pakaian yang diimport oleh orang-orang kafir dengan mode mini, tipis, ketat dan menonjolkan aurat yang seharusnya ditutup. Bahkan perguruan-perguruan Islampun masih belum serius dan tidak tegas terhadap pakaian ini sehingga tidak ada beda sekolah yang dikelola ummat Islam dengan yang dikelola non muslim. Ironinya guru yang mengajarpun tidak mampu berpakaian secara Islami.

Di Afghanistan bila ada kaum wanita yang keluar rumah tanpa memakai busana muslimah, maka para remaja dan pemudanya mengusir kaum ibu itu untuk masuk kembali ke rumahnya. Mereka malu bila ibu-ibunya keluar tanpa memakai jilbab.

"Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" [Al Ahzab 33;59]

11.Larangan wanita pergi sendiri
Wanita kodratnya tak dapat melindungi dirinya sendiri. Oleh karena itu seorang wanita muslimah dilarang pergi sendirian tanpa muhrimnya, apalagi kepergian itu dengan jarak yang jauh dan waktu yang lama, Rasulullah bersabda, ”Janganlah sekali-kali seorang lelaki melepas seorang wanita kecuali bersama mahramnya, ada seorang lelaki bertanya, ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteri pergi untuk menunaikan ibadah haji, sedangkan saya telah tercatat untuk ikut dalam peperangan”, beliau menjawab, ”Pergilah kamu dan berhajilah bersama isterimu” [Bukhari dan Muslim].

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah,
12.Bila bicara tegas
Seorang wanita boleh bicara dengan orang lain selama memperhatikan sikap dan menjaga kepribadian muslimahnya. Diantaranya dia tidak boleh bicara dengan nada merayu, lembut dan manja kepada orang yang bukan muhrimnya. Apalagi dengan sikap manja dan ingin dimanja karena hal ini akan mengundang lelaki lain tertarik kepadanya. Bukan berarti bersikap kasar dan suara keras, tapi bicaralah dengan tegas dan tepat, tidak bertele-tele dan bermanja-manjaan.

Ibnu Katsir berkata, ”Wanita dilarang dengan lelaki asing dengan ucapan lunak sebagaimana dia berbicara dengan suaminya”, wanita boleh bermanja-manja atau bicara dengan suara lembut mendayu hanya boleh kepada suami, ayahnya, kakak atau adik kandungnya atau anak dan cucunya.

Dikala dia diganggu oleh lelaki lain, dia harus bicara tegas dengan nada pasti, ”Jangan” sehingga lelaki tadi berfikir dua kali untuk bersikap tidak sopan kepadanya. Tapi bila ucapan wanita itu mengatakan, ”Jangan ah” sambil menampakkan sikap genit lagi manja tentu akan mengundang dan mengandung hasrat dari lelaki tersebut.

Dari semua rambu-rambu dalam pergaulan tersebut diatas adalah dalam rangka jangan sampai terjadi perzinaan, kalau kita mampu menjauhkan diri dari hawa nafsu panasnya api maka tidak mungkin kita akan mencebutkan diri ke dalam api. Sedangkan mendekati zina saja sangat membahayakan apalagi berada dalam kancah perzinaan, semua itu untuk mensucikan jiwa kita agar bersih dari gesekan dan gosokan syaitan dan terhindar dari tipu dayanya.

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah,
Allah memberikan hiburan segar kepada orang-orang yang mampu membersihkan kesucian jiwanya dengan balasan syurga;
”Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu” [Asy Syam 91;8-9]
, ”Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga-Ku’ [Al Fajr 89;27-30]

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم


37. Menghindari sikap ekstrim


Khutbah Jum'at Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurul Yakin
Jorong Cubadak Nagari Pianggu
Kecamatan IX Koto Sungai Lasi
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 27 Mai 2011

الْحَمْدُ لِلَّ‍هِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛ مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ.
اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْ
ُ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،:

”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prangsangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”.

Hadirin, sidang jum’at yang mulia,
Kembali kita hadir di rumah Allah ini untuk menyampaikan puji syukur kepada-Nya atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita sebagai bekal hidup dengan segala fasilitasnya, syukur tersebut dibuktikan dengan amaliah ibadah sehari-hari, salah satunya adalah melaksanakan shalat jum'at pada hari ini, yang kemudian diiringi dengan ibadah-ibadah lainnya sepanjang hari.

Shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw, beliaulah pejuang kehidupan dan hak-hak azasi di dunia ini hingga kebenarannya diikuti oleh pengikutnya hingga akhir zaman.

Suatu kewajiban bagi kita untuk meningkatkan iman hingga mencapai derajat taqwa dan menambah ibadah sehari-hari sehingga aktivitas yang dilakukan selalu berorientasi mencari ridha Allah Swt.

Hadirin, sidang jum’at yang mulia,
Orang yang tidak senang kepada Islam memberikan beberapa tuduhan dan julukan kepada ummatnya dengan nama :
1. Fanatik kepada ummat islam yang berpegang teguh kepada ajaran
islam,
2. Fundamentalis disebabkan sepak terjang ummat islam berpedoman
kepada islam
3. Julukan ekstrim yaitu berlebihan dalam agama.

Ekstrim yaitu berlebihan dalam agama. Ekstrim dalam bahasa Arab disebut dengan Tatharuf Diniy yaitu melampaui batas tengah agama, sedangkan islam mengajak kepada jalan tengah dalam segala hal, baik dalam ibadah, menuntut ilmu dan mencari harta,
”Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatanmu”[Al Baqarah 2;143].

Umat pilihan yang adil yaitu umat yang pertengahan; tidak mementingkan kerohanian saja, tidak pula mementingkan kebendaan melulu, dia mementingkan dunia dan akherat, nabi bersabda, ”Hindarilah sikap melampaui batas dalam agama karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa karenanya” [Ibnu Abbas].

Hadirin, sidang jum’at yang mulia,
Ekstrem dengan pengertian berlebihan dalam agama tidak pula disukai dan bertentangan dengan tanda-tanda;

1. Fanatik Kepada Satu Pendapat
Sikap ini mengakibatkan tidak mengakui pendapat orang lain karena menganggap pendapat merekalah yang benar, seolah-olah mereka berkata, ”hak saya untuk berbicara dan kewajiban anda untuk mendengar, hak saya untuk menetapkan suatu dan kewajiban tuan untuk melaksanakannya”, orang yang memiliki sifat ini cendrung menyalahkan orang lain, mereka mau berdebat mati-matian untuk membela dan mempertahankan pendapatnhya walaupun pendapat itu nyata kesalahannya.

2. Kewajiban Yang Tidak Diwajibkan Allah
Dia memberi beban kepada diri sendiri untuk melaksanakan yang sulit padahal ada pekerjaan yang mudah, seperti
a. musyafir atau orang sakit boleh tidak puasa pada bulan Ramadhan
dengan jalan mengqadhanya pada hari yang lain,
b. shalat tidak kuat berdiri boleh dilakukan dengan duduk, tidak kuat
duduk silahkan berbaring,
c. shalat bagi musyafir diringankan Allah melalui jamak atau qashar,
d. bahkan dalam cuaca dingin walaupun dalam keadaan junub dia
khawatir atas kesehatan dan keselamatannya kalau kena air, Allah
meringankan dengan tayamum.
”Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” [Al Baqarah 2;185].

Namun nabi Muhammad dalam shalat sendiri sangat panjang ayat yang dibacanya tapi ketika shalat berjamaah bacaan beliau sangat ringan sebagaimana sabda beliau, ”Adakalanya aku hendak memanjangkan shalatku, lalu ku dengar tangis anak sehingga kuringankan shalatku, karena aku mengetahui kegelisahaan ibunya terhadap tangis anaknya” [HR.Anas]

Hadirin, sidang jum’at yang mulia,
3. Memperberat bukan pada tempatnya.
Allah memberikan kemudahan dalam segala hal, hanya ummatnya saja yang kadangkala belum tahu ajaran islam, sebagai contoh;

a. orang yang baru masuk islam harus diringankan dulu kewajiban agamanya terhadapnya dengan shalat memakai bahasa Indonesia sebisanya atau dengan gerakan saja,

b. puasa anak kecil cukup setengah hari dalam rangka memberikan latihan

c.Ketika memberantas khamar Rasulullah melakukan dengan tiga periode bukan sekaligus, pertama diberitahukan bahwa khamar itu sedikit manfaatnya sementara para sahabat masih meminumnya, periode kedua dikatakan bahwa boleh minum khamar tapi jangan shalat karena dikhawatirkan nanti bacaan shalatnya tidak benar, barulah yang ketiga dengan tegas bahwa khamar itu haram diminum sedikit atau banyak, mabuk ataupun tidak bukan alasan untuk membolehkan meminumnya.

4. Bersikap kasar dan keras.
Watak ekstrim yang keempat yaitu berlaku kasar dan keras dalam segala hal, baik dalam berkomunikasi, berkata ataupun dalam bertindak. Islam telah memberikan batasan boleh berlaku kasar dan keras dalam dua hal dan tempat yang tepat yaitu;

a. di tengah peperangan dalam menghadapi orang kafir, ”Hai orang-orang yang beriman perangilah orang-orang kafir yang ada di sekelilingmu”,

b.boleh berlaku kasar yang kedua yaitu dalam menegakkan hukum Allah

, ”Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya 100 kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Allah”[An Nur 24;2].

5. Buruk sangka kepada Manusia.
Karena dirasuki sifat buruk sangka, orang akan menyebarkan kesalahan dan keburukan orang lain, menyebarkan fitnah dan isu, bahkan condong menuduh orang telah terjerumus dalam kekafiran padahal nabi telah bersabda,”Hindarilah dari pra sangka, karena sesungguhnya prasangka adalah sebohong-bohong ucapan”[Bukhari dan Muslim]. Dalam surat Al Hujurat 49;12 Allahpun telah berfirman,

”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prangsangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”.

Hadirin, sidang jum’at yang mulia,
6. Terjerumus Dalam Jurang Kekafiran
Karena posisi yang dimiliki cukup baik lalu menganggap golongan sendirilah yang lebih islam sementara golongan lain sesat dan keluar dari islam tanpa dasar yang kuat.
Dalam sebuah hadits nabi bersabda, ”Apabila seseorang mengkhafirkan saudaranya maka kata kafir itu akan kembali kepada salah satunya”. Akibat terbesar atau watak ekstrim yang sangat berbahaya yaitu keenam ini, akhirnyapun sampai terjadi pembunuhan.

Semoga kita mampu melepaskan diri dari sifat dan sikap ekstrim tersebut karena karakter ummat ini adalah ummatan washathan, yaitu ummat pertengahan, kita berbuat apapun selayaknya sesuai dengan minhajul islam, sistim yang telah diajarkan oleh Rasulullah, ambil pelajaranlah hai jamaah jum'at. [Mdr, 2009].


أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم


36. Enam Sikap Merusak Pribadi


Khutbah Jum'at Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurul Yakin
Jorong Cubadak Nagari Pianggu
Kecamatan IX Koto Sungai Lasi
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 29 April 2011

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ واَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ اهْتَدَى بِهُدَاهُ وَعَمِلَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أًمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،

kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah
Pertama sekali kita sanjungkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang telah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepada kita semua sehingga dalam menjalankan kehidupan ini selalu dalam bimbingan-Nya, Amin.

Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam yang telah mengorbankan segala potensi hidupnya untuk menyelamatkan ummat manusia di dunia ini kehidupan yang penuh arti melalui iman dan pengabdian hanya kepada Allah semata.

Kemudian marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa yang diujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui amaliah ibadah yang kita lakukan sebagai bekal memasuki kehidupan kekal abadi yaitu kampung akherat. Taqwa yang sungguh-sungguh itulah kelak akan mendapat tempat yang dijanjikan Allah yaitu syurga jannatunnaim.

Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah
Manusia memiliki kepribadian positif dan negatif yang tercermin pada tingkah laku dalam setiap sepak terjang kehidupan sehari-hari.

Sikap positif nampak dalam tindakan patuh, mencari kebenaran, introsfeksi diri, bekerja, mengadakan lapangan kehidupan.

Sedangkan sikap negatif terlihat pada pembangkangan, cendrung kepada perbuatan maksiat, malas bekerja serta membuat kerusakan baik terhadap diri sendiri, keluarga maupun masyarakat.

Nabi Muhammad Saw bersabda dalam hadits yang datang dari Adi bin Hatim yang diriwayatkan oleh Addailami;

”Ada enam hal yang menyebabkan amal kebajikan menjadi sia-sia [tidak berpahala] yaitu sibuk mengurus aib orang lain, keras hati, terlalu cinta kepada dunia, kurang rasa malu, panjang angan-angan dan zalim yang terus menerus di dalam kezalimannya.”

1. Sibuk meneliti aib orang lain
Dia lebih suka mencari dan menyebarkan keburukan yang terdapat pada orang lain lalu membesar-besarkannya, sementara aib sendiri tidak pernah diperiksa sesuai dengan pepatah lama, ”Kuman di seberang lautan nampak, gajah dipelupuk mata tidak nampak”.

Sebuah riwayat mengisahkan seorang khalifah memperhatikan rakyatnya di tengah malam, lalu dia menemukan dalam sebuah rumah seorang lelaki dan wanita serta minuman khamar yang dihidangkan, dia masuk ke rumah itu dengan memanjat dinding sambil membentak,dan terjadilah dialoq
-Khalifah : Hai musuh Allah, apa kau kira Allah akan menutupi kesalahan ini ?
- Lelaki : Tuan sendiri jangan tergesa-gesa, juga tuan telah melakukan kesalahan.
- Khalifah : Kesalahan apa yang saya perbuat ?
- Lelaki : Kesalahan saya hanya satu yaitu apa yang Khalifah lihat sekarang, sedangkan tuan telah melakukan tiga kesalahan yaitu; memata-matai keburukan orang lain, padahal Allah melarang perbuatan itu, masuk rumah orang dengan memanjat dinding, bukankah ada pintu yang harus dilalui dan masuk rumah tanpa izin tuan rumah.

2. Keras hati
Artinya tidak mau menerima pengajaran yang baik, nasehat yang mengandung maslahat ditolaknya. Tidak suka segala kesalahannya dikritik apalagi dihukumi, dialah yang paling benar, disamping itu hatinya tidak tersentuh oleh penderitaan dan kesedihan orang lain.
Dimasa Rasulullah Saw, terdapat suatu kejadian yang membuat semua sahabat bersedih karena matinya salah seorang anggota keluarga dari mereka, bahkan Nabi Saw pun meneteskan air matanya, sahabat-sahabat disekitarnyapun berlinang air matanya, tapi seorang sahabat nampak biasa-biasa saja, sedikitpun dia tidak tersentuh melihat kejadian itu. Lalu dia bertanya kepada Nabi Saw, maka Rasulullah menjawab, ”Itu tandanya hati yang keras”.

Orang yang keras hati cendrung egois, sombong, takabur dan tidak mau menerima kebenaran, karena hatinya telah beku dan tidak terbuka untuk menerima pengajaran yang benar.

Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah
3. Terlalu cinta kepada dunia
Kehidupan dunia hanya sementara sebagai musafir yang berada dalam perjalanan lalu istirahat pada sebuah tempat. Namun tidak sedikit manusia yang beranggapan tempat istirahat sejenak itulah tujuan sehingga lupa akan tujuan semula.

Diprediksi oleh Nabi Muhammad Saw, bahwa nanti pada suatu masa ummat Islam aan dikeroyok oleh ummat lain sebagaimana mereka menghadapi makanan di atas meja, padahal jumlahnya mayoritas tapi kekuatannya ibarat buih di atas lautan, mudah hancur. Saat itu ummat dihinggapi penyakit yang bernama ”Wahn” yaitu suatu bakteri yang meracuni ummat ini sehingga mereka terlalu cinta kepada dunia dan takut akan kematian.

4. Sedikit rasa malu
Orang yang memiliki sifat ini tidak malu-malu berbuat apapun menurut kemauannya, dosa dan maksiat suatu perbuatan sehari-hari, sedangkan benar dan salah bukan suatu ukuran.
Bila malu habis, maka akan berbuat seenaknya dan beranggapan diri lebih suci dari orang lain. Menurut Abu Hasan Al Mawardi, malu ada tiga macamnya yaitu;
1. malu kepada Allah,
2. malu kepada manusia
3. malu kepada diri sendiri.

5. Panjang angan-angan
Sifat ini menunjukkan kekerdilan manusia, kemauannya lebih tinggi, tidak sesuai dengan kemampuan, dia suka berandai-andai. Ungkapannhya berbunyi, ”Seandainya, andai kata, apabila”. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk berangan-angan dan berkhayal yang macam-macam, tapi sama sekali ia tidak berbuat sesuatu. Dia beranggapan bahwa mengkhayal itu benar, khayalan itu enak dan gratis. Orang yang seperti ini ibarat, ”Pungguk merindukan bulan”, atau ”Katak ingin jadi kerbau”.

6. Perbuatan zhalim yang terus menerus
Watak manusia karena kuat dan kuasa dia melakukan eksploitasi bangsa lain, memeras bawahan dan menindas yang lemah, bila ini dilakukan tidak henti-hentinya, maka akibatnya orangpun terus menerus menanggung dari kezhalimannya. Ahli Hikmat membagi kezhaliman menjadi tiga yaitu ; zhalim kepada Allah dengan Al Fathir ayat 32
,hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.

Berangkat dari ayat diatas tergambar bahwa watak manusia itu ketika melakukan kezhaliman ada tiga yaitu;
1. Tetap menganiaya diri sendiri dengan segala dosa yang dilakukannya.
2. Ada yang pertengahan, antara taubat dan maksiat
3. Ada yang cepat berbuat baik dengan kesadaran.

Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah
Enam sifat inilah yang dapat menghancurkan nilai-nilai ibadah, dia ibarat air di daun keladi, amal yang dilakukan berpahala banyak tapi tertumpah tanpa meninggalkan bekas, bila enam sifat tercela ini terdapat dalam pribadi seseorang, waspadalah atas peringatan Rasulullah Saw tadi

أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.














35. Menyelami sang Pencipta


Khutbah Jum'at Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurul Huda
Jorong Balai Pandan Nagari Cupak
Kecamatan Gunung Talang
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 15 April 2011

اَلْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،:

”Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? mereka berkata: "Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri", kehidupan dunia Telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir” [Al An’am 6;130]

Hadirin, jama’ah jum’at yang dirahmati Allah,
Ujud ketundukan seorang muslim kepada Allah adalah selalu menyanjungkan puji syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah kepadanya karena tanpa nikmat itu hidup kita tidak berarti, apalagi nikmat iman dan islam yang merupakan nikmat terbesar dari Allah Swt, semoga kita mampu membuktikan syukur itu dalam amaliyah ibadah yang kita lakukan.

Shalawat dan salam selalu kita sampaikan kepada Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, Nabi akhir zaman yang telah menunjukkan kepada dunia tentang kebebasan hidup untuk memilih dan meraih kebenaran hakiki yaitu Al Islam, dengan tidak melupakan para syuhada', para sahabat dan keluarga dan kaum kerabat beliau hingga akhir zaman.

Dari mimbar ini khatib mengajak kita semua untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt, yang diiringi amaliah ibadah sehari-hari yang merupakan implementasi rasa syukur kepada-Nya. Adapun tema khutbah pada hari ini adalah, "MENYELAMI SANG PENCIPTA''

Hadirin, jama’ah jum’at yang dirahmati Allah,
Seseorang yang mengenal Allah Swt pasti akan tahu tujuan hidupnya, tujuan mengapa ia diciptakan dan untuk apa ia berada di atas dunia ini. Oleh sebab itu ia tidak akan terpedaya oleh harta benda dunia.
Sebaliknya seseorang yang tidak mengenal Allah, tentu ia akan terpedaya dan terpukau oleh indahnya dunia [6;130] yang pada gilirannya ia habiskan umurnya untuk mencari dunia, menikmatinya layaknya seperti binatang saja [Muhammad 47;12].
”Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.”

Jalan Untuk Mengenal Allah
Tidak sedikit ummat manusia yang keliru mencari Khaliqnya sehingga hidupnya berada dalam kesesatan, jauh dari nilai agama yang benar bahkan mengambil berhala, batu, jin, manusia dan malaikat sebagai Tuhannya, segala bentuk isme dianut sehingga menenggelamkannya kepada kebinasaan. Ada dua jalan untuk mengenal Allah swt dengan baik yaitu;

Pertama, mengenal Allah melalui akal, banyak ayat Al Qur’an yang menggugah kita untuk berfikir [Ar Ra’du 13;3]
“Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Hadirin, jama’ah jum’at yang dirahmati Allah,
Bahkan Allah sangat mencela orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya dan akan memasukkan mereka ke dalam neraka jahanam kelak [Al A’raf 7;179]
“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”

Hadirin, jama’ah jum’at yang dirahmati Allah,
Ayat-ayat Allah yang dapat kita saksikan juga ada dua yaitu;
Ayat-ayat Kauniyyah
Yaitu fenomena alam yang nampak seperti terjadinya alam
1. sesuatu yang terjadi pasti ada yang menciptkannya [52;35],
2.fenomena kehendak yang tinggi misalnya alam ini teratur rapi dan
seimbang berarti yang Maha agung yang menghendaki demikian [67;3],
3.fenomena kehidupan yaitu kehidupan di dunia ini terjadi dari berbagai jenis
dan bentuknya [24;25]
4.berarti disana ada yang menjadikan dan membentuknya, menentukan
rezekinya dan meniupkan ruh kehidupan pada dirinya [29;20],
5.fenomena petunjuk dan ilham seperti ketika kita memperhatikan alam
disana ada petunjuk dari Allah, bagaimana seorang bayi yang baru lahir
bisa mencari susu ibunya, siapa yang mengajar bayi tersebut ?
Seekor ayam betina untuk menetaskan telur yang sedang dieramnya dia selalu membolak-balik telur itu agar rata pengeramannya, siapa yang mengajar ayam berbuat demikian? fenomena pengabulan do’a yaitu suatu hal yang logis kalau manusia ditimpa musibah dia berdo’a dan do’anya itu dikabulkan oleh Allah [17;67].

Ayat – ayat Qur’aniyyah
Yaitu ayat-ayat Allah yang terdapat dalam Al Qur’an berupa ajaran-ajaran konsep hidup, peraturan yang lengkap merupakan mu’jizat yang menunjukkan adanya Allah
1.sampai kini tidak ada manusia yang mampu menandinginya [2;23],
2.pemberitaan Al Qur’an tentang manusia lampau seperti tentang kaum ‘Ad dan Tsamud. Pemberitaan Al Qur’an tentang kejadian-kejadian yang akan datang persis seperti yang dikatakan Al Qur’an seperti tentang kekalahan bangsa Persia atas bangsa Romawi [30;1-3].
3.Penemuan ilmiah yang tidak mungkin ditemukan oleh seseorang umum, tidak pernah belajar, tidak bisa membaca dan menulis, seperti pemberitaan Al Qur’an yang mulanya bumi dan langit satu kemudian terpisah dari langit [21;30].

Hadirin, jama’ah jum’at yang dirahmati Allah,
Kedua, mengenal Allah lewat memahami asma ul husna, yaitu nama-nama Allah yang baik seperti ;
1.Allah sebagai Rabb [Al Mukmin 40;62],
“yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; Maka Bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?”

2.Allah sebagai Penguasa Raya [An Nas 114;2]
“Raja manusia.

3.Allah sebagai Ilah yang wajib disembah [Thaha 20;14].
“ Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.

Hadirin, jama’ah jum’at yang dirahmati Allah,
Hal-Hal Yang Menghalangi Ma’rifatullah
Ada beberapa hal yang menghalangi manusia untuk mengenal Allah yaitu;

Pertama, terhalangnya ma’rifatullah bagi seorang hamba dikarenakan hanya menyandarkan segala sesuatu itu kepada panca indra [Al Baqarah 2;55] dengan alasan karena Allah tidak teraba dan tidak terasa sehingga mereka mengingkari keberadaannya.
”Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya".

Kedua, karena kesombongan, Abu Thalib dan Abu Jahal, satu ketika mereka ditanya oleh seseorang sahabat Nabi tentang kebenaran Islam, maka Abu Jahal menjawab,”Seandainya islam ini turun bukan kepada Muhammad maka sungguh sayalah orang pertama yang memperjuangkan dan mempertahankannya, lantaran karena kepada Muhammad, nanti dulu !”

Demikian pula halnya Heraklius, sudah mengakui kebenaran wahyu Ilahi, bahkan dia pernah berkomentar,”Seandainya Muhammad datang kemari maka akan aku sembah kakinya”, ketika hal itu dia sampaikan kepada pengikutnya, maka para pendeta berkata,”Hai Heraklius, bila anda ingin beriman kepada agama yang dibawa Muhammad, silahkan tapi tinggalkan istana….” Waktu itu Heraklius berkilah “Ah, tidak, saya hanya menguji kalian, sampai dimana loyalitas kalian kepada saya”.
Fir’aun, Haman, Qarun, Namrudz dan tokoh-tokoh sombong lainnya menentang Islam karena kecongkakan mereka.

Ketiga, karena bodoh mereka sehingga tidak tahu mana yang hak dan mana yang bathil , tidak bisa membedakan yang haram dan mana yang halal, yang dibolehkan dan mana yang dilarang oleh agama islam [Al Baqarah 2;188]
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui”

Hadirin, jama’ah jum’at yang dirahmati Allah,
Keempat, yang menyebabkan manusia terhalang untuk mengenal Allah dengan baik adalah karena lengah dan lalainya sebagaimana firman Allah dalam surat Al Anbiya ayat 1-2
”Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).
Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main,”

Kelima, yang menyebabkan manusia tidak dapat mengenal-Nya dengan baik karena ragu-ragu dengan kebenaran [Al An’am 6;109-110]

”Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mu jizat, pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah." Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman. Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.”

Hadirin, jama’ah jum’at yang dirahmati Allah,
Keenam, yang menyebabkan manusia tidak dapat mengenal kepada Allah sebagai Khaliqnya karena taqlid [Al Maidah 5;104] yaitu menerima secara bulat informasi dari orang lain tanpa mau menelaahnya, sehingga terjadilah sesat menyesatkan.
”Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul." Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.”

Hadirin, jama’ah jum’at yang dirahmati Allah,
Demikian pentingnya kita mengenal Allah sebagai Ilah yang wajib disembah, dicintai, ditaati, dikagumi, disyukuri karunianya sehingga menambah kemantapan posisi iman kepada Allah, para hukama dengan bijaksana telah memberikan pedoman, tidaklah kita jauh-jauh belajar tapi selidiki saja apa yang didalam tubuh manusia “Man ’arafa nafsah faqad ’arafa robbah ” Barangsiapa yang mengenal dengan baik dirinya sendiri niscaya dia akan mengenal dengan baik siapa Tuhannya” , wallahu a’lam, [Mdr, 2009]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Jumat, 06 Juli 2012

34. Lidah dan ukhuwah Islamiyyah


Khutbah Jum'at Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurul Yakin
Jorong Cubadak Nagari Pianggu
Kecamatan IX Koto Sungai Lasi
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 8 April 2011

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، دَعَا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ فَاسْتَجَابَ لِدَعْوَتِهِ الرَّاشِدُوْنَ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،

”Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik [benar]. Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi manusia” [Al Isra’;53]

Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah
Selayaknya kita sanjungkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan karunia dan nikmat-Nya kepada kita sehingga kalau kita hitung-hitung nikmat tersebut sungguh tidak terkira jumlahnya, bila nikmat itu kita syukuri maka akan ditambah-tambah oleh Allah dengan nikmat yang lain dan sebaliknya bila diingkari maka azab Allah akan diberikan, dari sekian nikmat-Nya adalah nikmat iman dan islam sehingga kita masih merasakan bagaimana indahnya hidup dalam dekapan hidayah-Nya, semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur atas nikmat tersebut.

Shalawat dan salam kita sampaikan pula kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yang telah menuntun ummatnya ke jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang dahulu yang diberi nikmat oleh Allah bukan jalan orang-orang yang dimurkai apalagi jalan orang yang sesat, dengan banyak membaca shalawat semoga kita mendapat syafaatnya kelak dengan izin Allah, kemudian marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah yang diaplikasikan melalui amal ibadah sehari-hari sebagai bekal menuju akherat.

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah
Sebuah pepatah sering kita dengar, “Mulutmu harimaumu yang akan menerkam dirimu sendiri”. Maksudnya dengan lisannya sendiri seseorang akan binasa bila tidak berhati-hati dalam mengendalikannya.

Bila perkataan benar dan bermanfaat, tentu ia akan selamat didunia akherat, namun bila ucapannya itu menyesatkan atau tidak ada faedahnya, ia akan terseret pada kenistaan disebabkan ucapannya itu.

1. Abu Hurairah, seorang sahabat Rasululah Saw suatu hari menjumpai seorang laki-laki pecandu minuman keras tengah teler [mabuk]. Abu Hurairah menangkap pemuda itu, kemudian membawanya kepada Nabi agar dihukum. Sahabat-sahabat Rasulullah yang berkumpul di sekitar Nabi merasa geram dengan pria pemabuk itu. Diantara mereka ada yang mengatakan, ”Saya akan memukulnya dengan tangan saya sendiri”, ”Saya akan tempeleng dia dengan sandal”, ”saya akan hantam dia dengan baju”. Ketika lelaki itu berpaling ke arah sahabat, salah seorang diantara mereka berkata lagi, ”Semoga Allah menghinakanmu...”

Mendengar berbagai ucapan ini Rasulullah bersabda, ”Janganlah kalian mengatakan demikian, janganlah kalian meminta bantuan syaitan dalam menghadapinya”. Ucapan makian, kendati terhadap orang yang bersalah, memang tidak akan mendatangkan kebaikan, ”Ia hanya akan menimbulkan perselisihan yang lebih tajam atau dendam kesumat yang tidak berkesudahan, Allah berfirman;
”Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik [benar]. Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi manusia” [Al Isra’;53]

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah
2. Ketika Rasulullah sedang duduk-duduk dengan para sahabat memberikan beberapa tausiyah sebagai bekal dalam hidup. Lalu Rasulullah berkata dengan sabda, ”Sebentar lagi akan lewat seorang manusia yang telah ditentukan Allah sebagai ahli syurga kelak”. Semua sahabat sama-sama menantikan kedatangan orang yang dimaksud, Abu Zar Al Ghifari sangat penasaran setelah diberitahukan orang yang lewat di hadapan mereka.

Dengan keberanian Abu Zar Al Ghifari mendatangi rumah orang itu dan bermalam disana hingga tiga malam,tapi dia tidak melihat ibadah yang istimewa yang dilakukan orang itu. Karena menurut pengamatannya lelaki itu biasa-biasa saja, tapi kenapa dikatakan sebagai calon penghuni syurga oleh Rasulullah, sebelum pamit Abu Zar bertanya tentang kelebihan lelaki itu, dia mengatakan, ”Saya mampu menahan lidah, tidak sembarangan berucap yang mengakibatkan orang lain tersinggung,tidak mengobral janji dan tidak mudah menggunjingkan orang”.

3. Rasulullah memberi nasehat kepada sahabatnya Muadz bin Jabbal, bahwa kunci yang paling pokok dalam akhlak adalah memelihara lidah, ”Maukah kuberitahukan tentang tiang penyangga semua itu ?” kata Rasulullah kepada Muadz ,”Tentu wahai Rasulullah” jawab Muadz, maka beliau berkata, ”Peliharalah ini olehmu”, sambil menunjukkan lidahnya. Muadz bertanya ”Wahai Rasulullah, apakah kami akan disiksa dengan sebab perkataan kami?” Rasul menjawab,”Ibumu kehilangan kamu wahai Muadz, adalah orang yang tersungkur dalam neraka di atas wajah-wajah mereka tidak lain karena akibat lisan mereka” [HR. Turmuzi].

4. Karena peringatan ini, para shalafus shaleh sangat berhati-hati ketika berbicara. Umar bin Khattab menjelaskan makna nasehat Rasulullah kepada Muadz ini dengan ungkapan yang tepat, ”Barangsiapa yang banyak bicara, banyaklah terpelesetnya, dan barangsiapa banyak terpelesetnya, banyaklah dosanya,dan barangsiapa yang banyak dosanya nerakalah yang paling patut baginya”.

5. Ibrahim bin Abdullah bin Hatib berkata,”Jangan kalian memperbanyak ucapan selain zikrullah. Karena banyak omong itu menjadikan kesatnya hati. Dan bahwa manusia yang paling jauh dari Allah adalah manusia yang berhati kesat dan kasar”.

”Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan suatu perkataan yang diridhai Allah, sementara ia tak menyangka sedikitpun bahwa perkataannya itu akan membawa akibat yang sedemikian jauh, yakni Allah menetapkan baginya dengan perkataannya itu keridhaan-Nya sampai hari kiamat. Dan ada pula seseorang yang berbicara dengan suatu perkataan yang dimurkai Allah, sementara ia tak menyangka sedikitpun bahwa perkataannya itu akan membawa akibat sedemikian jauh, yakni Allah menetapkan baginya dengan perkataan itu kemurkaan-Nya sampai hari kiamat” [HR. Turmuzi].

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah
6. Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang dapat menjamin kepadaku pemeliharaan yang ada diantara dua buah janggutnya [mulut] dan pemeliharaan apa yang diantara dua kakinya [kemaluan] maka aku jamin ia kepada Allah dengan syurga” [HR. Bukhari]. Dalam sebuah komentarnya Umar bin Khatab berujar, ”Barangsiapa yang banyak bergurau, maka ia akan diremehkan karena gurauannya. Barang siapa banyak melakukan sesuatu, maka ia akan dikawal orang dengan sesuatu itu. Barangsiapa banyak berbicara maka ia akan banyak pula salahnya. Barangsiapa sedikit rasa malunya maka akan sedikit wara’nya [sikap hati-hati dari dosa]. Dan barangsiapa yang sedikit wara’nya, maka akan matilah hatinya”.

Wanita memiliki dua ciri khas, intuisi yang halus dan tajam serta subyektifitas yang lebih besar dibandingkan lelaki. Ciri khas yang halus bukan saja dalam lemah gemulainya perilaku. Tak hanya cara berjalan dengan bentuk tubuh, tapi jenis suara dan gaya bicarapun mencerminkan erotis, syahdu dan merdu. Karena itu, Islam mengharamkan ”desahan nafas” perempuan dengan menyatakan adanya keharusan hijab [tirai]

Lebih jauh untuk merajut ukhuwah islamiyah maka lisan memang harus dikekang jangan sampai merobek-robek ukhuwah dengan mengolok-olok, mencela, memberi gelar yang tidak baik sebagaimana peringatan Allah dalam surat Al Hujurat 49;11,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.”

Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kemudian maka berkatalah yang baik, bila tidak mampu lebih baik diam”.

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah
Lidah adalah senjata manusia untuk berbicara menyampaikan maksud dalam bentuk bahasa, dengan kemahiran lisah seseorang dapat terangkat derajatnya di masyarakat, karena mampu menyalurkan maksud serta jeritan hati umat, dengan lidah da’wah dapat dilakukan sampai kepada propaganda dan obral barang di pasar. Efek positif memang banyak, tetapi banyak pula segi negatifnya, karena lidah ada orang terlempar jauh dari masyarakat sampai terbenam ke penjara.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,”Orang yang tidak meninggalkan kata-kata bohong dan senantiasa berdusta, tidak ada faedahnya ia menahan diri dari makan dan minum”.

Puasa yang tidak menjauhkan manusia dari ucapan dan perbuatan yang tidak baik, tidak ada manfaat puasanya. Hadits lainpun menyebutkan, ”Puasa bukanlah menahan diri dari makan dan minum, tetapi puasa adalah menahan diri dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata yang tidak sopan”.

Demikian pula halnya ibadah Haji, sewaktu mengerjakan ibadah haji orang tidak boleh mengeluarkan ucapan tidak senonoh, tidak boleh berbuat hal-hal tidak baik dan tidak boleh bertengkar,

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah
Dalam ibadah lainpun seperti shalat, yang salah satu asfek harus dicapai ialah melepaskan diri dari perbuatan keji dan mungkar, siapa yang tidak melepaskan diri dari perbuatan keji dan mungkar yang termasuk di dalamnya melepaskan perkataan yang tidak berfaedah, bahkan memfungsikan lidah untuk menggunjing maka amalan shalat, puasa dan hajinya tidak dipandang suatu amalan yang baik, Rasulullah bersabda, ”Shalat yang tidak menjauhkan pelakunya dari kelakuan tidak senonoh dan perbuatan jahil bukanlah shalat”.

Allah melarang hamba-Nya memberikanh sedekah yang diiringi dengan caci maki dan mengungkit-ungkit segala pemberian tersebut. Lebih jauh dalam surat Ibrahim ayat 24-26 Allah memberikan suatu perumpamaan tentang kata-kata yang baik dan keji,
”Tidakkah engkau lihat Allah mengumpamakan kata baik dengan pohon yang subur yang akarnya kokoh, cabangnya meninggi ke langit dan senantiasa menghasilkan buah dengan izin Allah. Demikianlah Allah memberikan perumpamaan kepda manusia semoga mereka ingat. Dan kata keji serupa dengan pohon busuk yang tercabut diatas bumi dan tidak mempunyai dasar”.

Rasulullah memberikan teladan, beliau tidak pernah memberikan panggilan yang jelek kepada para sahabatnya, selalu dengan panggilan yang menyenangkan dan menyejukkan hati seperti As Siddik kepada Abu Bakar, Al Faruq kepada Umar bin Khattab, Saifullah kepada Hamzah dan Khumairah kepada isterinya Siti Aisyah serta lainnya yang mengangkat derajat manusia dimata manusia lainnya meskipun melalui panggilan.

Bukan sebaliknya yang sering kita dengar di masyarakat dengan panggilan si Buncit, si Pincang, si Picek hal ini ditujukan kepada manusia yang dalam kekurangan. Betapa sakitnya orang yang dalam kekurangan dipanggil pula dengan panggilan yang tidak menyenangkan.

Dan sebaliknya diapun dapat melepaskan manusia ke lembah hina sampai jurang yang sangat dalam yaitu neraka, benar kata petuah orangtua dahulu, ”Mulutmu harimaumu yang akan menerkam dirimu sendiri”. Semua ibadah yang dilakukan tanpa dapat mengendalikan lidah, akan hilang sirna segala ibadahnya seperti debu diatas batu licin lalu diguyur hujan lebat, maka hilanglah semuanya tanpa meninggalkan bekas [Mdr, 2009].

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ