Selasa, 03 Februari 2015

144. Keteladanan Abu Bakar Shiddiq



Khutbah Jum'at
Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurul Yakin
Jorong Cubadak Nagari Pianggu
Kecamatan  IX Koto Sungai Lasi
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 23 Januari  2015.M / 02 Rabiul Akhir  1436.H

 

 


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ
.

Kaum Muslimin yang Berbahagia
Pada kesempatan kali ini, khatib akan membahas kepribadian Abu Bakar, peran dan jasanya dalam penyebaran Islam dengan harapan kita bisa mengambil teladan darinya.
Abu Bakar adalah salah satu sahabat Nabi yang utama. Beliau terkenal dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, selalu memiliki ide-ide yang cemerlang dalam keadaan genting, banyak toleransi, penyabar, memiliki azimah (keinginan keras), faqih, paling mengerti dengan garis keturunan Arab dan berita-berita mereka, sangat bertawakal kepada Allah dan yakin dengan segala janjiNya, bersifat wara' dan jauh daRi segala syubhat, zuhud teRhadap dunia, selalu menghaRapkan apa-apa yang lebih baik di sisi Allah, serta lembut dan ramah, semoga Allah meridhainya. Berikut ini khatib terangkan secara rinci hal-hal yang membuktikan sifat-sifat dan akhlaknya yang mulia ini.
Dalil yang menyebutkan bahwa Abu Bakar bersifat zuhud adalah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Abu Dawud, dari Aslam maula Umar, dia berkata,

سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُوْلُ: أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذلِكَ عِنْدِيْ مَالًا فَقُلْتُ: اَلْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا، قَالَ: فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِيْ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟ قُلْتُ: مِثْلَهُ، وَأَتَى أَبُوْ بَكْرٍ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ، فَقَالَ: يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟ قَالَ: أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللهَ وَرَسُوْلَهُ. قُلْتُ: وَ اللهِ، لَا أَسْبِقُهُ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا.
"Saya mendengar Umar bin al-Khaththab berkata, 'Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk bersedekah, dan itu bertepatan ketika saya memang sedang memiliki harta, maka saya berkata (pada diriku), 'Jika suatu hari saya bisa mengungguli Abu Bakar (dalam kebajikan), maka pada hari inilah saya akan bisa mengunggulinya.' Umar berkata, 'Lalu saya membawa setengah hartaku, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, 'Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?' Saya menjawab, 'Saya meninggalkan (setengah harta sisa) semisalnya.' Sedangkan Abu Bakar membawa seluruh hartanya (yang  sedikit) yang dia miliki. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, 'Wahai Abu Bakar, apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?' Dia menjawab, 'Saya menyisakan Allah dan RasulNya untuk mereka.' Lalu saya berkata, 'Demi Allah, saya tidak akan mampu mengungguli Abu Bakar sedikit pun, selamanya'." (HR. At-Titmidzi dan Abu Dawud).

Kaum Muslimin yang Berbahagia
Apa Kedudukan Abu Bakar di sisi Allah?
ABU BAKAR ADALAH TEMAN SEJATI  RASULULLAH
Abu Bakar adalah lelaki yang pertama kali memeluk Islam, walaupun Khadijah lebih dahulu masuk Islam daripadanya. Keislaman Abu Bakar  radhiyallahu ‘anhu adalah paling banyak membawa manfaat besar terhadap Islam dan kaum Muslimin dibandingkan dengan keislaman selainnya, karena kedudukannya yang tinggi dan semangat serta kesungguhannya dalam berdakwah. Dengan keislamannya, maka tokoh-tokoh besar yang masyhur mengikutinya memeluk Islam seperti Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, Utsman bin Affan, az-Zubair bin al-Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu ‘anhum.
Di awal keislamannya dia menginfakkan di jalan Allah harta yang dimilikinya sebanyak 40.000 dirham, dia banyak memerdekakan budak-budak yang disiksa karena keislamannya di jalan Allah, seperti Bilal radhiyallahu ‘anhu. Dia selalu mengiringi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama di Makkah, bahkan dialah yang mengiringi beliau ketika bersembunyi dalam gua dan dalam perjalanan hijrah hingga sampai di kota Madinah. Di samping itu dia mengikuti seluruh peperangan yang diikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik perang Badar, Uhud, Khandaq, penaklukan kota Makkah, Hunain, maupun peperangan di Tabuk.
Akhlak Abu Bakar inilah yang membuatnya menjadi sahabat utama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَا أَبَا بَكْرٍ، لاَ تَبْكِ إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِيْ خَلِيْلاً لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلاً
.
"Wahai Abu Bakar, jangan menangis! Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar, kalau seandainya aku mengambil khalil (sahabat kesayangan) dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalilku." (HR. al-Bukhari).
Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, "Kami selalu membanding-bandingkan para sahabat di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka kami sepakat memilih Abu bakar yang paling utama, kemudian Umar, selanjutnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu."
Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Hanafiyyah, dia berkata, "Aku bertanya kepada ayahku (Ali bin Abi Thalib) siapa manusia yang paling baik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?" Maka beliau menjawab, "Abu Bakar!" Kemudian aku tanyakan lagi, "Siapa setelahnya?" Beliau menjawab, "Umar." Dan aku takut jika dia menyebut Utsman sesudahnya, maka aku katakan, "Setelah itu pasti Anda." Namun beliau menjawab, "Aku hanyalah salah seorang dari kaum Muslimin."
Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Apa Kelebihan Abu Bakar?
SAHABAT YANG PALING BANYAK ILMUNYA
Abu Sa'id al-Khudri berkata, "Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hadapan manusia, dan berkata,

إِنَّ اللهَ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ ذَلِكَ الْعَبْدُ مَا عِنْدَ اللهِ.
"Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih antara dunia atau memilih sesuatu yang ada di sisiNya, namun ternyata hamba tersebut memilih sesuatu yang ada di sisi Allah." (HR. al-Bukhari).
Abu Sa'id berkata, "Maka Abu Bakar menangis, kami heran kenapa beliau menangis padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah menceritakan seorang hamba yang memilih kebaikan, akhirnya kami mengetahui bahwa hamba tersebut ternyata tidak lain adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, dan Abu Bakarlah yang paling mengerti serta berilmu di antara kami. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فيِ صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُوْ بَكْرٍ لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيْلاً غَيْرَ رَبِّيْ لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِن أُخُوَّةُ الْإِسْلاَمِ وَمَوَدَّتُهُ، لاَ يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلاَّ سُدَّ إِلاَّ بَابُ أَبِيْ بَكْرٍ.
"Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan seislam dan kecintaan karenanya. Maka tidak tersisa pintu masjid kecuali tertutup selain pintu Abu Bakar saja." (HR. al-Bukhari).
SIKAP ABU BAKAR PADA SAAT RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wasallam MENINGGAL
Ketika Rasulullah meninggal, kaum Muslimin terpecah. Di antara mereka ada yang murtad, dan di antara mereka ada yang tidak percaya dengan berita meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada saat inilah Abu Bakar tampil untuk menasihati kaum Muslimin. Dia berkata,

مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ فَإِنَّ اللهَ حَيٌّ لَا يَمُوْتُ.
"Barangsiapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah itu hidup, tidak akan mati." (HR. al-Bukhari).
Hadirin Sidang Jum'at yang Dimuliakan Allah
JASA-JASA ABU BAKAR
Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sahabat yang pertama kali masuk Islam, dan selalu menyertai Rasulullah a sepanjang hidupnya, baik di Makkah maupun di Madinah. Tidak hanya itu, beliau adalah sahabat Rasulullah sekaligus teman bermusyawarah dan wazir-nya. Di tangannya, para senior sahabat memeluk Islam seperti Utsman bin Affan, az-Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu ‘anhum. Abu Bakar selalu setia mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menghadapi berbagai macam halangan dan rintangan, siap membela beliau dengan sepenuh jiwa, bahkan beliau pula yang telah membebaskan banyak budak-budak yang disiksa karena masuk Islam seperti Bilal, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubaisy, Zinnirah, Nahdiyyah dan kedua putrinya, serta budak wanita milik Bani Mu'ammal juga dibebaskan olehnya.

Beliaulah yang menemani Nabi di kala hijrah, dan turut serta dalam setiap peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyyah, penaklukan  kota Makkah, Hunain, Tabuk, dan pertempuran besar lainnya.

Setelah menjabat sebagai khalifah, beliaulah yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap seluruh Negeri Islam dan wilayah kekhalifahannya sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tercatat sejumlah reputasi beliau yang gemilang, di antaranya:
1.     Instruksinya agar jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diurus hingga dikebumikan.
2.     Melanjutkan misi pasukan yang dipimpin Usamah Radhiyallahu ‘anhu yang sebelumnya telah dipersiapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum wafat.
3.     Kebijakannya menyatukan persepsi seluruh sahabat untuk memerangi kaum murtad dengan segala persiapannya ke arah itu, kemudian instruksinya untuk memerangi seluruh kelompok yang murtad di wilayah masing-masing.
4.     Ibnu Katsir berkata, "Pada tahun 12 H, Abu Bakar ash-Shiddiq memeRintahkan Zaid bin Tsabit agar mengumpulkan al-Qur`an dari berbagai tempat penulisan, baik yang ditulis di kulit-kulit, dedaunan, maupun yang dihafal dalam dada kaum Muslimin. Peristiwa itu terjadi setelah para Qari' (penghafal al-Qur`an) banyak yang terbunuh dalam peperangan Yamamah, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukhari. Imam al-Bukhari berkata, Bab Pengumpulan al-Qur`an, kemudian dia mulai menyebutkan sanadnya hingga sampai kepada Ibnu Syihab dari Ubaid bin as-Sabbaq, bahwa Zaid bin Tsabit pernah berkata, 'Abu Bakar ash-Shiddiq mengirim surat kepadaku tentang orang-orang yang terbunuh di perang Yamamah, ketika aku mendatanginya, aku mendapati Umar bin al-Khaththab berada di sampingnya, maka Abu Bakar berkata, 'Umar mendatangiku dan berkata, 'Sesungguhnya banyak para Qurra' (penghafal al-Qur`an) yang telah gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para Qari' yang masih hidup kelak terbunuh dalam peperangan, akan mengakibatkan hilangnya sebagian besar dari ayat al-Qur`an, menurut pendapatku, engkau harus menginstruksikan agar segera mengumpulkan dan membukukan al-Qur`an'."
Aku bertanya kepada Umar, "Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?" Umar menjawab, "Demi Allah, ini adalah kebaikan!" Dan Umar terus menuntutku hingga Allah melapangkan dadaku untuk segera melaksanakannya, akhirnya aku pun setuju dengan pendapat Umar Radhiyallahu ‘anhu.
Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu berkata, "Kemudian Abu Bakar berkata padaku, "Engkau adalah seorang pemuda yang jenius, berakal dan penuh amanah, dan engkau telah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah a, maka carilah seluruh ayat al-Qur`an yang berserakan dan kumpulkanlah." Zaid berkata, "Demi Allah, jika mereka memerintahkan aku untuk memikul gunung tentulah lebih Ringan bagiku daripada melaksanakan instruksi Abu Bakar agar aku mengumpulkan al-Qur`an."
Aku bertanya, "Bagaimana kalian melakukan suatu perbuatan yang tidak diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?" Dia berkata, "Demi Allah, ini adalah suatu kebaikan!" Dan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu terus berusaha meyakinkanku hingga akhirnya Allah melapangkan dadaku untuk menerimanya sebagaimana Allah melapangkan dada mereka berdua."
Maka aku mulai mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur`an yang ditulis di daun-daunan, kulit maupun dari hafalan para penghafal al-Qur`an, hingga akhirnya aku menemukan akhir surat at-Taubah yang ada pada Abu Khuzaimah al-Anshari, yang tidak aku dapatkan dari selainnya, yaitu ayat:

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ اللّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, penderitaanmu terasa berat olehnya, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling dari keimanan, maka katakanlah, 'Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakal, dan Dia Rabb yang memiliki Arsy yang agung'." (At-Taubah: 128-129).
Kemudian al-Qur`an yang telah dikumpulkan dan dibukukan itu disimpan Oleh Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu hingga Allah mewafatkannya. Setelah itu berpindah ke tangan Umar  sewaktu hidupnya, dan akhirnya berpindah ke tangan Hafshah binti Umar Radhiyallahu ‘anhuma.
فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah yang kedua
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Kaum Muslimin Yang Dicintai Allah !
Marilah kita meneladani keteguhan Abu Bakar dalam menegakkan Islam. Dia memiliki karakter seorang Muslim sejati yang menjadikannya dicintai oleh RasulNya.  Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Ali Imran: 102). ).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah Ta’ala, agar menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang mempunyai hati yang selamat.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
(Luqman Hakim, M.HI. Keteladanan Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu, Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq Jakarta. Telp. (021)84998039. Diposting oleh: Abu Nabiel).


















Minggu, 01 Februari 2015

143. Kejadian di akherat






Khutbah Jum'at

Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurul Yakin
Jorong Cubadak Nagari Pianggu
Kecamatan  IX Koto Sungai Lasi
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 9 Januari  2015.M / 18 Rabiul Awal  1436.H



إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،
 أَشْهَدُ أَنْ لا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.


Hadirin Sidang Jum’at Yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Kembali kita menyampaikan puji syukur kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepada kita sehingga dengan rahmat itu kita masih dapat menikmati kehidupan ini dengan baik, shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw, sebagai nabi dan Rasul yang diamanatkan untuk membimbing ummat manusia agar selamat hidupnya di dunia  hingga akherat.

            Marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah Swt dengan sebenar-benarnya taqwa melalui pembuktikan amal shaleh sehari-hari yang dipraktekkan secara umum ataupun ritual karena memang kewajiban manusia di dunia ini hanya semata-mata untuk mengabdi kepada-Nya.

Hadirin Sidang Jum’at Yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Banyak peristiwa yang akan dialami manusia kelak ketika berada di akherat untuk mempertanggungjawabkan amanah kehidupan yang diberikan kepadanya, karena demikian padatnya agenda yang dilalui oleh masing-masing pribadi sehingga satu sama lain tidak ada saling memperhatikan, ayah lupa dengan anaknya dan sebaliknya, isteri tidak mengingat suaminya dan sebaliknya, teman lupa dengan teman lainnya, semuanya sibuk hanya untuk mengurus dirinya saja.
Manusia setapak demi setapak menjalani tahap kehidupan-nya dari alam kandungan, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat. Tahap-tahap tersebut harus dijalani sampai akhirnya nanti kita akan menemui alam akhirat tempat kita memperhitungkan amalan-amalan yang telah kita lakukan di dunia. Maka tatkala kita mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang memberitakan tentang ahwal (keadaan) hari Akhir, hendaklah hati kita menjadi takut, menangislah mata kita, dan menjadi dekatlah hati kita kepada Allah.

Akan tetapi bagi orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah tatkala disebut kata Neraka, adzab, ash-shirat dan lain sebagainya seakan terasa ringan diucapkan oleh lisan-lisan mereka tanpa makna sama sekali. Na-uzu billahi min dzalik. Mari kita perhatikan firman Allah dalam surat Al-Haqqah ayat 25-29.

    “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya maka dia berkata; “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini) dan aku tidak mengetahui apakah hisab (perhitungan amal) terhadap diriku. Duhai seandainya kematian itu adalah kematian total (tidak usah hidup kembali). Hartaku juga sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku, kekuasaanku pun telah lenyap dari-padaku”.(Al-Haqqah 69; 25-29)
            Dalam ayat ini Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya juz IV hal 501, menerangkan bahwa ayat tersebut menggambarkan keadaan orang-orang yang sengsara. Yaitu manakala diberi catatan amalnya di padang pengadilan Allah dari arah tangan kirinya, ketika itulah dia benar-benar menyesal, dia mengatakan penuh penyesalan: ‘Andai kata saya tidak usah diberi catatan amal ini dan tidak usah tahu apakah hisab (perhitungan) terhadap saya (tentu itu lebih baik bagi saya) dan andaikata saya mati terus dan tidak usah hidup kembali.
    Coba perhatikan ayat selanjutnya:
            “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian masukkanlah dia ke dalam api Neraka yang menyala-nyala kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta” (Al-Haqqah 69; 30-32).
            Bagi kaum beriman yang mengetahui makna yang terkandung dalam ayat tersebut, menjadi tergetarlah hatinya, akan menetes air mata mereka, terisaklah tangis mereka dan keluarlah keringat dingin di tubuh mereka, seakan mereka saat itu sedang merasakan peristiwa yang sangat dahsyat. Maka tumbuhlah rasa takut yang amat mendalam kepada Allah kemudian berlindung kepada Allah agar tidak menjadi orang-orang yang celaka seperti ayat di atas.
    Sesungguhnya manusia akan dibangkitkan pada hari Kiamat dan akan dikumpulkan menjadi satu untuk mempertanggungjawab-kan diri mereka. Allah berfirman:

    “Dan dengarkanlah pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat, yaitu pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur)” (Qaf: 41-42).

   Juga Allah berfirman dalam surat Al-Muthaffifin: 4-6.
 “Tidakkah orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada hari yang besar, (yaitu) hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam”.
    Dan manusia dibangkitkan dalam keadaan حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً(mereka tidak beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan), sebagaimana firman Allah:

    “Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah kami akan mengulangnya (mengembalikannya)” (Al-Anbiya:104).
    Manusia akan dikembalikan secara sempurna tanpa dikurangi sedikitpun, dikembalikan dalam keadaan demikian bercampur dan berkumpul antara laki-laki dan perempuan. Dan tatkala Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam menceritakan hal itu kepada ‘Aisyah Radhiallaahu anha maka berkatalah ia: “Wahai Rasulullah antara laki-laki dan perempuan sebagian mereka melihat kepada sebagian yang lain?”, kemudian Rasulullah berkata:  “Perkara pada hari itu lebih keras dari pada sekedar sebagian mereka melihat kepada sebagian lainnya.” (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari  dan Muslih  dari hadits ‘Aisyah Radhiallaahu anha ).
    Pada hari itu laki-laki tidak akan tertarik kepada wanita dan sebaliknya, sampai seseorang itu lari dari bapak, ibu dan anak-anak mereka karena takut terhadap keputusan Allah pada hari itu. Sebagaimana firman Allah:
 “Pada hari ketika manusia lari dari saudara-saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istrinya dan anak-anaknya.Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang sangat menyibukkan”.(Q.S. Abasa: 34-37).
            Demikianlah peristiwa yang amat menakutkan yang akan terjadi di akhirat nanti, mudah-mudahan menjadikan kita semakin takut kepada Allah. Pada hari Akhir nanti matahari akan didekatkan di atas kepala-kepala sehingga bercucuran keringat mereka sehingga sebagian mereka akan tenggelam oleh keringat-keringat mereka sendiri, akan tetapi hal itu tergantung dari apa yang telah mereka perbuat di dunia.
            Imam Muslim meriwayatkan dalam hadits yang shahih  dari hadits Al-Miqdad bin Al-Aswad Radhiallaahu anhu , berkata: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam  bersabda:
    “Matahari akan didekatkan pada hari Kiamat kepada para makhluk sampai-sampai jarak matahari di atas kepala mereka hanya satu mil, maka manusia mengeluarkan keringat tergantung amalan-amalan mereka.Di antara mereka ada yang mengeluarkan keringat sampai mata kakinya dan ada yang sampai lututnya, ada juga yang sampai pinggangnya dan ada yang ditenggelamkan oleh keringat mereka.” Dan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam memberi isyarat dengan tangannya ke mulutnya.

    Dan seandainya ada yang bertanya “bagaimana itu bisa terjadi sedangkan mereka berada pada tempat yang satu?” Maka Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullaah menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut: “Ada sebuah kaidah yang hendaknya kita berpegang kepada kaidah itu, yaitu bahwa perkara ghaib, wajib bagi kita untuk mengimaninya dan membenarkannya tanpa menanyakan bagaimananya, karena perkara tersebut berada diluar jangkauan akal-akal kita, kita tidak mampu mengetahui dan  menggambarkannya.[Disarikan dari Khutbah Jum’at, Peristiwa Hari Akhir,Abu Adam Al-Khoyyat (Hartono)www.alsofwah.or.id/khutbah]
             
بَارَكَاللهُلِيْوَلَكُمْفِيالْقُرْآنِالْعَظِيْمِ،وَنَفَعَنِيْوَإِيَّاكُمْبِمَافِيْهِمِنَاْلآيَاتِوَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُقَوْلِيْهَذَاوَأَسْتَغْفِرُاللهَالْعَظِيْمَلِيْوَلَكُمْ