Rabu, 10 September 2014

133. Allah sebagai TuhanYang Esa




إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
أَمَّابَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah;
            Marilah kita bersyukur kepada Allah Swt, yang telah memberikan karunia dan rahmat-Nya kepada kita semua sehingga dapat menghadiri panggilan Allah pada siang ini yaitu melaksanakan shalat jum’at yang merupakan sebagian kecil kewajiban yang harus kita lakukan, shalawat dan salam tidak lupa kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Saw , selaku Rasul Allah yang telah berjuang untuk menyelamatkan hidup manusia di dunia ini  yang berpedomankan pada Al Qur’an dan Sunnahnya.

Kemudian marilah kita selalu meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah dengan melaksanakan ibadah rutin dari shalat satu ke shalat berikutnya, dari jum’at satu ke jum’at berikutnya dari ramadhan tahun lalu menuju ramadhan berikutnya, yang semua itu sebagai bekal hidup dan sebaik-baik bekal  hidup di dunia ini adalah taqwa.

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah;
Tak ada nama yang lebihbesar, dibandingnama Allah. Diamenciptakansegala.Diamengatursemua.Diamengawasiseluruhnya.
Dalam al Qur’an, kata Allah dalambanyakvariandisebutkandalamjumlah yang sangatbesar. Kata Allah disebutkansebanyak 2.698 dalamberbagaikonteks, peristiwadansifat-sifat-Nya.
Sebutlahnama Allah, makahatimenjaditenang. Ingatlahnama Allah, makasemuanyamenjaditerang. Dzikirkanselalu kata Allah, denganizin-Nya, takkanadapenghalang.
Nama Allah adalah kata yang merangkumiseluruhnama-Nya, segenapsifat-Nya danseluasmakna-Nya. Allah, takadanama yang sebesarini.
“Dan sungguhjika kami bertanyakepadamerekasiapakahpenciptalangitdanbumi?Niscayamerekaakanmenjawab Allah.” (QS. AzZumar: 38)
Rasulullahbahkanmengajarkanpadakitapelajaransangatdetilbagaimanadanbilawaktunyaseharusnyamenyebutnama Allah. “Apabilamalamtelahdatang (setelahmataharitenggelam), tahanlahanak-anak kalian, karenasetanbertebaranketikaitu.ApabilatelahberlalusesaatdariwaktuIsyalepaskanlah (biarkanlah) mereka.Tutuplahpintumudansebutlahnama Allah. Padamkanlahlampumudansebutlahnama Allah. Tutuplahperiukmudansebutlahnama Allah. Rapatkanlahkendiairmudansebutlahnama Allah.” (HR. Al-Bukharidan Muslim)
Sebutlah Allah. Kapansaja.Dimanasaja.Ingatlah Allah, dalamdiam, dalamgerak, saatsepi, saatramai. NiscayaDiaakanmenjagamu, melapangkanjalanmudanmemudahkanurusanmu, mendekatkan yang jauhdanmerapatkan yang dekat.
Allah itu ahad; maksudnya adalah Allah saja yang memiliki sifat, pekerjaan dan zat-Nya yang tidak sama dengan makhluk-Nya. Allah ahad atas sifatnya, hanya Dia saja yang mempunyai kesempurnaan sifat, Allah ahad atas pekerjaan-Nya adalah hanya Allah saja yang mampu berbuat demikian menurut kehendak-Nya dan Allah ahad dari segi zat-Nya, kejadian Allah tidak sama dengan kejadian makhluk demikian pula zat kejadian Allah tidak satupun makhluk berkewajiban untuk mengetahinya [Al Ikhlas 112;1-4].
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah;
            Tidak ada yang menyamainya; walaupun sifat dan pekerjaannya juga banyak dimiliki oleh hamba-Nya tapi segala sifat dan pekerjaan itu jauh berbeda dengan apa yang dikerjakan hamba-Nya,
 (Dia) Pencipta langit dan bumi. dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat [Asy Syura 42;11]

Allah ituTuhan bagi sekalian makhluk; semua makhluk yang ada di dunia ini Tuhannya adalah Allah walaupun tidak sedikit yang keliru mengambil tuhan, ada yang mengambil tuhan dari jenis jin, malaikat, manusia, batu, berhala serta apapun yang mereka ikuti dalam seluruh aturan yang dibuat manusia;
 (yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah Dia; dan dia adalah pemelihara segala sesuatu.[Al An’am 6;102]

Tidak ada tuhan selain Dia; sehingga segala sembahan yang diambil manusia adalah bathil yang mempermudah mereka untuk masuk neraka tanpa hisab, inilah yang disebut dengan syirik, segala pengabdian manusia harus ditujukan kepada Allah semata;

Sejak dahulu manusia berusaha mencari perlindungan yang dapat dijadikan sebagai Tuhan, ada yang mengambil berhala sebagai sembahannya, ada yang berupa batu besar, pohon kayu dan laut dijadikan sebagai Tuhannya, hal ini merupakan fithrah manusia. Manusia bagaimanapun adalah makhluk lemah yang membutuhkan tempat bersandar dan mencari kekuatan lain yang dianggapnya mampu memberi bantuan kepadanya sehingga tanpa ilmu mereka jadikan selain Allah sebagai Tuhannya.

            Bila tanpa bimbingan wahyu dari yang Maha Kuasa sungguh banyaklah manusia yang sesat jalan hidupnya, sedangkan wahyu dan para Nabi diturunkan untuk membimbing dan mengajak mereka untuk menyembah Allah masih juga terjadi penyelewengan.

            Penyelewengan itu terjadi dengan diambilnya selain Allah sebagai Tuhan, ada yang menjadikan hawa nafsu [25;43], patung-patung dan berhala [26;69-76], jin dan malaikat [34;40-41], nabi-nabi [3;79], thaghut dan orang-orang alim sebagai yang mereka sembah [9;31]. Inilah perjuangan para nabi untuk mengembalikan nilai-nilai tauhid yang telah tercemar; Nabi Musa harus berhadapan dengan Fir’aun yang telah menjadikan dirinya sebagai Tuhan, Nabi Nuh harus menerima pil pahit dengan tenggelamnya sebagian bahkan anaknya sendiri telah menjadikan yang lain sebagai Tuhannya, Nabi Luth merelakan isterinya untuk ditinggalkan karena keingkarannya kepada Allah, Nabi Ibrahim memerangi ayahandanya yang menyembah berhala dan sekaligus berseteu dengan Raja Namrudz, serta para nabi lainnya berupaya menunjuki ummatnya untuk menyembah dan menjadikan Allah saja sebagai Tuhan, tapi upaya itu banyak ditentang oleh kaumnya, ilmu dan pengetahuan serta aktivitas mereka telah bergelimang dengan nilai-nilai yang rendah yaitu syirik atau mensyerikatkan-Nya [25;2-3]
’’Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".[Lukman 31;13]

Dialah Tuhan yang wajib ditaati; ibadah saja tidak cukup tanpa diiringi dengan ketaatan, sebagaimana iblis adalah makhluk Allah yang sudah banyak ibadahnya serta hamba Allah yang senior, tapi akhirnya terlaknat dan dikutuk Allah karena ketaatannya kepada Allah tidak terujud,
”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya..”[4;59]

Firman Allah dalam surat Ibrahim 14;35,
dan berkata Ibrahim,” jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari pada menyembah berhala-berhala”

Arti ayat ini ialah sesungguhnya Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah supaya dia dan anak cucunya dijauhkan dari kesibukan terhadap apa saja yang dapat memalingkan beribadah kepada selain Allah, karena dia tahu bahwa amal perbuatan bagaimanapun baiknya kalau ditujukan kepada selain dari Allah maka amal itu masuk dalam kategori penyembahan berhala, Rasulullah bersabda,”Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kamu sekalian ialah syirik yang paling kecil”, ketika Nabi ditanya,”apa itu syirik kecil” Nabi menjawab,”Riya’” [HR.Ahmad]

Maka barangsiapa yang beramal atau berbuat sesuatu untuk mendapatkan pujian manusia atau supaya populer, maka lenyaplah nilai pahalanya itu, Muhammad Rasulullah karena belas kasihan dan rahmat-nya terhadap ummatnya, memperingatkan agar jangan sampai kita menyia-nyiakan pahala amal kita dengan riya’ dan sum’ah [pamer] itu.“Dari Ibnu Abbas Ra. Menyatakan bahwa Rasulullah Saw ketika mengutus Mu’adz ke Yaman bersabda,”Kamu akan mendatangi kaum ahli kitab. Maka pertama kali yang harus kamu da’wahkan kepada mereka adalah persaksikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, maka kalau mereka sudah taat kepadamu tentang ajakan itu,ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu sehari semalam. Kalau mereka sudah taat kepadamu tentang ajakan itu, maka ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shadaqah yang diambil dari orang kaya mereka untuk diberikan kepada orang fakir miskin. Kalau mereka elah taat kepadamu tentang ajakanmu itu, maka jagalah dan hindari harta benda mereka dan takutlah akan do’a orang yang teraniaya, sebab diantara dia dan allah tidak ada tabir penghalang” [HR.Bukhari dan Muslim]

Didalam sebuah shaheh Muslim dari Nabi saw, beliau bersabda,”Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dan ia mengkufuri semua penyembahan kepada selain Allah, maka haramlah hartanya dan darahnya dan perhitungannya nanti ada disisi Allah semata”

            Ucapan syahadat harus disertai dengan perbuatan amal yang meniadakan peribadatan kepada selain Allah dan menetapkan ibadah hanya karena Allah semata, sehingga haramlah harta dan darahnya di dunia ini. Adapun hasilnya nanti di akherat, kalau dia benar dan syahadatnya dinyatakan dengan perbuatan yang wajib, ia bisa mendapatkan karidhaan Allah. Kalau tidak, yah itu adalah terserah kepada Allah semata, sebab Allah Maha Mengetahui segala-galanya.

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa bermacam-macam ragam kemusyrikan telah menimpa ummat islam seluruhnya. Maka beliau bertindak mengembalikan mereka kepada aqidah yang selamat, bersendikan Kitabullah dan sunnah rasulnya.

            Abul A’la Al Maududi berpendapat,”Adapun yang patut dianggap sebagai Tuhan ; yang menduduki singgasana kekuasaan yang mutlak atas seluruh alam semesta, langit, bumi serta seluruh isinya. Yang demikian ini hanyalah Allah swt. Padanya tergantung seluruh kebutuhan makhluk. Maka adalah palsu prediket ketuhanan bagi sesuatu yang tidak mutlak kekuasaannya dan tidak tergantung padanya  kebutuhan-kebutuhan seluruh makhluk. Malah justru bertentangan dengan logika kenyataan.

            Ketika seseorang mengakui Allah sebagai Tuhannya maka dia dituntut untuk merealisasikan nilai-nilai tauhid yang telah diucapkan, sehingga menjadi penganut islam yang baik dalam arti kata kualitasnya “kaffah” yaitu islam yang menyeluruh keyakinan yang integral [Al Baqarah 2;208]
”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.

            Menjadi orang yang beragama islam yang baik hanya mungkin, bila manusia mempunyai keyakinan yang benar terhadap Allah, karena Allahlah sumber hukum yang tertinggi. Tanpa keyakinan kepada Allah, maka manusia tidak diwajibkan untuk mengerjakan segala macam ibadah kepada-Nya.

Allah memerintahkan kepada manusia agar mereka menggunakan fikiran dan mengerti peristiwa yang terjadi untuk diambil maknanya. Di angkasa raya dengan kebesaran penciptanya berjuta-juta bintang bertaburan memberi warna indahnya langit, pergantian musim dan cuaca, gumpalan awan yang membawa hujan, sungai yang mengaliri air,
”Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang” [Ash Shaffat 37;6].

            Jangankan kita menyaksikan alam raya ini keluar dari orbit bumi, sedangkan di bumi saja dikala malam langit cerah, bintang-bintang bertebaran dihiasi bulan dengan cahayanya memantul ke bumi, hati orang mukmin jadi tunduk, merendah menerima kebesaran Ilahi. Ketika hujan lebat di tengah malam yang pekat disertai badai yang kuat, dingin pula, gelegar kilat yang menyambar tak terlintaskan di dalam hati manusia sedikit saja rasa takut, mohon perlindungan kepada-Nya ?
”Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung, dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilinar lalu mengenai  siapa saja yang dikehendaki-Nya” [Ar Ra’ad 13; 12-13].

            Kebesaran Allah tak ditemui tandingannya dan hal ini diakui dengan kerendahan hati oleh orang-orang yang beriman yang mau mengetuk hatinya untuk membacakan segala peristiwa dari alam ini, sejak dari biji yang  tak berdaya, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia yang dihidupkan serta dimatikan dengan kekuasaan-Nya,

”Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir-butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup” [Al An’am 6;95]

            Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari ciptaan Allah, lautan dengan segala kekayaannya, binatang serangga dengan berbagai jenisnya, tumbuh-tumbuhan dengan corak warnanya sampai kepada diri manusia iu sendiri,
”Dari pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran di muka bumi, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk kaum yang meyakini”[Al Jatsiyah 45; 4].

            Bagaimana awal mula diciptakan manusia yang berasal dari air mani dengan segala proses kejadiannya,
”Allah yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai pencitaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina [air mani]” [As Sajadah 32; 7-8].
Alangkah indahnya dunia ini dengan aturannya yang rapi, susunan tubuh manusia, mata bening laksana kaca menghias wajahnya, otak sebagai kendali kesadaran manusiapun teraur indah sehingga manusia itu mulia dari makhluk yang lainnya. Pantaskah manusia berlaku sombong kepada penciptanya, berlagak angkuh dan takabur sementara begitu banyak nikmat Allah direguknya dalam  hidup ini.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ
1.      Al Qur’an danterjemahannya, Depag RI
2.      HerrynurdiAsma Al Husna : Allahu,Cybersabili, Selasa, 13 April 2010 06:47

3.      MukhlisDenros, Kumpulan CeramahPraktis, 2009

132. Mewaspadai Tipu Daya Musuh


Khutbah Jum'at
Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Al Munawwarah
Jorong Sungai Lasi Nagari Pianggu
Kecamatan IX Koto Sungai Lasi
Kabupaten Solok Sumatera Barat

Tanggal 12 September   2014.M /17 Zulqaidah 1435.H


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Jama’ah shalat jum’at yang berbahagia,
Bertakwalah kepada Allah. ketahuilah, sejak dahulu hingga sekarang, sesungguhnya musuh-musuh Islam selalu berniat melenyapkan Islam dan kaum muslimin. Mereka melakukannya dengan berbagai cara. Allah meminta kita agar waspada terhadap makar-makar mereka. Allah ‘Azz wa Jalla berfirman,

وَدُّواْ لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَاء
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)…” (QS. an-Nisa’: 89)

Namun atas izin Allah, upaya mereka selalu gagal. Allah ‘Azz wa Jalla telah memupus rencana jahat mereka, sehingga Islam tetap eksis.

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“Mareka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.” (QS. at-Taubah:32)

Ketika mereka merasa lemah menghadapi kaum Muslimin dengan peperangan, maka musuh-musuh itu mencoba mencari cara lain. Yaitu dengan menyebarkan propaganda-propaganda pemikiran-pemikiran yang merusak dan menyesatkan ke berbagai penjuru. Mereka melakukannya dengan tipu daya.

Di antaranya, mereka menyebarkan pemikiran bathil, seperti anggapan bahwa semua agama adalah sama. Musuh-musuh Islam berpropaganda bahwa agama Yahudi, Nashrani dan Islam adalah agama wahyu. Sehingga di antara pemeluknya harus saling bersaudara, dan saling kasih-mengasihi.
Secara sepintas, pemikiran ini nampak bisa dibenarkan. Akan tetapi, jika dicermati, di balik pemikiran itu ada tujuan yang sangat menyesatkan. Yakni melenyapkan hakikat agama Islam, tidak mengakui Islam sebagai agama penutup dan penghapus agama-agama sebelumnya. Padahal tidak ada agama yang sah untuk diikuti di akhir zaman ini kecuali Islam. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. ali ‘ImRan: 85)

Jama’ah shalat jum’at yang berbahagia,
Demikianlah, Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad ini sebagai penutup sekaligus penghapus agama-agama sebelumnya. Jika kenyataan pada saat ini, agama-agama selain Islam itu masih ada sampai sekarang, misalnya Yahudi dan Nashrani, maka sebenarnya agama itu sudah tidak murni lagi sebagaimana saat diturunkannya pertama kali. Agama Yahudi dan Nashrani sudah mengalami perubahan dan penyelewengan. Agama itu sudah tidak terpakai lagi dan sudah digantikan oleh Islam. Sehingga hukum orang yang tidak mengikuti ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berarti ia kufur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يَسْمَعُ بِى يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ لاَ يُؤْمِنُ بِالَّذِى جِئْتُ بِهِ إِلاَّ دَخَلَ النَّارَ
“Tidak ada seorangpun dari Yahudi maupun Nashrani yang telah mendengar kabar tentang aku, kemudian ia tidak beriman terhadap yang aku dakwahkan, kecuali ia akan masuk neraka.”

Sebaliknya, bagi mereka yang ikhlas mau mengikuti Nabi Muhammad, maka Allah menjanjikan untuk mereka kebahagian dan keselamatan. Allah subnahu wata’ala berfirman,

“ (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan  mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. al-A’raf:157)

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Termasuk di antara makar dan tipu daya mereka, yaitu tentang HAM (Hak Asasi Manusia). Padahal, Islam sendiri, sebenarnya lebih dahulu melindungi hak asasi manusia dan bukan agama yang lain. Allah yang menciptakan manusia, maka Allah jugalah yang akan melindungi hak asasi itu, dengan syarat, seseorang itu mau beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Rasul-Nya.

Allah mensyari’atkan hukuman mati bagi seseorang yang keluar dari Islam. Hukuman ini, ialah upaya kongkrit dalam melindungi hak asasi manusia; hak yang paling esensi, yaitu keyakinan dan kepercayaan yang dimiliki seorang muslim. Adakah hak asasi yang lebih berharga dari sebuah keyakinan dan kepercayaan?
Allah mensyariatkan hukuman mati untuk seorang pembunuh karena perbuatan zhalimnya, maka hukuman ini bertujuan untuk menjaga nyawa manusia yang lain.

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa.” (QS. al-Baqarah:179)

Allah juga mensyariatkan rajam maupun cambuk bagi pezina, hukum mati bagi pelaku homo; semua itu untuk melindungi kehormatan dan harga diri manusia. Hukum potong tangan bagi pencuri untuk melindungi harta. Hukuman bagi pecandu narkoba, untuk melindungi akal, dan demikian seterusnya. Tapi musuh-musuh Islam membalikkan fakta, mereka menuduh orang-orang yang berpegang teguh dengan syariat Islam sebagai teroris yang membahayakan dan harus dimusuhi, dilenyapkan, bahkan tidak punya lagi hak asasi yang harus dilindungi.

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Propaganda musuh-musuh Islam yang lainnya, yaitu emansipasi atau kebebasan bagi kaum wanita. Kebebasan keluar rumah dengan membuka aurat, bekerja di luar rumah tanpa ada kebutuhan yang diperbolehkan syariat, sehingga anak-anaknya ditelantarkan, tanggung jawab sebagai istri dan ibu rumah tangga diabaikan.
            Menurut mereka, kebebasan inilah sebagai hak-hak wanita yang harus dilindungi. Di balik itu semua, tujuan mereka yang sebenarnya ialah ingin merendahkan wanita, merusak akhlak, agama dan jasad mereka. Wanita dijadikan sebagai komoditi perdagangan yang tidak ada harganya, tempat pelampiasan hawa nafsu belaka.
Propaganda menyesatkan ini, sangat berbeda dengan pandangan Islam. Agama Islam sangat menjaga kehormatan dan harga diri seorang wanita. Dia tidak dibolehkan keluar rumah tanpa ada tujuan yang jelas dan syar’i. Wanita dalam Islam hidup penuh dengan kemuliaan, terjaga; hidup sebagai seorang ibu, hidup sebagai seorang istri, hidup sebagai saudari, dan sebagai kerabat; ia sangat dimuliakan. Dia bertanggung jawab terhadap rumah, menjaga amanah terhadap harta dan rahasia maupun kehormatan suami.

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ
“…maka Wanita yang saleh, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka…” (QS. an-Nisa’ : 34)

Jama’ah shalat Jum’at yang mulia,
Dengan gencarnya, musuh-musuh Islam melancarkan propaganda. Mereka memanfaatkan berbagai media informasi, baik cetak maupun elektronik. Dengan sarana ini, mereka menyebarkan bermacam bentuk kekufuran, dan kemaksiatan, mempertontonkan aurat dan pergaulan bebas. Ini semua sudah menjadi sajian yang setiap saat disaksikan semua orang dari berbagai kalangan umur, hingga seakan-akan rumah itu menjadi pasar tempat menjajakan perbuatan syirik, kriminalitas, kekejaman, kekejian, perbuatan cabul, dan semua bentuk kemaksiatan.
Dengan gigihnya, musuh-musuh Islam juga berusaha menyebarkan ke tengah-tengah kaum muslimin, khususnya kaum mudanya berupa obat-obat terlarang. Mereka rela mengalami kerugian jutaan dolar, bahkan miliyaran, asalkan narkoba itu sampai di tangan generasi muda muslim. Tujuan utamanya ialah menghancurkan kekuatan dan keimanan kaum muda Islam. Maka, seharusnya kita menyadari semua itu. Dan bersabarlah dalam menjalankan agama Islam ini. Peganglah kuat-kuat syariat-syariatnya, dan tetaplah bertakwa kepada Allah.
وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئاً إِنَّ اللّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
“…Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS.Ali ‘Imran:120)

Jama’ah shalat Jum’at yang dimuliakan,
Dalam menghadapi tipu daya musuh, justru yang dikhawatirkan ialah kaum muslimin itur. Mereka akan mendapatkan dampak negative, disebabkan syubhat-syubhat yang dihujamkan ke dada kaum Muslimin, sehingga menjadi penyebab tercabutnya Islam dan keimanan dari rumah-rumah kita.

Oleh karena itu, waspadalah kita terhadap bahaya musuh-musuh Allah. Ketahuilah, hidup kita pada zaman ini tidak luput dari bahaya tersebut. Penampilan musuh-musuh Allah bisa saja menampakkan perbuatan shalih dan jujur, bahkan mereka bisa saja bekerja sama denga kita. Meski demikian, kita jangan sampai  terpedaya dengan penampilan mereka yang kelihatan indah dan menarik, Karena dibalik semua itu adalah kebathilan.

[Waspadai Tipu Daya Musuh, Majalah as-Sunnah, Solo. Edisi 02/XII/Jumadal Ula 1429H/Mei 2008M]
.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.





131. Syirik kecil adalah dosa besar

Khutbah Jum'at
Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Babus Salam
Jorong Pianggu Nagari Pianggu
Kecamatan  IX Koto Sungai Lasi
Kabupaten Solok Sumatera Barat

Tanggal 03 Zulqaidah   1435.H / 29 Agustus  2014.M


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

أَمَّابَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ
 فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا


Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at yang Dirahmati Allah!

Sudah kita maklumi bersama bahwasanya tidaklah Allah mengutus seorang rasul kecuali Dia memerintahkan rasul tersebut agar mengajak kaumnya kepada tauhid, yakni memurnikan ibadah dan penyembahan hanya kepada Allah semata.Perintah untuk bertauhid ini secara otomatis mengandung konsekuensi logis berupa larangan keras dari berbuat syirik atau menyekutukan Allah dengan selainNya.Oleh karena itu hadirin sekalian, seluruh ulama sepa-kat bahwa tidak ada amalan yang paling utama melebihi tauhid dan tidak ada dosa paling besar yang melebihi syirik.

Syirik merupakan dosa terbesar di antara dosa-dosa besar, merupakan amal perbuatan yang terburuk, kezhaliman yang paling besar, dan syirik akbar yang akan menjadi sebab hancurnya seluruh amalan seseorang. Begitu banyak ayat-ayat dalam al-Qur`an yang menggambarkan kepada kita tentang buruknya perilaku syirik ini. Di antaranya adalah ayat yang menjelaskan kepada kita bahwa syirik merupakan dosa yang tidak terampuni, sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya." (An-Nisa`: 48).

Lalu Allah juga menjelaskan kepada kita semua, bahwa orang yang berbuat syirik berarti dia berada dalam kesesatan yang sangat jauh. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا
"Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (An-Nisa`: 116).

Dan yang lebih mengerikan lagi, hadirin sekalian! Allah Subhanahu Wata'ala telah memvonis haram masuk surga bagi para pelaku kesyirikan. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَالِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun." (Al-Ma`idah: 72).

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Setelah kita memperhatikan penjelasan ayat-ayat di atas, maka sepantasnyalah kita semua selalu waspada dan berhati-hati dari perbuatan syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil. Syirik besar insya Allah mayoritas kita kaum Muslimin sudah maklum, seperti meminta dan berdoa kepada selain Allah, meyakini ada pencipta dan pemelihara alam selain Allah, berkeyakinan bahwa selain Allah ada yang berhak diibadahi, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Namun jama'ah sekalian, syirik kecil terkadang lepas dari perhatian kita, atau minimalnya kita kurang memberikan perhatian sesuai dengan porsinya dalam masalah ini.Sehingga kalau kita mengamati di sekeliling kita, ternyata masih ada saja sebagian saudara-saudara kita kaum Muslimin yang terjebak dalam syirik kecil tanpa mereka sadari.Padahal syirik kecil ini merupakan salah satu hal yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam dan dapat menjadi wasilah atau perantara kepada syirik besar.

Jama'ah yang dirahmati Allah!
Walaupun syirik kecil ini tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam dan tidak menyebabkan kekal di neraka, tetapi ia merupakan kaba`ir atau dosa besar. Penamaan sebagai syirik kecil di sini hanyalah untuk membedakan jenis syirik saja, bukan merupakan penggolongan sebagai dosa kecil.Jadi sekali lagi perlu kita perhatikan dan kita tekankan melalui mimbar ini, bahwa syirik kecil adalah termasuk salah satu dosa besar, bukan dosa kecil. Al-Imam adz-Dzahabi rahimhullah di dalam kitabnya al-Kaba`ir telah menghimpun kurang lebih 70 an jenis dosa besar. Dan beliau telah menempatkan syirik di dalam kitab tersebut pada urutan yang pertama, dan masuk di dalamnya adalah syirik kecil.Oleh karena itu tidak ada alasan bagi kita semua untuk bodoh dari syirik kecil ini, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memberikan perhatian terhadap masalah ini.

Selanjutnya Ma'asyiral Muslimin! Melalui mimbar ini khatib akan menyebutkan beberapa contoh syirik kecil yang mungkin masih banyak terjadi di tengah-tengah kita. Dengan harapan agar menjadi tambahan ilmu bagi kita yang belum mengetahui, akan menjadi pengingat bagi kita yang lupa, dan memperkuat ingatan bagi kita yang telah mengetahuinya.

Di antara contoh bentuk syirik kecil adalah riya` dalam beribadah, yaitu seseorang melakukan suatu ibadah atau bentuk pendekatan diri kepada Allah namun di samping itu dia bertujuan agar dilihat atau dipuji oleh sesama manusia.Ini merupakan bentuk syirik yang tersembuyi (syirik khafi) yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam menimpa para sahabat beliau. Bila para sahabat masih dikhawatirkan akan tertimpa hal ini, maka bagaimanakah lagi dengan kita semua yang sangat jauh keimanannya dibandingkan mereka. Sungguh kita harus sangat lebih takut jika hal ini menimpa kita semua.Di antara caranya adalah dengan banyak berlindung kepada Allah dari syirik, baik syirik yang kita ketahui maupun yang tidak kita sadari. Lalu kita harus senantiasa memperbaiki niat dan keikhlasan kita dalam setiap amal perbuatan yang kita lakukan, kita sadari penuh bahwa hanya Allah-lah yang paling berhak mendapatkan segala bentuk peribadatan, sedangkan manusia sama sekali tidak berhak, mereka semua sama sebagai hamba di hadapan Allah, maka janganlah sekali-kali kita mencari muka dan pujian di hadapan manusia dalam ibadah yang kita lakukan.

Di antara bentuk syirik kecil yang lain adalah bersumpah dengan menyebut selain Allah. Berkenaan dengan ini, maka telah terdapat hadits Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam yang sangat jelas memberitahukan kepada kita bahwa hal itu termasuk kekufuran atau kesyirikan. Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :

مَنْ حَلَفَ بِغَيِر الله فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ.
"Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka sungguh dia telah kafir atau telah syirik." (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Kemudian contoh lain dari syirik kecil yaitu ucapan, "Atas kehendak Allah dan kehendak anda (kehendak Fulan)," atau ucapan, "Kalau bukan karena Allah dan fulan," "Ini adalah berkat pertolongan Allah dan fulan," serta ucapan-ucapan semisal itu, yang intinya ada semacam pensejajaran antara Allah dan manusia. Ucapan semacam ini adalah ucapan syirik, oleh karena itu harus diluruskan.Yang benar dari ucapan di atas adalah, "Atas kehendak Allah kemudian kehendak anda."Atau, "Kalau bukan karena Allah kemudian karena anda," atau, "Berkat pertolongan Allah kemudian per-tolongan anda" demikian seterusnya. Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam telah bersabda :

لاَ تَقُوْلُوْا مَا شَاءَ الله ُ وَشَاءَ فُلاَنٌ ولكن قُوْلُوْا مَا شَاءَ الله ُ ثُمَّ شَاءَ فُلاَنٌ.
"Janganlah kalian semua mengucapkan, 'Atas kehendak Allah dan kehendak Fulan', tetapi katakanlah, 'Atas kehendak Allah kemudian atas kehendak Fulan'."(HR. Ahmad dan Abu Dawud, dan merupakan hadits shahih).

Dengan ucapan ini, maka kita terhindar dari kesyirikan dan sekaligus kita tidak lupa mengucapkan terima kasih atas jasa atau bantuan yang diberikan oleh orang lain kepada kita, sehingga dua tujuan dapat tercapai sekaligus.

Contoh lain dari syirik kecil adalah tathayyur, yaitu merasa sial atau naas karena melihat jenis burung tertentu, dan termasuk juga binatang lain secara umum, merasa sial dengan angka tertentu, hari dan tanggal tertentu, dan lain sebagainya. Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam telah bersabda, dari Ibnu Mas'ud secara marfu' :

اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلَّا, ولكن الله عَزَّ وَجَلَّ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.
"Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik. Dan tidak ada seorang pun dari kita, kecuali (terbersit dalam dirinya sesuatu dari hal itu), akan tetapi Allah ‘'Azza Wajalla menghilangkannya dengan tawakal." (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan ia menyatakan shahih dan menjadikan perkataan yang akhir adalah perkataan Ibnu Mas'ud).

Demikian juga Ma'asyiral Muslimin, termasuk syirik kecil yaitu memakaikan gelang dari benang dan lainnya kepada anak-anak dengan tujuan untuk menolak bahaya atau bala, memakai dan menggantungkan jimat tertentu untuk mencegah pengaruh ain, untuk mendatangkan keberuntungan dan yang semisal dengan ini semua.Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan bentuk kesyirikan kepada Allah karena mengotori tawakal kita, mencemari tauhid kita kepada Allah. Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam telah bersabda tentang orang yang memakai jimat :

مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ.
"Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka dia telah syirik." (HR. Ahmad, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah,).

Satu hal yang patut untuk digaris bawahi dalam masalah jimat ini adalah bahwa ia termasuk dalam kategori syirik kecil, jika pema-kainya berkeyakinan bahwa jimat tersebut hanya merupakan sebab atau sarana saja. Adapun jika dia menggantungkan diri secara mut-lak dan berkeyakinan bahwa jimat tersebutlah yang dapat memberi-kan perlindungan dengan sendirinya, maka pemakainya telah terjerumus dalam syirik akbar, na'udzubillah min dzalik.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah!

Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu pernah berkata, "Seorang mukmin melihat suatu dosa seakan-akan dia duduk di bawah gunung dan takut jika gunung itu menimpanya." Demikianlah selayaknya kita menyikapi dosa, janganlah kita melihat besar kecilnya dosa, jangan kita memandang apakah ini syirik besar atau syirik kecil, tetapi lihatlah kepada siapa kita sedang bermaksiat.

Dengan kesadaran seperti ini, maka insya Allah kita akan senantiasa waspada dan berhati-hati, senantiasa merasa dalam pengawasan Allah Subhanahu Wata'ala sehingga akan hilang dari diri kita sikap meremehkan dosa, yang mana ini merupakan indikasi seorang fajir, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas'ud dalam kelanjutan ucapan beliau di atas. Beliau mengatakan, "Adapun orang fajir, maka ia memandang dosa bagaikan lalat yang hinggap di hidungnya lalu beliau berisyarat "begini", yakni menggerakkan tangannya di depan hidung untuk mengusir lalat. Ini merupakan isyarat bahwa ia meremehkan dosa sebagaimana ia meremehkan seekor lalat yang terbang di hadapan hidungnya.

Kita memohon kepada Allah agar Dia menjadikan kita semua sebagai hamba-hambaNya yang bertakwa, yang selalu memelihara diri dari dosa, lebih-lebih dosa syirik baik besar maupun kecil.
[Kholif Mutaqin Djawari, Syirik kecil adalah dosa besar, Artikel Khutbah Jum'at : Rabu, 10 Maret 10, Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta. Diposting oleh Wandy Hazar S.Pd.I].


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِي


KHUTBAH KEDUA


اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدُ الْأَمِيْنُ. عِبَادَ اللهِ ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.