Minggu, 14 Desember 2014

140. Indikasi Baiknya Keislaman Seseorang




Khutbah Jum'at
Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurut Taufiq
Jorong Panyalai Nagari Cupak
Kecamatan Gunung Talang
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 28  November  2014.M / 01 Shafar  1435.H

Indikasi Baiknya Keislaman Seseorang
Ialah Meninggalkan Yang Tidak Penting

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ
.
Jama’ah Jum’at  rahimani wa rahimakumullah,
Sudah menjadi keharusan, agar kita bertakwa kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya, karena takwa kepada Allah merupakan bekal terbaik bagi seseorang dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Yaitu dunia yang penuh dengan tantangan dan godaan setan. Baik yang berwujud jin ataupun manusia. Begitu pula, takwa kepada Allah merupakan bekal terbaik saat menghadap Allah pada hari kiamat kelak. Saat itu, harta dan keluarga tidak akan bisa memberikan manfaat. Firman Allah Ta’ala menyebutkan,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (QS asy-Syu’ara: 88-89)

Saat itu juga, kekuasaan seseorang sudah tidak bermanfaat lagi. Allah ta’ala ceritakan tentang kisah orang-orang yang menerima catatan amal perbuatan dengan tangan kiri mereka. Allah Ta’ala berfiman,

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيهْ. وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيهْ. يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ. مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيهْ. هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيهْ. خُذُوهُ فَغُلُّوهُ. ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ. ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعاً فَاسْلُكُوهُ
“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:"Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu, Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku". (Allah berfirman):"Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya". Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta”. (QS Al Haaqqah: 25-32).
Semoga Allah memasukkan kita termasuk orang-orang yang menerima kitab catatan amal perbuatan dengan tangan kanannya. Oleh karena itu, konsekwensinya, kita harus selalu berusaha menjaga keselamatan diri dengan menjaga dan meningkatkan keislaman kita. Antusiasme inilah yang menjadi bukti kongkrit kebaikan jiwanya, kelurusan manhajnya serta kesempurnaan hidayahnya dari Allah Ta’ala. Agama bagi seorang muslim akan menjadi pemandu yang akan bisa mengantarkannya menuju kebahagiaan di dunia, serta merealisasikan kebahagiaan dan derajat yang tinggi di akhirat. Dalam din (agama) ini terdapat penjelasan dan petunjuk yang bisa menjadi pedoman, penyelamat dari berbagai kesesatan, menjauhkan seorang muslim dari jalan kesengsaraan, kerugian maupun kebinasaan.
Rasulullah, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang yang sangat menginginkan kebaikan umatnya, yang sangat cinta kepada umatnya, telah menunjukkan satu adab peri laku terpuji; sebuah adab yang bisa mendatangkan berbagai kebaikan. Dengan adab ini, din seseorang bisa menjadai baik, dan juga bisa mengantarkan kesuksesan seseorang meraih Ridha Allah Ta’ala. Disebutkan dalam sebuah hadits, dari seorang sahabat, yaitu Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه
“Diantara bukti kebaikan Islam seseorang ialah, dia meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya”. (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi rahimahullah, Ibnu Majah Rahimahullah di dalam kitab sunan mereka, Ibnu Hibban Rahimahullah dalam kitab shahih beliau dengan sanad yang hasan).

Kaum muslimin, Rahimanillah wa iyyakum ajma’in,
Orang yang memiliki kwalitas keislaman yang baik, maka dia akan meninggalkan perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan yang tidak penting dan yang tidak mendatangkan manfaat baginya. Karena Islam menuntut pemeluknya agar melaksanakan hal-hal yang diwajibkan, serta menjauhi dan meninggalkan segala yang diharamkan, ataupun perkara yang masih belum jelas hukumnya, yang disebut dengan istilah mutasabihat. Seseorang itu juga tidak akan berlebihan dalam masalah-masalah yang mubah. Dengan demikian, ia akan senantiasa menghiasi dengan hal-hal yang bisa meluruskan dan mengokohkan aqidahnya, menyempurnakan kwalitas imannya, meluruskan amalnya.

Sebaiknya, ada juga orang-orang yang menyia-nyiakan waktu yang berharga, menghabiskannya dengan perbuatan sia-sia, menyibukkan dengan sesuatu yang bisa menyeretnya ke dalam penderitaan berkepanjangan tanpa akhir. Dengan demikian, dia telah menjauhkan dirinya dari hal-hal yang penting, yang bisa mengangkat derajatnya, akibatnya ia menjadi orang yang merugi tiada terkira.

Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan senantiasa menolong kita dalam menjalankan ketaatan, menjauhkan kita dari golongan orang-orang yang celaka.
Kaum muslimin, Rahimahillahu wa iyyakum ajma’in,
Diantara bentuk menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak penting ialah sibuk mempelajari ilmu-ilmu yang tidak penting dan melalaikan ilmu yang lebih penting, yaitu ilmu yang bisa membuat hati menjadi baik, jiwa menjadi bersih serta mendatangkan manfaat bagi saudaranya sesame muslim.
Termasuk juga dalam katagori perbuatan sia-sia, yaitu seseorang membicarakan sesuatu yang bukan bidangnya, dan dia juga tidak diminta untuk berbicara atau mengeluarkan pendapatnya. Tujuannya hanyalah Refresing, menghabiskan waktu serta menarik perhatian orang lain. Terkadang hal-hal ini bisa menyeret seseorang untuk membicarakan masalah-masalah yang tidak pantas untuk dibicarakan, seperti membicarakan perbuatan nista yang bisa membangkitkan nafsu syahwat, menceritakan aurat, melontarkan tuduhan-tuduhan keji kepada orang-orang baik.terkadang tidak cukup sampai disitu, ditambah lagi dengan perkataan dusta dan kotor. Dan masih banyak lagi, contoh-contoh perbuatan sia-sia yang dihiasi oleh setan agar menarik dilakukan oleh manusia. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari segala tipu daya setan. 

Kaum muslimin, Rahimanillahu wa iyyakum ajma’in,
Kini kita harus berusaha, agar terhindar dari perbuatan sia-sia tersebut. Di antara yang bisa membantu untuk meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat, maka hendaklah seseorang menyadari bahwa kewajiban-kewajiban yang dibebankan di pundaknya sangatlah banyak, sementara usia kita pendek. Dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang dibawakan oleh Imam Tirmidzi Rahimahullah, Ibnu Majah Rahimahullah dalam kitab sunan mereka dan al-Hakim Rahimahullah dalam kitab al-Mustadrak dengan sanad yang shahih, melalui jalan Abu Hurairah Rahimahullah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

َأعْمَارُ أُمتي مَا بَيْنَ الستيْنَ إلَى السَبْعيْنَ وَ أَقَلهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلكَ
“Usia umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh, dan sedikit sekali yang usianya lebih dari itu.
Sebagian ahlu ilmi mengatakan, usia sependek ini hampir-hampir tidak cukup untuk melaksanakan kewajiban, lalu adakah waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat? Juga kesadaran seseorang mengenai singkatnya kehidupan manusia di dunia, sementara kehidupan akhirat yang panjang dan berat menanti di depan mata. Kesadaran seperti ini juga dapat membantunya untuk meninggalkan perbuatan sia-sia. Sebab dengan kesadaran ini, dia akan memanfaatkan waktunya seoptimal mungkin, menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya, sebagai persiapan menempuh kehidupan hakiki. 

Kaum muslimin, Rahimanillahu wa iyyakum ajma’in,
Hendaklah kita juga memahami bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungan jawab mengenai usia, bagaimana usianya dihabiskan? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab Jami’nya dengan sanad yang shahih dari sahabat Abu Barzah al-Aslami Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْد يَوْمَ اْلقيَامَة حَتى يُسْأَلَ عَنْ عُمْره فيْمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ علْمه فيْمَ فَعَلَ فيه وَعَنْ مَاله منْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفيْمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جسمه فيمَ أَبْلاَهُ
“Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ia (selesai) ditanya tentang usia, untuk apa usianya dipergunakan; tentang ilmunya, apa yang diperbuat dengannya; tentang harta, darimana harta itu diperolehnya dan dipergunakan untuk apa; tentang badannya, apa yang diperbuat dengannya?
Empat hal yang dipertanyakan kelak di akherat terhadap diri manusia ini adalah;
1.      UMUR
-  Contoh Umur yang panjang tapi tidak bermanfaat; Fir’aun, Qarun
-   Imam Nawawi, usianya hanya 40 tahun tapi karyanya banyak; Riyadush Shalihin, Hadits Arbain dll.
-  Allah memberikan umur kepada manusia, jadikanlah umur itu berkah.
-   Pada bulan Ramadhan ada satu malam dinamakan lailaltul qadar, yaitu sama dengan nilai 1000 bulan, yaitu 80 tahun empat bulan.
-   Manfaatkan sisa-sisa waktu untuk beribadah kepada Allah, lalukan amal segera, jangan menunggu-nunggu dan menunda-nunda.
-  Ada orang yang bingung dan stress karena masuk waktu pensiun, tidak tahu apa yang harus dikerjakan, padahal bisa dimanfaatkan untuk membaca Al Qur’an dan beramal ibadah.
-   Banyak pahala diperoleh dari membaca Al Qur’an.

2.      ILMU
-          Ilmu yang diperoleh bila dijadikan untuk menumpuk pengetahuan tidak ada manfaatnya tanpa diamalkan.
-          Dapat ilmu tentang busana muslimah, aqidah yang benar, ilmu tentang shalat dll, hasil dipraktekkan, nanti akan dipertanggungjawabkan di akherat.
-          Orang yang berilmu harus hidupnya kokoh dengan praktek amalnya dalam kehidupan sehari-hari. Keuntungan di dunia, ilmu akan awet,  akherat, ilmu

3.      HARTA
-          Masalah Harta ketika di akherat ditanyakan” Dari mana diperoleh” dan “Kemana dibelanjakan”.
-          Kata Rasulullah, Orang fakir dan miskin lebih dahulu masuk syurga dibandingkan orang kaya, bedanya setengah hari [500 tahun].
-          Bila kita jadi orang kaya, maka persiapkan jawabannya kelak di hadapan Allah.
-          Setiap rupiah yang  diterima dipertanyakan asal usulnya, dan setiap rupiah kekayaan yang dibelanjakan dipertankan, kemana saja dibelanjakannya.
-          Rezeki yang kita terima semuanya dari Allah, maka harus dibelanjakan sesuai dengan yang dikehendaki Allah.
-           
4.      ANGGOTA BADAN
-          Untuk apa anggota badan yang kita miliki, telinga, mata, kaki, tangan dll.
-          Kaki dipertanyakan, apakah untuk menghadiri pengajian atau ke tempat maksiat.
-          Tangan, apakah digunakan untuk menulis sms berupa nasehat atau untuk maksiat.
-          Semua anggota badan dipertanyakan

Kaum muslimin, Rahimanillahu wa iyyakum ajma’in,
Perlu kita ingat juga, bahwa semua kata yang diucapkan oleh seseorang, semuanya tercatat dan akan mendapatkan balasan. Setiap kata yang terucap akan diminta pertanggungan jawab. Jika baik, maka kebaikan yang akan kita dapatkan. Sebaliknya, jika jelek, maka kejelekan pula yang akan menimpa kita. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيد.ِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ .مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qaaf: 16-18)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik Rahimahullah dalam kitab al Muwattha’, Imam Ahmad Rahimahullah dalam kitab Musnadnya, Imam Tirmidzi Rahimahullah, an Nasa’i Rahimahullah, Ibnu Majah Rahimahullah dalam kitab sunan mereka dengan sanad yang shahih dari Alqamah al Laitsi, dari Bilal bin Harits Rahimahullah, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الرجل ليتكلم بالكلمة من رضوان الله ما كان يظن أن تبلغ ما بلغت ؛ يكتب الله له بها رضوانه إلى يوم يلقاه وإن الرجل ليتكلم بالكلمة من سخط الله كان يظن أن تبلغ ما بلغت ؛ يكتب الله له بها سخطه إلى يوم يلقاه
“Sesungguhnya ada seseorang mengucapkan satu kalimat di antara kalimat yang diridhai Oleh Allah. Dia tidak mengira (bahwa) satu kata (yang diucapkan) itu akan bisa mencapai apa yang dicapai, yaitu Allah mencatat bagi orang ini keridhaanNya sampai (kedatangan) hari perjumpaan dengan Allah. Sesungguhnya ada seseorang mengucapkan satu kalimat di antara kalimat yang dimurkai oleh Allah. Dia tidak mengira (bahwa) satu kata (yang diucapkan) itu akan bisa mencapai apa yang dicapai, (yaitu) Allah mencatat bagi orang ini kemurkaanNya sampai (kedatangan) hari perjumpaan dengan Allah”.
Alqamah berkata, “Hadits (dari) Bilal ini telah mencegahku dari mengucapkan banyak kalimat.” 

Kaum muslimin, Rahimanillahu wa iyyakum ajma’in,
Oleh karenanya, marilah kita bertakwa kepada Allah, dengan selalu berbuat sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa melaksanakan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. 

“Kaum muslimin, Rahimanillahu wa iyyakum ajma’in,
Dengan memahami uraian diatas, sebagai orang yang berakal, yang mengaharapkan pertolongan Allah pada hari akhir nanti, maka hendaklah kita memperhatikan keadaan diri kita, dengan menjaga lisan serta memperhatikan waktu yang kita miliki. Hendaknya juga menghitung lalu membandingkan antara perkataan dan perbuatan yang telah kita perbuat. Barangsiapa yang menghitung perkataannya lalu membandingkan dengan amalnya, dia akan sedikit berbicara.
Mengapa demikian? Karena, sebagaimana dikatakan oleh al Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah, bahwa kebanyakan yang dimaksud dengan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah menjaga lisan dari perkataan sia-sia. Mulai saat ini, marilah kita berusaha menjaga diri masing-masing dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.
Literatur:
1.      Majalah as-Sunnah, Solo. Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M.
2.      Ustadz. Muhammad Zain, Terjebak macet di Akherat, Rodjatv
3.      Mukhlis Denros, Kumpulan Ceramah Praktis, 2009

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِي

139. Lima nilai keutamaan Dakwah



Khutbah Jum'at
Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Jihad
Jorong Batang Pamo Nagari Pianggu
Kecamatan IX Koto Sungai Lasi
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 28 Muharam 1436.H / 21  Nofember 2014.M


LIMA NILAI KEUTAMAAN DA'WAH

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،
 أَشْهَدُ أَنْ لا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.


Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah

Selayaknya kita sanjungkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan karunia dan nikmat-Nya kepada kita sehingga kalau kita hitung-hitung nikmat tersebut sungguh tidak terkira jumlahnya, bila nikmat itu kita syukuri maka akan ditambah-tambah oleh Allah dengan nikmat yang lain dan sebaliknya bila diingkari maka azab Allah akan diberikan, dari sekian nikmat-Nya adalah nikmat iman dan islam sehingga kita masih merasakan bagaimana indahnya hidup dalam dekapan hidayah-Nya, semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur atas nikmat tersebut.

Shalawat dan salam kita sampaikan pula kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yang telah menuntun ummatnya ke jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang dahulu yang diberi nikmat oleh Allah bukan jalan orang-orang yang dimurkai apalagi jalan orang yang sesat, dengan banyak membaca shalawat semoga kita mendapat syafaatnya kelak dengan izin Allah, kemudian marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah yang diaplikasikan melalui amal ibadah sehari-hari sebagai bekal menuju akherat.

Hadirin, sidang jum’at yang  dirahmati Allah
Seorang mukmin dituntut untuk menyampaikan risalah islam ini semampunya yang kita kenal dengan da'wah, bahkan Rasulullah bersabda, ”Sampaikan apa yang engkau peroleh dariku meskipun satu ayat”.

            Ceramah atau tabligh  bukanlah segala-galanya, dia merupakan bagian awal dari da’wah melalui fase-fase yang rapi, tidaklah disebut da’wah bila hanya mengandalkan ceramah atau tabligh saja,  seorang da’i seharusnya menguasai marhalah atau fase-fase dalam da’wah sehingga dalam waktu yang ditargetkan dapat melahirkan syakhsiyah islamiyyah yaitu pribadi islam yang militansinya dapat diandalkan untuk mengasung da’wah ini bersama jajaran da’i lainnya;
 
 ”Kamu adalah ummat  terbaik yang dikeluarkan dikalangan manusia, karena memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar, dan beriman kepada Allah” [Ali Imran 3;110].

            Suatu hari Anas bin Nadhar kacewa karena dia tidak ikut  dalam perang Badar, padahal saat itu kemenangan dipihak ummat islam, yang dia sesalkan bukan kemenangan itu, tapi dalam kemenangan itu tidak ada kontribusinya.

            Dari realitas keberhasilan da’wah islam itu, adakah keterlibatan kita sebagai mubaligh di dalamnya atau hanya kita sibuk dengan ceramah tanpa melakukan pembinaan, da’wah bukanlah ceramah saja tapi adalah pembinaan walaupun didalamnya tidak bisa dilepaskan metode ceramah.

Hadirin, sidang jum’at yang  dirahmati Allah
            Da'wah mengandung keutamaan, tidak satupun pekerjaan yang lebih baik di dunia ini selain pekerjaan da'wah, keutamaan da'wah itu diantaranya;

1.Merupakan nikmat Allah terbesar kepada manusia
            Diantara nikmat yang diberikan Allah ialah nikmat iman atau hidayah yang diperoleh dari perjuangan da'wah, Rasulullah bersabda; "Dan seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit hingga terbenam" [HR. Bukhari Muslim].

            Tanpa da'wah maka tidaklah akan sampai iman dan islam kepada kita pada hari ini dan tentu kita masih dalam keadaan kafir, begitu besar nikmat da'wah itu sehingga mampu melepaskan orang dari kekafiran dan mengantarkan pengikutnya ke dalam syurga.

2.Da'wah itu pekerjaan para Nabi
            Apapun pekerjaan yang dilakukan manusia maka hal itu biasa, tapi pekerjaan da'wah  adalah pekerjaan yang luar biasa karena ini merupakan pekerjaan para nabi, da'i meneruskan pekerjaan nabi ini hingga hari akhir, alangkah mulianya kita bila mengemban pekerjaan para nabi;
"Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). [Asy Syura 42;13]

Hadirin, sidang jum’at yang  dirahmati Allah
3.Pekerjaan yang paling mulia disisi Allah
            Semua pekerjaan yang dilakukan manusia selama untuk kebaikan adalah baik, tapi dari sekian pekerjaan itu ada pekerjaan yang mulia dihadapan Allah yaitu berda'wah. Da'wah adalah pekerjaan yang paling tinggi nilainya, da'wah adalah pekerjaan orang-orang piihan yaitu nabi dan rasul maka juru da'wah adalah orang yang mulia setelah nabi dan rasul karena mereka melakukan pekerjaan rasul;
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"[Fushilat 41;33]

            Rasulullah bersabda;"Orang yang paling tinggi kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak berkeliling di muka bumi dengan memberi nasehat kepada manusia" [HR. Thahawi]

4.Membawa du'at kepada kehidupan Rabbany
            Da'wah membawa para da'i kepada kehidupan Rabbany yaitu kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai Ilahi, mereka tercelup pada kehidupan yang islami sehingga kehidupannya jauh dari hal-hal yang negatif dan tercela, mereka adalah orang-orang yang selalu mengajak orang kepada agama Allah dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengajar melalui pembinaan terhadap mad'unya namun  tidak lupa belajar untuk kepentingan peningkatan kualitas diri dan keluarganya;

" Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya" [Ali Imran 3;79]
Yang dikatakan dengan Rabbani itu adalah orang yang selalu mengajar dan selalu secara terus menerus belajar Al Qur'an; "Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarinya" [HR. Bukhari dan Muslim]

Hadirin, sidang jum’at yang  dirahmati Allah
5.Membahagiakan hidup para pendukungnya
            Orang yang hidup dalam naungan da'wah islamiyah hidupnya akan tentram, jauh dari gundah gulana apalagi stres sebagaimana yang difirman Allah dalam surat An Nahl 16;97
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan"

            Kebahagiaan hidup para da'i terletak di hati, tidak akan dirasakan melainkan oleh orang-orang yang terliibat di dalamnya.

Hadirin, sidang jum’at yang  dirahmati Allah
            Da’wah memang tidak akan selesai oleh seorang da’i saja, tapi ada tidak peran kita di dalamnya karena da’wah memang seperti bola salju, dia akan bergulir kencang kebawah, semakin lama semakin membesar dan menggulung siapa saja, tapi ada tidak peran mubaligh di dalamnya yang selama ini sering tampil di mibar-mimbar  tapi melalaikan kaderisasi dalam da’wah, silahkan sibukkan diri dalam tabligh apa saja tapi jangan lupakan takwin yaitu pembinaan ummat walaupun hanya satu orang, Rasulullah bersabda,”Seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih baik  bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit hingga terbenam” .



بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ


Referensi;
1.Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
2.Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
3.Abduh Rabbany, Aktivis Harakah Dambaan Ummat, 1993  




KHUTBAH KE DUA

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدُ الْأَمِيْنُ. عِبَادَ اللهِ ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.